Kalender
April 2018
MSSR KJS
1234567
891011121314
1516171819 2021
22232425262728
2930     
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

PUNDI-PUNDI AJAIB

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 26-Mar-2018 | Dibaca : 64 Kali

Namanya juga ajaib berarti bersifat tidak normal, tak dinyana dan memberi berkah. Begitu juga dengan pundi-pundi ajaib. Siapakah pemiliknya? Atau adakah pemiliknya? Bagaimana cara mewujudkan kepemilikannya? Bekerja keras? Bekerja cerdas? Berkolaborasi dengan makhluk yang tak kasat mata, makhluk niskala? Atau?

Di semesta ini mungkin satu-satunya manusia yang punya pundi-pundi ajaib adalah Nabi Sulaiman. Apa yang tidak dimiliki Nabi Sulaiman? Makhluk apa yang tidak tunduk di bawah keRasulannya? Seandainya saja pemeringkatan manusia terkaya di dunia sudah dilakukan pada jaman Nabi Sulaiman melaksanakan keRasulannya disandingkan dengan total kekayaan 10 manusia terkaya di dunia tahun 2018 ini, tetap saja tidak mampu mengalahkan isi pundi-pundi ajaibnya.  Entah bagaimana cara Nabi Sulaiman mengelola pundi-pundi ajaibnya. Yang pasti Nabi Sulaiman tidak pernah korupsi, apalagi berhutang; tidak pernah berhenti bersedekah.

Konon Nusantara ini bak untaian mutiara atau zamrud di khatulistiwa. Adakah yang tahu berapa banyak sebenarnya kekayaan Nusantara ini? Negara dan manusianya? Seorang senopati negeri mencuplik karya tulis bangsa yang tercerahkan, bahwa Nusantara akan tinggal kenangan di tahun 2030. Siapakah sebenarnya penentu keutuhan Nusantara? Di saat bangsa ini mulai menyadari makna Kebhinekaan, bersatu menjaga kedaulatannya, bangsa lain berharap kehancuran. Konon Amerika sudah tergolong negara bangkrut karena dinilai tak mampu membayar hutangnya. Sementara Indonesia harus optimis dengan nominal hutang yang membebaninya. Lalu mengapa pekik kehancuran yang dilantangkan? Bukannya tekun mengisi pundi-pundi, menggunakannya untuk persatuan dan kemakmuran bangsa? Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan negara dan bangsa ini. Ratusan tahun sejak era kolonial sampai detik ini, kepeng dalam pundi-pundinya dikuras habis-habisan. Tetapi isi pundi-pundinya tak pernah tandas. Bangsa inikah pemilik pundi-pundi ajaib itu?

Dari 6 Fungsi APBN ada salah satu fungsinya yang serasi dengan Program Pembangunan Kawasan Berkehidupan, yaitu ·  Fungsi alokasi, yang berarti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya serta meningkatkan efesiensi dan efektivitas perekonomian (APBN 2018, Kemenkeu RI). Kawasan Berkehidupan yang dihuni warga tidak berkelayakan dalam kehidupannya, penghuni ratusan ribu hektar tanah gersang terbengkalai, yang terserak di seluruh Nusantara adalah potensi besar yang terabaikan. Belum tersentuh empati para Senopati negeri untuk memecut keberanian mereka agar berkelayakan dalam berkehidupan dengan mensyukuri nikmat dan karunia Ilahi. Pundi-pundi Nusantara sangat memadai untuk membentuk keberanian itu, lalu mengapa lalai? Jika saja mereka yang jumlahnya mencapai 75-80% total penghuni Nusantara ditangani dengan benar, pundi-pundi Nusantara tidak perlu dibebani hutang. Jadi para Raja dan Senopati negeri akan lebih elegan mengisi pundi-pundinya melalui kelayakan berkehidupan rakyatnya. Pundi-pundi Nusantara meski tak pernah tandas karena penjarahan, mendesak para Senopati negeri untuk segera menyadari bahwa pundi-pundi yang berhati besar ini semakin berpori dan sangat nestapa. Ada karena materialnya sudah lapuk tak lagi mampu menahan masa kepeng di dalamnya, tetapi bayak yang mencoblosnya dengan tamak. Apa sebab pundi-pundi Nusantara nestapa? Mereka yang ada di singgasana ataupun manusia tanpa singgasana tak pernah dievaluasi secara berkelayakan. Prasasti yang diumumkan ke seantero negeri lebih fokus pada proses dan pertanggungjawaban keuangan, tetapi tidak pada kesejatian tabiat pemenang sayembara. Selama ini, semua program tidak mengalami evaluasi tabiat. Artinya, dampak positif atau negatif dari hasil karya semua program, tidak dinilai. Akibatnya, program demi program, tahun demi tahun, nasibnya jika tidak dipertahankan, diubah tanpa mengacu pada penilaian tabiat, tumbuh menjadi adat tahunan institusi. Adat ini hanya mengacu pada prosentase daya serap dan laporan. Lalu bagaimana nasib rakyat yang menjadi obyek milyaran rupiah itu? APBN yang merupakan pundi-pundi Nusantara bukanlah pundi-pundi ajaib tetapi hebatnya mampu menghasilkan ratusan ribu bahkan jutaan manusia-manusia ajaib. Manusia yang mengalami distorsi tabiat kemanusiaannya. Sebab, tanpa evaluasi tabiat, APBN akan banyak dimuati hasrat diri, bukan hasrat kawasan. Dan pundi-pundi Nusantara kian nestapa.

 

Cidamar Permai Kav. 03, Cimindi-Cimahi

Senin, 26 Maret 2018

SNS