Kalender
Juli 2020
MSSR KJS
   1234
567 891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

TELAGA CINTA (bagian 1)

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 01-May-2020 | Dibaca : 85 Kali

 TELAGA CINTA

Senja hari di KEM Banae, TTU 24 Februari 2019

Kemunculan Kawasan Ekonomi Masyarakat, KEM PERTAMINAFLip pada tahun 2014 di 32 lokasi terpencil yang terserak di 20 propinsi NKRI sudah saatnya direview. Bukan hanya sekedar untuk mengetahui eksistensi terkininya tetapi juga sekaligus meng­evaluasi kecocokan strategi pemberdayaan masyarakat miskin di daratan tandus/ terbengkalai/tersudut dan dengan segala TER-nya itu. Adakah yang salah?

Usia KEM kini 5 tahun, meski begitu tidak ada lagi tulisan atau bincang2 flipmas wilayah tentang karyanya sendiri. Bisa jadi karena sudah tidak lagi peduli pada nasib karya dan warga KEM, peduli tetapi terkendala ketiadaan dana atau enggan bertemu warga yang pernah bersama untuk belajar menghormati semesta tetapi gagal tersebab ketamakan? Kegagalan sekelompok dosen dalam membangun dan mengembangkan KEM bisa jadi karena strategi KEM dikerjakan seperti halnya melaksanakan proyek PPM Dikti. Selesai proyek maka selanjutnya adalah urusan warga. Bagi kebanyakan dosen yang bergabung dalam flipmas wilayah, pengalaman menjadi pelaksana PPM Dikti ternyata tidak menjamin keberhasilannya di lapangan. Sebab benchmarknya berbeda. PPM Dikti cukup menuntut pekerjaan selesai dikerjakan, tanpa peduli pada keber­lanjut­an hasil atau dampak pekerjaannya. Esok tahunnya kembali diberkati proyek PPM dan dikerjakan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak pernah merasa ada yang keliru! Tetapi, bagi mereka yang menyimak sumbangnya nyanyian kawasan, maka kekeliruan itu akan dirasakan nalurinya kemudian belajar memperbaikinya, mematang­kan pemahamannya akan PPM. Tetapi kebanyakan dosen tidak peduli. Auditorpun setali tiga uang, tidak peduli akan dampak kegiatan di masyarakat. TOR KEM menuntut kewaskitaan akan adanya tali temali hubungan niskala antar program, manusia dan kawasannya. Jika ini tidak terbaca, maka KEM akan berkualitas sama seperti karya PPM Dikti. Candi tanpa ruh. KEM yang sepi aktivitas warga.

KEM Gumantar di Lombok Utara, yang dibangun pak Syauqi cs dari FW Sasambo kini sudah aktif berproduksi kembali setelah diNOLkan gempa. Bahkan luasan KEM Gumantar saat ini sudah meluas meliputi 20 hektar lahan baru yang sebelumnya gersang tidak produktif. Ini contoh KEM yang dikerjakan secara benar. Spirit kehidup­an warga KEM dan kemahirannya bertani sudah terbentuk. TUR KEM 23-28 Februari 2019 memberi ilustrasi berharga bahwa 2 di antara 8 KEM Timor masih sempat di­kunjungi lagi pasca kerjasama dengan PT Pertamina usai. Sisanya dipantau melalui ponsel. KEM Nunmafo di TTU menunjukkan karakter yang serupa dengan KEM Gumantar. Ketua Kelompoknya Alloysius Uskono kini diangkat Lembaga HAM Inter­nasional menjadi pelatih kelompok tani di 24 kecamatan TTU dan KEM Nunmafo menjadi training centernya. Keberhasilan pak Zainal Arifin dalam membangun KEM Nunmafo menjadi semakin terasa sebab pihak eksternal Bupati Kupang dan inter­nasional bahkan sudah mengapresiasinya. Bulan Maret 2019 ini, pak Alloysius di­undang ke USA untuk berbicara di forum PBB berkisah tentang upayanya memberdaya­kan masyarakat di Nunmafo. Pada ujung jari telunjuk beliaulah kini terletak kawasan mana di TTU yang layak untuk diberdayakan. Pak Alloy tetap berpegang teguh pada pola pemberdayaan FLipMAS dan Pertamina sampai kapanpun. Pertanyaannya lalu, adakah tradisi Pertamina memberi penghargaan kepada pak Alloy atau Ketua Kelompok KEM lainnya yang berhasil merefleksikan kemanfaatan dana bantuan PT Pertamina? Secarik piagam penghargaan sudah sangat berarti buat mereka!

TOR KEM

Sebelum mereview pelaksanaan TOR KEM di lapangan, lebih fair tentunya jika TOR itu sendiripun dievaluasi. TOR KEM sejatinya berasal dari pengembangan program Unit-UJI, Unit Usaha Jasa dan Industri. Nama program ini berubah pada tahun 2009 menjadi IbIKK, Iptek bagi Inovasi dan Kreativitas Kampus. Inti program adalah para dosen pelaksana wajib memproduksi apakah itu jasa layanan ataukah produk. Pak Zainal fokus pada produk pertanian, yaitu buah2an dan hortikultura dan selanjutnya fungsi produksi diperluas dengan menerima cantrik2 di kebunnya sehingga berfungsi ganda, ya produksi plus training center. Prototipe inilah yang diterapkannya saat melaksana­kan program MP3D juga di wilayah Nunmafo dan memicu target besar Pertamina untuk menerapkannya di seluruh wilayah NKRI. Persoalannya adalah karya yang memikat hati dan pikiran pak Wahyu Suswinto juga pak Gatot Siswowijono belum ada

Alloysius Uskono dan SNS 24/02/2019

templet­nya. Walhasil FI ditantang merumuskannya dalam bentuk TOR sehingga bisa diper­debat­kan dan hasilnya menjadi acuan semua FLipMAS WILAYAH yang ditunjuk sebagai pelaksana KEM nantinya. Pak Adi Sutanto turut memperkaya pemahaman tentang kawasan produktif lainnya dengan mengajak FI mengunjungi protipe sejenis versi Sampurna di Pandaan Malang yang berbiaya Rp 3 milyar. Keduanya mengacu kepada model integrated farming dengan basis zero wastenya. Mengingat target program adalah kawasan gersang/tadah hujan yang letaknya terpencil, terluar atau terdepan dan warga miskin, maka protipe made in pak Zainal Arifin yang paling mungkin dikerjakan. Tinggal memperkayanya dengan aspek dan tanaman budaya serta kesenian. Jadilah TOR KEM terwujud dan disetujui pimpinan PKBL PT Pertamina (Persero) saat itu.

Jika saja semua FLipMAS Wilayah mempelajari TOR KEM dengan seksama dan tidak tergesa-gesa, maka jelaslah perbedaannya dengan program DIKTI semacam Sibermas yang kemudian bernama IbW, Iptek bagi Wilayah. Program ini tidak bersendikan integrated farming tetapi mengacu kepada RPJM Desa atau Kota yang berbasis pada produk, sama sekali tidak menyentuh tali temali niskala manusia-kawasan-komoditas. Di samping itu, program IbW juga tidak memperhitungkan nilai IPM, Indeks Pembangun­an Manusia seperti halnya KEM. Oleh karena itu, bagi FLipMAS Wilayah yang cermat mempelajari dan memahaminya, bisa dipastikan KEM karyanya masih tetap eksis sampai saat ini. TOR KEM mengandung aktivitas dalam bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pendidikan, kesehatan, budaya dan kesenian. Keberadaan semua aspek itu sangat tergantung pada situasi dan kondisi KEM. Tidak boleh dipaksakan ada jika tidak ada dukungan yang cukup dari lingkungan. Dengan demikian, KEM mempunyai corak dan karakter tersendiri dengan menginjeksikan harmoni nyanyian kehidupan manusia dan kawasannya sehingga dalam per­kembangan­nya FI menamainya KAWASAN BERKEHIDUPAN. Inilah puncak karya pem­berdayaan masyarakat. KEM Gumantar dan Nunmafo sudah mencapai tataran ini. KEM Bengkala secara kasat mata tampak berada di tataran yang sama, akan tetapi nada nyanyian kawasannya masih sumbang, belum harmoni.

Mereview satu persatu aspek dalam KEM menjadi satu keharusan jika tujuan field review adalah introspeksi dan belajar untuk melangkah maju jauh ke depan!

Eksistensi

Ini hal yang paling mendasar! Apakah KEM yang dibangun masih eksis? Masih memberikan manfaat bagi warganya? Atau sudah lenyap disapu angin puting beliung? 8 KEM Timor alhamdulillah semuanya masih eksis dan setia memberi penghasilan dan kehidupan warganya. Artinya minimal target pemberdayaan masyarakat dimana manusia­nya sudah termotivasi beraktivitas dan mampu menjaga kehidupan kawasan­nya sebagai petani, tercapai. Faktor kuncinya adalah ketersediaan air dan kesadaran manusianya!

Kelompok

Dalam hal ini diartikan sebagai warga KEM yang terlibat di dalam seluruh aktivitas. Di antara 8 KEM Timor hanya kelompok KEM Sumlili yang sudah bubar. Faktor penyebab­nya adalah konflik kepentingan keluarga pemilik lahan. Mantan Ketua kelompok Sumlili adalah adik ipar pemilik lahan. Adik ipar inilah yang menjadi titik pemecah kesatuan kelompok dengan keserakahan untuk selalu memperoleh bagian ter­banyak dari hasil KEM. Berhasil diberhentikan tidak berarti rongrongannya berhenti. Warga yang berasal dari multi etnis ini akhirnya tidak mampu bertahan dan mem­bubar­kan diri dengan menjual 16 ekor sapi KEM yang dipelihara di rumah masing2 untuk dijadi­kan semacam pesangon. Ketua kelompok Sumlili yang baru, yaitu pak Frans pemilik lahan, tidak berdaya mengatasi persoalan itu. Atau tidak paham aturan main KEM? Sementara Jimmy anak muda kreatif yang membuat pemilik lahan dan warga tetangga bukan mantan anggota kelompok percaya bahwa lahan bisa ditanami cabe, diculik bapaknya sendiri untuk mengurus kebun di desanya. Urusan konflik masyarakat semacam ini harus dicarikan solusinya dan tidak bisa dibiarkan begitu saja apalagi mengambil uang penjualan sapi yang bukan haknya. Dalam hal ini Hetfen disarankan (1) meminta bantuan pendeta atau pastor dari tiga gereja yang menjadi tempat ibadah seluruh anggota KEM. Membicara­kannya secara terbuka untuk menemukan solusi terbaik. Kalau ingin kembali bergabung ataupun tidak, konsekuensi pada uang pen­jualan sapi harus ikut diputuskan. (2) menilik kecerdas­an dan keberanian istri pemilik lahan, ada baiknya diusulkan menjadi Ketua Kelompok Sumlili baru dan merekrut lebih dari 2-3 tetangga yang saat ini bergabung di KEM. (3) Teman2 Hetfen lainnya ikut membantu terjadinya butir (1) dan (2). Tampak bahwa umumnya kelompok yang sudah berhasil merekrut anak2 muda, KEM nya lebih maju dan berkembang seperti Nifuboke, Lakat, Nunmafo, Banae, Rinbesihat dan Nusa.

Ketidakpercayaan anggota kelompok kepada Ketuanya juga terjadi di KEM Banae, setelah si ketua kelompok menjual sapi KEM secara diam2. Si ketua ini rupanya senang minum air kata2 istilah orang Timor untuk arak. Saat ini pak sekretaris kelompok didukung untuk menggantikannya. Mereka prihatin karena KEM Banae yang pernah jaya, tidak bisa lagi diperoleh kemanfaatannya karena salah urus. Dalam hal ini dibutuhkan adanya anggota flipmas dari Unimor untuk sering2 hadir di kawasan membantu pulihnya kekompakan kelompok. Pola konflik internal yang sama juga terjadi di KEM Tapenpah. Adik laki2 pemilik lahan (ibu2) setiap kali datang dalam pertemuan warga selalu dalam kondisi mabok dan selalu menuntut bagian, sementara tidak aktif sama sekali di KEM. Urusan semacam ini tidak mudah diatasi kecuali sudah mulai bertindak kriminal. Sementara itu, Ketua kelompok yang mantan Kades (ibu2) masih sanggup terus memimpin para ibu lainnya untuk terus berproduksi. Pertanyaan­nya adalah sampai kapan? Sebab itu, pertimbangkan kembali kehadiran alim ulama Timor ke KEM Tapenpah untuk membantu menyelesaikan persoalan air kata2 ini.

KEM Bengkala lain lagi persoalan kelompoknya tetapi tergolong klise juga. Keluarga kolok Ngarda yang di awal kisah ditampilkan sebagai pemimpin Kolok sehingga posisinya sebagai Ketua Kelompok diyakini akan dipatuhi warga Kolok yang lain, ternyata wibawanya lumpuh dihadapan istrinya yang normal. Perilaku istri, anak dan mantunya yang normal juga turut mereduksi wibawa Kolok Ngarda dengan tidak mematuhi komitmen yang disepakati di balai desa bersama seluruh warga Kolok. Komitmen bersama bahwa KEM Kolok dibangun untuk membantu meningkatkan kesejahteraan warga Kolok lainnya, terlupakan setelah kepeng mulai membanjiri kawasan. Solusinya adalah membangun KEM Kajanan yang terletak di utara Desa Bengkala di lahan pak Ketut Kanta yang sejak dulu telah membuktikan dirinya sebagai local hero bagi warga Kolok. Di Kajanan inilah warga Kolok merasa bebas berkreasi sesuai minat mereka sebagai penenun, penari, pembuat dupa, pemasak dan cleaning service homestay. Saat ini seorang turis asing yang menginap selama 3 bulan di homestay, Jessica melatih 5 orang kolok kelih/dewasa menjadi juru kamera Kajanan. Di KEM lama yang kini disebut KEM Kelodan difungsikan untuk training center tenun, pemasok minuman kunyit Shakuntala dan air minum dari sumur dalamnya.

Air

Tanpa adanya air di suatu kawasan, maka di situ tidak akan ada kehidupan. Oleh karena itu, ketersediaan air di KEM menjadi pekerjaan utama FLipMAS. Entah itu ber­asal dari mata air atau sungai di sisi KEM, sumur, embung dan lainnya. Utamanya, ada KEM ada air. Air di KEM Rinbesihat berasal dari mata air yang terbendung berupa sungai kecil. Oleh warga sungai kecil ini diperpanjang dan dilebarkan sehingga mampu menampung volume air yang lebih besar. Saat ini KEM Rinbesihat hanya memerlukan­nya saat musim kemarau. Di musim penghujan ini warga non KEM di seberang sungai ikut memanfaatkan untuk mengolah lahan mereka seluas 20 hektar.

Sumur gali kedua KEM Sumlili

Sumur gali ketiga

Sumur tua yang pertama

Sungai di KEM Rinbesihat

Dam jebol di KEM Nifuboke

Telaga sumber air KEM Nusa

Instalasi sumur artesis dengan sumber energi solar cell bantuan Pemda NTT

Air di KEM Nunmafo berasal dari embung bantuan Pertamina dan bantuan Pemda. Saat ini sedang dijajagi untuk membuat sumur gali di situ. KEM Tapenpah juga tidak ber­masalah dengan air karena sudah memiliki instalasi air dan perpipaannya yang di­koneksi­kan dengan sungai di sebelahnya. KEM Banae yang berada tepat di bendungan berupa telaga agak bermasalah dengan air saat kemarau karena air di telaganya me­nyurut. Warga bisa disarankan untuk menanam pohon besar di hulu sungai yang bermuara di telaga ini. Semua keramba dan ponton yang sudah rusak disarankan untuk ditarik keluar, selanjutnya diperbaiki atau dibuang karena merusak kualitas air telaga. Air di KEM Nifuboke saat ini sedang bermasalah karena aliran air dari mata air yang dibendung dam tak bertulang, jebol. Di saat musim hujan sekarang, air belum menimbulkan persoalan. Tetapi disaat kemarau nanti, pompa air bantuan Pertamina dan sebentar lagi datang pompa bantuan Pemda, tentu tidak banyak gunanya. Warga KEM Nifuboke disarankan untuk ke Dinas setempat menyampaikan persoalannya karena Pemda NTT sedang fokus pada penyediaan air di lokasi pertanian. KEM Lakat beruntung memperoleh bantuan Pemda Propinsi NTT, bak penampung air bersih dan sumur pompa dengan sumber energi solar cell, menambah volume air KEM yang bersumber dari embung penampung mata air dan hujan yang sudah ada, bantuan Pertamina. Sementara itu, KEM Lakat yang memiliki dua embung di bagian depan dan belakang KEM, justru airnya bermasalah. Embung alami di depan KEM terisi penuh air akan tetapi embung yang di belakang, bantuan Pemda, beberapa waktu yang lalu, belah dan belum diperbaiki. Memang volume embung di bagian belakang mungkin sekitar 3 kali lebih banyak dibandingkan yang di depan tetapi tidak berarti perbedaan volume itu menjadi sebab terbelahnya embung belakang.  KEM Sumlili saat ini sudah tidak bermasalah lagi dengan air. Adanya dua sumur gali sedalam 9-10 m, sumur tua yang berair hanya saat musim hujan cukup membantu irigasi pertanian di lahan KEM. Juga bak air yang terbuat dari beton sudah bisa difungsikan lagi setelah diperbaiki dan sangat membantu distribusi air ke seluruh kawasan. Apalagi KEM Sumlili salah satu KEM selain KEM Rinbesihat yang membuka lahan padi huma.

Sumur bor, solar cell dan pelinggih penunggu air menurut keyakinan Kolok

Letaknya di daratan tinggi dan juga pola aliran air di Bali utara yang agak anomali, keberadaan air tanah jauh di bawah permukaan bumi Bengkala. Pak Khalid PKBL Pertamina saat meresmikan KEM Kolok menawarkan untuk membuat sumur di KEM menggantikan peran pipa air desa yang membawa air ke bak tua penampung setiap tiga hari sekali. Itupun kalau petugas desa tidak lupa. Air yang diprediksi sudah ditemu­kan pada kedalaman 60 m ternyata, nihil. Baru setelah menembus lapisan batu cadas pada kedalaman 156 m ditemukan air dengan kualitas prima. Kedalaman sumur yang tidak biasa untuk di bagian lain pulau Bali tetapi menjadi ciri letak air di Bengkala. Kondisi ini tentu menuntut pompa air yang juga tidak biasa dan sumber energi listrik dari PLN. Lahan KEM yang kering saat kemarau menggoda diterapkannya success story penemuan sumber air KEM Sumlili KOE di Bengkala. Pak Hendrik yang meng­gunakan teknik tradisional dalam menemukan sumber air kawasan, sukses mem­buat 2 sumur gali di Sumlili yang tidak pernah kehabisan air sampai sekarang. Dia mem­buat tongkat pendek bercagak dari kayu pohon asam Jawa atau jambu kelutuk/biji. Panjangnya sekitar 30 cm dan masing-masing tangannya menggenggam cagak tongkat dengan bagian terpanjang mengarah ke depan. Sambil berjalan dia berpedoman pada perubahan arah tongkat. Jika bagian panjangnya yang mengarah ke depan tiba2 menunduk ke bawah lalu memaksa berotasi kuat arah vertikal, itu tanda ada sumber air. Semakin kuat rotasinya, semakin besar volume air. Jika tidak bergerak sama sekali, maka itu pertanda tidak ada air. Di KEM Kolok dengan teknik dan mantra yang sama, ditemukan 4 titik yang diduga sumber air berkelak kelok dari atas menuju sungai mati di teras terbawah. Dipilih satu titik yang paling kuat memutar tongkat dan posisinya paling strategis. Pak Ibrahim yang selevel kesaktiannya dalam menemukan sumber air, di titik yang sama juga merasakan kuatnya rotasi tongkat. Juga SNS yang sempat mencobanya, seperti halnya tahun 2017 di Sumlili. Maksud hati membuat sumber air alternatif yang lebih murah, ternyata setelah satu bulan penuh menggali batu cadas dengan susah payah, pak Ibrahim dan Mesakh, menyerah. Galian terhenti setelah ada angin kencang bertiup dari dasar sumur dengan kedalaman sekitar 15 m. Mereka pulang kembali ke KOE. Sepanjang karir pak Ibrahim, KEM Kolok adalah penggalian sumur ke 29. Yang ke 29 ini, gagal total. Kalau sudah begini kesalahan ditimpakan pada semua hal yang niskala. Jadi KEM Kolok Kelodan tetap memanfaatkan sumur dalam, namun dengan sumber energi yang terbarukan, solar cell.

Pertanian

Kecuali KEM Kolok, 8 KEM Timor mengandalkan pertanian dengan komoditas beraneka rupa. Satu komoditas yang homogen dan dominan di semua KEM Timor adalah makanan utama penduduk Timor, jagung. Baik jagung kuning maupun putih/pulut, tidak ada jagung manis. Jadi tidak usah heran kalau pergi ke ladang manapun pada saat ini akan bertemu hutan jagung. Meski bukan hutan rimba, kalau tersesat di ladang ini jangan harap bisa sampai ke tujuan tanpa berteriak minta tolong.

Tanaman cabe dan sayuran di Nusa

Tanaman cabe di Sumlili

 

Karena pada hakekatnya warga KEM adalah petani tadah hujan, maka urusan pertanian rata-rata tidak menyulitkan. Kedelapan KEM Timor sudah dilengkapi dengan sumber air, sistem perpipaan pendistribusian air di kawasan, bak beton dan pompa air. Jadi sejak KEM dibangun, mereka sudah bisa bertani sepanjang waktu dengan jadwal dan jenis komoditas pertanian sesuai permintaan pasar lokal mereka. Ada tanaman kacang hijau, buncis, pokcai kembang, cabe rawit, cabe keriting, timun, kacang tanah, dan padi. Jagung yang mungkin kurang optimal panennya akan ditemukan di KEM Nifu­boke dan Nusa. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan lahan jagung tergenang dan lahan menjadi becek. Warga mungkin harus diajari untuk membuat parit2 jalan air ke luar kawasan lahan. Pernahkah dicatat kapasitas produksi jagung di KEM setiap tahun­nya? Apakah berfluktuasi? Ataukah lebih rendah dari yang seharusnya? Kalau begitu, apa yang sudah dilakukan FLipMAS untuk meningkatkannya?

Hampir seluruh KEM baru aktif menanam tanaman hortikultura pada bulan Maret 2019 ini, menghindari curah hujan yang tinggi. Nekat menanamnya bersama jagung, bisa dipastikan gagal panen. Logis juga sebab kalau tanahnya kering lebih mudah dibasahi karena air bukan persoalan lagi di KEM. Tetapi kalau hujan, bagaimana cara me­ngering­­kan tanah dengan cepat? Jadi, era pra-KEM, petani hanya berkebun satu kali per tahun dengan rutin menanam jagung tanpa tanaman hortikultura. Pasca-KEM petani bisa menanam dua kali per tahun, tanaman jagung kemudian hortikultura.

Pohon mangga dan jeruk di KEM Rinbesihat

Pohon mangga di KEM Nifuboke

Pohon jeruk di Nifuboke

Pohon mangga dan jeruk yang ditanam di KEM Rinbesihat, Nifuboke dan Lakat tumbuh dengan kecepatan dan kesehatan yang berbeda meskipun mendapat perlakuan yang sama, tumbuh tanpa perhatian khusus. Mangga dan jeruk di KEM Rinbesihat rata2 tumbuh setinggi sekitar 3 m, tampak sehat dan sudah belajar berbuah. Berbeda dengan tanaman hortikultura yang rajin dipupuk, pohon mangga dan jeruk tidak pernah di­pupuk lagi sejak ditanam. Sementara kotoran sapi di kandangnya menumpuk tidak termanfaatkan. Di ketiga KEM, pohon mangga dan jeruk ditanam berselang seling ber­deret dan tidak memenuhi luasan tertentu seperti halnya kebun mangga atau jeruk pada umumnya. Dengan jumlah lebih dari 10 pohon, buah yang dihasilkan dapat mem­beri pendapatan yang cukup bagi kelompok. Kedua pohon tadi agak kurus dan kurang baik pertumbuhannya di KEM Nifuboke dan sudah tidak tampak lagi di KEM Lakat.

Pisang mas di Sumlili

Pisang mas di Rinbesihat

Buah lengkeng di Nusa

 

Buah-buahan lain yang diproduksi terbanyak di KEM adalah buah naga. Di tepian jalan KEM Nunmafo, Banae banyak penjual buah naga yang berasal dari KEM. Dari sisi kuanti­­tas, buah naga KEM Nunmafo terbanyak masuk ke pasar, dari KOE sampai Atambua. KEM Tapenpah baru mulai menanamnya. Sementara itu, tanaman buah naga di KEM Sumlili juga sudah berbuah berulang kali meskipun tidak terurus. Jadi kontribusi­nya pada penghasilan KEM tidak cukup besar. Buah naga yang paling enak dan gurih ternyata diproduksi KEM Banae. Meskipun demikian, belum ada tanda-tanda perluasan lahan tanaman buah naga di KEM Banae seperti halnya Nunmafo. Jangan2 semua buah naga di Timor sudah produksi lokal dan tidak lagi impor dari Jawa. Sayang­nya, belum dilakukan koordinasi data kapasitas produksi antar ke-8 KEM Timor untuk mengetahui besarnya produksi mereka di setiap komoditas sehingga pangsa pasar yang sudah sanggup terisi produk KEM diketahui kuantitas dan nominalnya. FW Hetfen sebaiknya mulai melakukan pendataan itu karena eksistensi KEM sudah terjaga dan koordinasi data panen tidak sulit dilakukan. Sebab menarik untuk dikenali, berapa % pangsa pasar Timor telah terisi produk KEM? Dengan demikian, pergantian komoditas pertanian dan variasi luas lahan per musim tanam per KEM dapat dihitung dan dilakukan. Juga kinerja setiap KEM Timor dapat ditingkatkan dari masa ke masa.

Tanaman buah naga di Sumlili

Di Nunmafo

Di Banae

KEM Banae juga memproduksi nenas tetapi tidak diketahui kapasitas produksinya. KEM Nusa menjadi satu2nya KEM yang menanam pohon lengkeng pingpong. Buahnya bisa sebesar bola pingpong. Satu dua pohon sudah mulai belajar berbuah, namun tidak bisa maksimal karena baru mentil sudah dipetik anak2 warga KEM. Foto2 berlatar pohon lengkeng pingpong yang sedang sarat buahnya, waktu usai Deklarasi FI dulu di Yogya, ada baiknya ditunjukkan kepada warga, juga potensi ekonomi yang bakal diperoleh KEM. Pohon buah-buahan yang dominan di beberapa KEM seperti Rinbesihat, Nunmafo, Tapenpah, Nusa dan Sumlili adalah pisang dan pepaya. Kalau pepaya umum­nya berjenis Red Lady dan pisangnya pisang emas, baranga atau kepok. Setelah me­masuki usia ke 5 ini, yang harus diremajakan adalah pohon pepayanya sementara pisang sudah dilakukan pemisahan induk-anakan sehingga luas lahan untuk tanaman ini semakin meluas.

Text Box:  Pohon kayu cendana

Tanaman budaya yang sifatnya wajib bagi KEM di manapun, KEM Timor memilih tanaman cendana. Tanaman ini tumbuh subur di KEM Nunmafo sebanyak 450 pohon yang sudah mencapai tinggi 4-5 m, juga di KEM Nusa. Namun, tanaman ini tidak di­jumpai di KEM Timor lainnya. Memang tidak ekonomis untuk jangka waktu pendek tetapi untuk generasi berikutnya tanaman ini akan memberi banyak keuntungan dalam aspek konservasi budaya, estetika kawasan dan finansial. 

Di bidang pertanian ini, warga sebagian besar KEM Timor masih belum mampu menggunakan pupuk organik olahan sesuai dengan kebutuhan lahannya. Adanya ternak sapi, kambing dan babi belum mem­bangun kesadaran warga untuk memanfaatkannya secara efisien kecuali di KEM Nunmafo. Padahal, pupuk organik yang berlebih dapat berkontribusi pada peningkatan income kawasan. Yang baik juga diupaya­kan teman2 di Timor adalah penyediaan pestisida atau fungisida lokal yang ramah lingkungan. Kemampuan ini akan membantu warga KEM menurunkan biaya belanja produk sintetis yang merusak lingkungan sekaligus mereduksi ongkos produksi KEM itu sendiri.

<