Kalender
September 2018
MSSR KJS
      1
2345678
9101112131415
1617181920 2122
23242526272829
30      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

SINATRYA vs SANGKUNI

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 14-Mar-2018 | Dibaca : 226 Kali

Di saat-saat gundah begini, Sinatrya merindukan semesta. Tak lazim Sinatrya gundah gulana jika bukan karena sebab yang luar biasa memprihatinkan hatinya. Prajurit yang tampaknya berwatak welas asih bak Sadewa, dipungutnya dan bertahun-tahun digembleng lahir-batin berharap kelak menjadikannya senopati perkasa dan bijaksana. Tak dinyana kedoknya terburai karena keserakahan. Karakter Sadewa yang mampu dihibernasikan belasan tahun, perlahan lenyap berganti tabiat Sangkuni. Senopati Astina yang licik berlidah ular. Siapa nyana, Sangkuni yang berwajah lugu, tutur katanya lembut dan penuh senyum ternyata manusia penebar fitnah pemicu perang tanding Bharatayudha. Sinatrya berpikir, bilakah Sangkuni perlaya? Kalau dia benar-benar eksis di dunia, itu berarti telah berabad-abad lalu. Tapi mengapa tabiat dan karakternya masih bergentayangan sampai jaman milenium ini? Sungguh aneh, sebab manusia-manusia berwatak Sangkuni seolah tidak pernah membaca babad Sangkuni perlaya? Bahwa babak akhir kehidupannya di bumi dijalaninya dibawah belas kasihan Sadewa dan kesumat Bima? Mulut manisnya terbelah semacam mulut ular sedang memangsa yang sangat tepat menjadi kediaman lidah bercabangnya. Tubuhnya yang dikuliti pertanda tak layak berwujud manusia. Kesakitan lahir batin yang luar biasa.

Sangkuni tak pernah puas menganiaya siapapun apalagi lawan-lawan politik tuannya. Semakin tidak diladeni semakin menjadi, semakin menderita manusia dibuatnya semakin bahagia dia. Nyeri itu dilakukannya dengan melukai luka yang belum lagi pulih, berulang-ulang seolah merasa itulah guratan nasib yang harus dijalaninya. Kenyerian yang bisa berujung kebinasaan. Sangkuni tak pernah mampu menghentikan kerasukannya akan derita manusia lain, sebelum mereka perlaya dan musnah. Sangkuni lupa bahwa nasibnya sendiri, takdir gurunya dan guratan tangan para senopati juga prajurit Pandawa dan Kurawa, tidak berada dalam kendalinya. Juga lengah akan catatan harian kebengisan yang diterakannya secara niskala ke sanubari para raja, mahapatih, senopati, hulubalang dan prajurit Pandawa.

Sinatrya merenung dan berkontemplasi, sebab meski hidup tidak di jaman Mahabharata tetapi dia sedang berhadapan dengan manusia berwatak Sangkuni. Dengan Narada, Sinatrya bisa asyik bercengkerama, tetapi dengan Sangkuni, tidak. Sebab Narada tidak punya ambisi keduniaan, sementara Sangkuni, seorang ambisius. Sinatrya tercerahkan, bahwa secara fisik Sangkuni musnah, tetapi sebagai perwatakan bisa menitis melalui sifat genetiknya. Apalagi fisiknya saat perlaya, nyaris tak berwujud dan dikupas terbuka, tersentuh luruh segenap elemen semesta dan terbebaskan tanpa aral.

Sinatrya maklum bahwa siapapun, termasuk dirinya tak bisa berharap terbebas dari tikaman perangai Sangkuni. Perangai yang tersembunyi jauh di bawah kehalusan pribudi. Baru muncul ke permukaan segera setelah hasrat dirinya tak dipenuhi. Bagusnya, kemunculan perangai buruk itu tidak bisa dibenamkan lagi. Tutur kata dan perilakunya semakin fokus tanpa tedeng aling-aling tak terkendali. Titik bidik yang ditujupun semakin kasat mata dan hasrat dirinya kian teridentifikasi, singgasana. Sinatrya tersenyum maklum menyadari Sangkuni sedang terbahak-bahak menertawakan sikap ketakberdayaannya. Sangkuni bisa jadi mengira inilah babak akhir sejarah dan riwayat kemanusiaan Sinatrya. Aahhh sungguh ceroboh dan bodoh Sangkuni. Keruntuhan keangkaraannya hanya tinggal sekejapan mata tanpa perlu menabuh genderang perang Bharatayudha. Kebisuan Sinatrya adalah refleksi permintaan ampunannya kepada Sang Pencipta, atas hasrat diri Sangkuni yang tak terkendali. Sebab Sinatrya mengerti sifat keangkaraan singgasana dan kebodohan Sangkuni. Sampai di jaman milenium ini, Sangkuni ternyata tetap saja bodoh seperti di jaman Mahabrata. Bodoh sejak awal menapaki istana sampai ajalnya tiba. Sangkuni perlaya tersebab hasrat dirinya akan singgasana yang tidak pernah didudukinya meski sejenak.

Cidamar Permai Kav. 3, Cimindi-Cimahi

14 Maret 2018

SNS