Kalender
Mei 2018
MSSR KJS
  12345
6789101112
13141516171819
202122232425 26
2728293031  
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

JOKI on-LINE

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 25-Apr-2018 | Dibaca : 74 Kali

Haruskah manusia murka atas kelicikan manusia di sekitarnya? Sebagian manusia pasrah dan menganggap­nya sebagai takdir yang harus dijalani. Sebagian lagi secara frontal menghadapinya, tak perduli akan risikonya. Ada yang memilih mendoakan agar si jahanam itu diampuni dan segera disadarkan atas perbuatannya yang suka menyakiti orang lain. Tetapi ada lagi yang justru ber­syukur punya teman sijahanam ini. Tergolong manusia manakah kita ini?

Kita semua juga paham bahwa di struktur birokrasi NKRI banyak yang diasisteni apakah itu bernama staf ahli, satgas, reviewer atau tim sukses dan berbagai sebutan lainnya. Sebutan itu biasanya disesuaikan dengan level struktural, peran dan fungsi yang diperlukan birokrasi. Akan tetapi, paham betulkah para birokrat negeri akan niat dan tabiat setiap asistennya itu? Mengapa? Sebab para asisten itulah yang umumnya akan mewarnai banyak kebijakan birokrasi. Ada sebagian asisten yang membaktikan niat, kepintaran dan loyalitas penuhnya bagi terjaganya wibawa dan reputasi  birokrat yang dibantunya. Acuh tak acuh pada kesepadanan fee dan tugasnya. Beruntunglah birokrat dan bangsa ini mempunyai asisten bertabiat semacam itu. Akan tetapi ada juga yang memaksakan diri menyetarakan niat, mematut-matutkan kepintar­an dan tabiat dengan level posisinya. Akibatnya tampaklah asisten yang tampil pintar, atau berlagak pintar, atau keminter, atau berbuat pintar, atau merasa lebih pintar dari yang menugasinya atau bahkan bermuka dan bertutur manis sambil bersedekah, berkontribusi mengangkat take home pay birokrat, mengangkasa sambil mengoptimalkan peran mulut ularnya menebar bisa.

Kalau mengulas satu persatu tabiat para asisten ini tentu membuat bosan. Bagaimana kalau kita batasi dan menyimak salah satu jenis asisten ini, yaitu reviewer. Jenis asisten yang satu ini tentu menarik perhatian nyaris semua dosen sebab akan ada fee tambahan, melancong ke pelosok NKRI, dihormati di kampus2nya dan akting sebagai pembicara tamu. Sampai2 belakangan ada workshop produsen reviewer. Setiap peserta workshop wajib setor setor enam juta rupiah. Apa alasan dosen-dosen ikut workshop semacam itu? Sebab sejatinya reviewer itu adalah apresiasi bukan barang dagangan. Lagipula, siapa yang menjamin adanya penugasan bagi reviewer semacam ini?

Bagi banyak reviewer, memperoleh label reviewer dan pekerjaan tambahannya dirasa sudah cukup. Akan tetapi ada sebagian reviewer yang justru tidak merasa cukup dengan itu semua. Ambisinya hanya satu, berkuasa atas semua reviewer yang ada, apapun caranya. Lagak lagunya yang paling generik adalah menghapus semua beban  birokrat yang terdampak gaya gravitasi. Segeralah si birokrat merasa nyaman berada di awang-awang bermandikan kepeng-kepeng. Tak perduli apakah itu hasil curian ataukah rejeki yang halal! Sementara itu, si asisten akan membabibuta agar eksistensinya terjaga, bila berlu sampai akhir hayatnya. Si asisten lupa bahwa kepeng miliknya hanya cukup menghidupi anak istrinya. Padahal berperang dengan gravitasi itu justru mahal taruhannya. Sadar bahwa satu2nya cara adalah dengan mencuri hak orang bahkan hak institusinya, maka menyebarlah virus maling ke semua pembuluh darahnya, berpendar meracuni otaknya, merangsang syaraf2nya membangkitkan kepatuhan otot motoriknya untuk merobek pundi2 yang bukan haknya, apapun caranya.

Tahun 2016 yang lalu, situs ini memperkenalkan 4 (empat) kategori reviewer: [(1) reviewer sejati; (2) worker; (3) checker dan (4) server. Tahun 2018 terbukti masih ada lagi kategori reviewer baru yang harus ditambahkan, mengacu kepada fakta yang diungkap di atas, yaitu: kategori JOKI On-LINE. Memperoleh kepercayaan birokrat membuat para asisten leluasa bertindak termasuk menimbun harta karun. Mungkin tidak untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk mengatasi gaya gravitasi kehidupan birokrat. Apakah jaman onLINE benar bisa menjamin redanya serbuan hasrat mencuri? Sebab itulah para birokrat harus seksama mengawasi dan mengevaluasi para asistennya. JOKI on-LINE akan beraksi dengan cara membuatkan proposal pemesannya atau bila diperlukan berinisiatif menawarkan jasa pembuatan proposal. Hebatnya, si joki tidak cukup berbuat sampai di situ akan tetapi terus kebablasan sampai mengevaluasinya sendiri, menerbitkan sendiri atau turut merapikan SK tim pelaksana bahkan mengelola dana hasil karyanya. Apa dayanya sistem online yang masih patuh dan tunduk pada hasrat si joki? Joki semacam ini bisa berada di mana-mana, mulai dari level perguruan tinggi sampai alam birokrasi di atasnya. Suatu saat nanti joki ini akan terlihat lusuh lunglai, tak tersirat lagi kesombongan yang merias wajahnya dulu dan berkeliaran kemana-mana untuk dikasihani.

 

Cidamar Permai KAV 3  

Cimindi Cimahi

Minggu, 22 April 2018

SNS