Kalender
November 2020
MSSR KJS
1234567
891011121314
15161718192021
2223 2425262728
2930     
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

GARIS DEMARKASI

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 07-Mar-2019 | Dibaca : 687 Kali

 GARIS DEMARKASI

Jika saja Timur Leste masih bergabung dengan NKRI, mungkin garis ini tidak akan pernah ada. Garis dengan lebar 10 cm dan panjang sekitar 10 m, berwarna kuning muda tidak sama tebal, serta sisi yang tidak rata ini menjadi tanda batas ke dua negara. Minggu pagi itu, 24 Februari 2019, pukul 10.00 wita, 18 PROdikMAS yang bergabung dari berbagai wilayah berada dan melintasi garis batas itu. Bayangan suasana yang angker, tak bersahabat ternyata tidak dijumpai. Selain gerbang perbatasan yang bertuliskan INDONESIA, bundaran dengan tulisan lokasi perbatasan Motaain, garis demarkasi itu paling banyak terbidik dengan berbagai pose pemotret dan objeknya. Sampai2 bayang2pun dipotret tepat pada injakan garis batas. Siapa dia?

TUR KEM BALITIMOR menjadi bersejarah bagi FLipMAS INDONESIA. Tur yang diprakarsai FI, direspon positif beberapa FLipMAS Wilayah dan menggelinding menjadi rombongan besar mendatangi 8 KEM di Timor dan 1 di Bali. Tujuannya? Melakukan field review dan bersilaturahim. Sebab, dengan platform (1) keikhlasan, (2) kebhinneka­an dan (3) kewilayahan, TUR KEM semacam ini bisa menjadi media belajar PPM yang efisien untuk saling bertukar pikiran, pengalaman serta mengeliminasi buruk sangka.

PROdikMAS yang bergabung dalam TUR KEM Balitimor 23-28 Februari 2019, adalah:

NO

NAMA

FLIPMAS

1.     

Ellyza Nurdin

Minangkabau, Sumbar

2.     

Rosnita

Minangkabau, Sumbar

3.     

M. Zaman

Sriwijaya, Sumsel

4.     

M. Aman

Jagadhita, DIY

5.     

Eny Dyah Yuniwati

Legowo, Jatim Malang

6.     

Anik M Hariati

Legowo, Jatim Malang

7.     

Pipit Sari Puspitorini

Legowo, Jatim Surabaya

8.     

Pande Wayan Renawati

Ngayah, Bali

9.     

Gunarto Latama

Mammiri, Sulsel/Indonesia

10.  

Josephine Pinky Saerang

Mapalus, Sulut

11.  

SNS

Sabilulungan, Jabar/Indonesia

 

Di Timor bergabung bersama Tim, teman-teman FW Hetfen, antara lain:

NO

NAMA

KEM

12.  

Grace Maranatha

Tapenpah

13.  

Marten Makaborang

Nusa

14.  

Marten Lano

Lakat

15.  

Piet Kune

Sumlili

16.  

Zainal Arifin

Nunmafo

17.  

Yusuf Rumbino

Nunmafo

Logis saja karena kota asal yang beragam menyebabkan rute penerbangan terbagi menjadi tiga, yaitu (1) kota asal-SUB-KOE; (2) kota asal-DPS-KOE dan (3) kota asal-KOE. Rute 1 dan 2 mempertemukan tim pada saat selang 1 jam sekitar pukul 15.00 wita di bandara El Tari, Sabtu, 23 Februari 2018. Tim dengan Rute 3 tiba maghrib sehingga tidak sempat berkunjung ke KEM Sumlili. Tidak mengira minibis antar kota yang disewa teman2 Hetfen dilarang masuk wilayah bandara berimbas pada keputusan untuk menyewa dua taksi menuju mesjid di pangkalan AURI. Usai sembahyang, seluruh TIM TUR KEM makan malam di RM Putra Solo, menu Jawa dan prasmanan.

Tim 11 yang membayangkan akan menumpang minibis pariwisata selama perjalanan sepanjang kira2 700 km, semangatnya terbang saat faktanya nangkring di minibis antar kota KOE-Atambua. Berkapasitas 21-23 orang, jok tipis, jarak antar kursi bak Lion Air plus tanpa AC dan sopir kualifikasi F1 KOE-Atambua, yang setiap hari menempuh rute ini melengkapi semakin tebalnya doa perjalanan. Saat sang sopir ditanya, pukul berapa kita sampai Atambua? 6 jam sa! Artinya 6 jam saja. Minibis warna warni ini plus penumpang yang harus menyetel batas kesabarannya pada level semakin tinggi, punya kalimat mutiara – rindumu tak seberat muatanku-uff, kreatif juga tapi mungkin harus diubah menjadi –muatanku selalu merindukanku-waa, ngeblas ke Atambua pukul 20.15 wita. Tindihan beban belum teradaptasi dengan baik sudah ketambahan lagi suara hingar bingar musik. Oolala, maksud sopir supaya terus terpicu adrenalinnya, tetap waspada, tetapi lupa kalau desibel kebisingan seperti itu membuat orang yang terkantuk-kantuk menjadi sakit kepala. Betul-betul deraan lahir batin yang menguji daya tahan penumpangnya yang tidak lagi muda hahaha.

 

Desau angin yang menerobos celah jendela tak peduli apa dan siapa yang dilabraknya, musik yang begitu tinggi desibelnya nyaris tak tertahan telinga, kebisingan mesin menjadi suasana minibis yang musti diakrabi. Pak sopirnya tidak peduli pada per­minta­an penumpang, musik tetap berdesibel tinggi. Jangan2 dia berkata dalam hati, yang nyopir itu dorang atau kitorang? Kitorang perlu musik keras supaya bisa terus nyopir di malam gelap ini. Kalau tidak, dorang sa yang nyopir hehehe. Dan 6 jam sa! itu menjadi nyata, saat minibis melambat dan berhenti di Hotel Kingstar Atambua. Pukul 02.00 wita. Alhamdulillah, tidak ada yang muntah, cuma bagian tubuh yang tertekuk-tekuk selama perjalanan dipijati kuat2 hehehe.

Pukul 09.00 wita setelah usai sarapan pagi dengan menu nasi putih/nasi goreng dan telor ceplok, TIM berangkat menuju Motaain, gerbang perbatasan NKRI dan Timor Leste yang berada di wilayah Atambua. Semua terlihat bugar dan cerah, entah apa penyebabnya. Perjalanan hanya sekitar 1 jam, minibis diparkir dan dengan berjalan kaki menikmati pemandangan plus suasana perbatasan.

Pintu masuk Motaain yang dijaga satpam

Wajah wilayah perbatasan setelah melintasi gardu satpam

Wisma Indonesia entah untuk apa

Gedung berkubah untuk urusan lintas batas

Jangan berharap ada pemandu wisata sebab wilayah perbatasan bukan destinasi wisata, tetapi banyak orang berwisata di Minggu pagi hari itu. Entah berapa hektar wilayah perbatasan Motaain ini dibangun dan diberi bentuk atas instruksi Presiden Jokowi. Pemandangannya asri, bentuk bangunannya mirip Lopo, rumah khas Timor. Yang pasti dibangun dengan selera bagus, tidak asal-asalan meski jelas menuntut biaya perawatan cukup tinggi. Baru pukul 10 pagi, teriknya sudah sangat terasa apalagi pohon peneduh belum cukup besar. TIM bercerai berai, berjalan menuruti kata hati masing-masing sambil mencari-cari titik alienasi untuk memberitahu siapapun bahwa dia sudah pernah berada di salah satu wilayah perbatasan NKRI. Sebagian TIM yang menumpang inova belum kunjung tiba.

Suasana kawasan terbilang hening pagi itu, entah pada siang harinya saat lebih banyak lagi pengunjung datang. Perlahan, semua yang ingin dilihat di perbatasan mulai tampak dan dijelajahi. Melihat TNI dengan seragamnya, segera memberi kesan menekan pikiran pada ketidakramahan. Perasaan itu perlahan sirna dengan melihat banyaknya manusia berkumpul di gerbang perbatasan dan beberapa di antara mereka berbincang akrab dengan TNI penjaga perbatasan. Ada tiga titik utama identitas kawasan ini, yaitu (1) bundaran dengan nama lokasinya MOTAAIN INDONESIA; (2) Gerbang Perbatasan yang atapnya bertanduk dua bertuliskan INDONESIA dan (3) garis batas demarkasi berwarna kuning muda.

Bundaran penanda lokasi perbatasan

Gerbang perbatasan

Prasasti yang ditandatangani tahun 2015

Isi prasasti dengan nama kedua Menlu

 Melintasi garis demarkasi pada prinsipnya memasuki wilayah tak bertuan, daerah penyangga yang mengingatkan siapapun pada legalitasnya sebagai pelintas batas. Seindah apapun gerbang perbatasan, fungsinya tetap sebagai penguji legalitas. Legal, melintas-ilegal, ditolak melintas. Tetapi di balik itu semua, tentu penjaga perbatasan dilengkapi juga fungsi pemukul selain administratif tadi. Garis berwarna kuning berada di tengah-tengah jembatan yang menghubungkan gerbang perbatasan dengan daerah penyangga. Di situlah sebenarnya siapapun pengunjung wajib mentaati untuk tidak melintas jauh masuk daerah penyangga. Paling jauh 1 m dari garis batas, namun manusia Indonesia tidak puas hanya dengan 1 m sebab di tikungan selepas jembatan masih ada pemandangan lain wilayah Timor Leste. Berbondong-bondong pengunjung mencoba-coba memasuki daerah penyangga lebih dalam. Buahnya adalah peringatan untuk kembali.

Bersama salah satu penjaga perbatasan dari Nganjuk Jawa Timur

Bersama p Gunarto di garis batas Motaain

Inilah garis demarkasi berwarna kuning muda itu

Bukti sudah melintasi garis demarkasi

 Di perbatasan Motaain jangan harap pengunjung memperoleh informasi terbuka tentang apa yang ada di sana. Memang sebaiknya begitu. Pengunjung dipaksa harus memahami sendiri tentang apapun yang kasat mata dan fungsinya. Silakan memotret apa, siapa dan di mana saja lalu interpretasikan sendiri apa maknanya. Sederhana bukan? Mungkin malah sebaiknya pengunjung yang diwawancarai para penjaga tentang pemahaman mereka akan arti perbatasan dan garis demarkasi. Distorsi persepsi pengunjung itulah yang kemudian menjadi bahan koreksi, sehingga saat meninggalkan garis dan gerbang perbatasan, pengunjung bisa menaruh respek lebih pada wilayah terpencil dan genting ini.

Sungai di perbatasan Motaain setelah gerbang perbatasan

Sebagian TIM TUR bersama penjaga perbatasan. Tampak sederhana, tetapi TIM berada di titik awal kedaulatan sebuah negara

 Saat memperhatikan potret sebagian TIM TUR di gerbang perbatasan Motaain, teringat kembali kejadian tahun 2012 saat melihat potret2 PROdikMAS yang diundang dan dibiayai PT Pertamina ke Loonuna. Beberapa teman saat itu diantar teman Hetfen ke Motaain, memanfaatkan keberadaan mereka di Atambua. Kegembiraan saat itu adalah bisa melintas batas. Tetapi lupakah bahwa meninggalkan tugas secepat kilatpun sudah terbilang desersi? Hehehe. Saat TUR dengan biaya pribadi seperti ini, lebih banyak hal yang bisa dinikmati dan juga bisa berlama-lama berada di perbatasan tanpa embel2 desersi. Klimaks dari kunjungan di perbatasan adalah berada pada tiga titik identitas perbatasan. Juga saat meminum air dan makan daging kelapa muda yang jauh lebih nikmat dan gurih dibandingkan kelapa muda KEM Sumlili. Ketangkasan penjual kelapa muda saat mengupas, membacok sebanyak 20 butir dan membuat sendok, menunjuk­kan profesionalismenya dalam hal melayani konsumen kelapa muda.

Di keteduhan pohon minum kelapa muda setelah berpanas ria sungguh nikmat. Kelapa seharga Rp 10.000,- per butirpun terasa seimbang dengan kenikmatan itu. Apalagi menurut penjualnya, ini adalah kelapa Motaain. Percaya saja hehehe

Entah apa yang terpikir di benak semua TIM TUR setelah duduk di kursinya masing-masing? Yang pasti puas sudah pernah menikmati perbatasan NKRI beserta bukti ke­berada­an­nya plus kepuasan minum kelapa muda lokal yang gurih dan benar-benar muda. Dan minibis yang berlari bak kuda bima. Bukti kepuasan? Semua tertidur kecuali sopir minibis dan sopir cadangannya hahaha.

Cidamar Permai Kav. 3; 7 Maret 2019

Jalan Gunung Batu Dalam, Cimindi-Cimahi 40514

SNS