Kalender
Januari 2021
MSSR KJS
     12
3456789
10111213141516
1718 1920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

MEMBELI PEDULI INSANI

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 12-Jan-2021 | Dibaca : 9 Kali

 MEMBELI PEDULI INSANI

Siapa yang pernah mengantisipasi akan hadirnya virus ganas yang menyergap dan menganiaya siapapun di nusantara sejak Maret tahun 2020 ini? COVID 19. Jelasnya di Indonesia, tidak satupun. Telah hadirpun tidak juga dipercaya. Tidak percaya tetapi kok banyak yang perlaya? Meski dicerca jutaan orang karena ketidakberdayaannya, banyak juga yang bersyukur ada COVID 19. Entah apa tujuannya, mendadak menjamur aktivitas daring yang semakin membuat COVID 19, demikian tenar. Jauh lebih tenar dari pembunuh berantai. Semakin dibicarakan, COVID 19 seolah kian buas. Webinar berkibar-kibar, semua model media berbinar-binar mewartakan COVID 19, korban sekaligus mentenarkan para oratornya. Alih-alih masyarakat mengerti malah menjadi tidak patuh lalu menuduh adanya konspirasi. Ah sudahlah!

Pusaran informasi lalu beralih ke nasib petani dan komunitas yang kehilangan pekerjaannya. Kembali teknologi informasi dijagokan bisa membereskan semua soal akibat COVID 19. Benarkah? Petani on-line. Posisi banyak petani itu di lereng-lereng, dusun terpencil. Sukar dijangkau bahkan dengan ponsel sekalipun. Kalaupun tersentuh petani bisa mencatat pesanan. Masalahnya, bagaimana mendistribusikan ke pemesan yang tersebar di penjuru kota? Berapa besar volume pemesanan yang akan dilayani dibandingkan dengan kapasitas produksi lahannya? Seringkali tidak sebanding, bahkan impaspun tidak.

Prinsip dagang ada harga ada rupa. Begitu posisi tawar para pedagang sehingga tidak berkenan menjual barang dagangannya dengan harga murah. Jenis pedagang bisa beraneka rupanya. Ada pedagang yang juga produsen. Artinya dia yang memproduksi, dia juga yang menjualnya. Ada pedagang yang hanya menjualkan produk orang lain. Ada pedagang yang mengambil barang dagangannya langsung dari para produsen, mengumpulkan kemudian menjualnya. Masih banyak lagi macam ragam para pedagang itu. Bagaimana halnya dengan konsumen? Di Indonesia seolah tumbuh anggapan bahwa konsumen adalah orang kaya (membeli karena merasa punya uang) sedangkan penjual adalah orang miskin (menjual karena merasa tidak punya uang). Adanya delta asumsi ini membuat perasaan saling membutuhkan tidak pernah tumbuh. Apa bukan karena ingin berbagi lalu orang membeli atau menjual? Kalau tadi pedagang punya prinsip ada harga ada rupa, maka pembeli punya kiat lain lagi. Membeli karena butuh atau karena murah. Pernahkah para konsumen ini membayangkan kehidupan manusia yang pikiran dan anggota tubuhnya dibebani kewajiban memproduksi? Dengan begitu, mereka tidak membeli sekedar karena membutuhkannya akan tetapi lebih dari itu, sebab mereka peduli pada kehidupan para produsen berbagai strata sosial itu. Apalagi di era pendemi Covid-19 ini. Pemerintah memang perduli dengan memberi para produsen mikro modal rata-rata Rp 2 juta,-. Tepatkah? Benarkah dengan teknologi informasi melalui media sosial pemasaran mereka meningkat secara signifikan? Kalau mereka berdomisili di perkotaan, bisa jadi banyak benarnya. Akan tetapi untuk mereka yang lokasi produksinya di perdesaan-modus on line-bukan jawabannya.

Semua orang sudah tahu prinsip sebuah usaha. Kuncinya adalah pasar. Tetapi tidak semua orang mau menjadi bagian dari pasar itu sendiri. Pasar eksis dengan berbagai skalanya. Sejatinya tempat berjual-beli adalah pasar. Jadi pasar bisa eksis dimana saja, khusunya jika situasi dan kondisinya mendukung, di mana saja termasuk di kampus. Bisa lokalan di dekat lokasi produsen, bisa juga nasional atau bahkan global. Belakangan ini pasar tidak hanya yang kasat mata dimana pembeli dan penjual bertatap muka akan tetapi sudah bersifat virtual, niskala dengan omzet yang tidak kalah besarnya. Mari kita berkaca sejenak atau bahkan dua jenak. Komunitas manakah yang terdampak pandemi Covid 19 terkait pada penghasilan bulanannya? Pembelikah atau penjualkah? Kalau kita para dosen dan juga ASN ini menengok buku tabungan kita, berapa besarkah susutnya jika dibandingkan para produsen dan penjual yang namanya umkm itu? Dosen dan ASN bekerja nyaman di rumahnya masing-masing, tidak perlu ngantor tetapi gajinya tidak berkurang satu sen pun. Alhamdulillah. Tetapi adakah kepeduliannya akan himpitan kehidupan yang dirasakan para penggerak umkm itu?

Jargonnya pasti bikin portal, sebarluaskan via media sosial, pasti laris hehehe. Lupa bahwa berminat tidaknya orang akan produk umkm tergantung kepada si pemilik android, si pembaca yang level literasinya sudah sangat tinggi. Pihak yang dihubungi alih-alih segera terinspirasi untuk membeli karena insyaf bahwa orang yang menawarkan produk ini pasti memerlukan bantuan ekonomi, malahan membagikannya lagi melalui wag. Hasilnya? NIHIL hehehe. Apa ada yang salah dengan tri darma perguruan tinggi yang suka tidak suka, langsung tidak langsung membentuk karakter egois dan tidak berempati dosen pada masyarakatnya? Tidak banyak dosen yang spontan membeli tetapi masih terlalu banyak yang bermuram durja menerima penawaran produk. Sebab sudah terbiasa menerima tawaran yang menjanjikan tambahan penghasilan bukan malah menguranginya. Bukankah sudah juga menjadi dalil bahwa semakin banyak kita memberi insyaallah akan semakin banyak kita menerima? Lalu mengapa harus menunda membeli karena produk rakyat dijual sedikit lebih mahal? Bagaimana kita bisa mengubah mindset orang lain kalau kita sendiri tidak mampu menindas bahkan mengubah mindset kita sendiri? Bahwa kita membeli karena peduli insani.

Membantu memancarderaskan pemasaran produk umkm tentu tidak hanya dengan cara menjualnya lokalan. Seringkali bisa menjangkau skala nasional bahkan global seperti disinggung sebelumnya. Tetapi meluasnya skala pemasaran lebih menindas keinginan untuk membeli. Banyak pihak yang ingin membantu menjaga atau bahkan meningkatkan skala pemasaran umkm, mengurungkan niatnya setelah menyadari ONGKIRnya melebihi harga produk sekilo atau dua kilo yang dikehendakinya. Kalau saja pemerintah bersama pihak swasta besar bisa membantu menekan biaya ongkir atau mungkin mensubsidinya dengan dana CSR untuk memungkinkan terjadinya perluasan pasar sekaligus meningkatkan skala produksi umkm, situasinya bisa jadi lain.

Tergugahnya nurani dosen dan ASN akan kemampuan mereka untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat yang produktif dan kesediaan pemerintah dan/atau swasta mensubsidi ONGKIR produk untuk meningkatkan skala pasar dan produksinya insyaallah akan mampu membantu para umkm baik di perkotaan-perdesaan bahkan perdusunan untuk tetap eksis bahkan berkembang.

 

12 Januari 2021,

Cidamar Permai Kav. No. 3;

Jalan Gunung Batu Dalam; Cimindi-Cimahi