Kalender
November 2018
MSSR KJS
    123
45678910
11121314151617
1819 2021222324
252627282930 
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

TOPENG MILENIAL

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 22-Feb-2018 | Dibaca : 219 Kali

Jaman katanya berganti. Semesta kasat mata per­­lahan berubah. Singgasana berlipat jumlah­nya, linier dengan tumbuh suburnya keserakah­an. Kepeng berserakan membarakan singga­sa­na. Murid memuji-puja para gurunya berharap simpati khalayak, meski dibalik punggung para gurunya, menikam bengis dengan rupa kata. Para senopati lingsir lengser dengan belang dan gading beraneka warna dan aroma, berganti senopati muda yang berupaya mengatur fluks cahaya­nya dan tak berkehendak mandi cahaya rembulan yang telah mampu me­nyejukkan dan memakmurkan. Para senopati muda lebih memilih gerhana tinimbang purnama, berupaya dengan segala cara memadamkan semua sinar benderang pen­dahulu­­­nya. Bak ber­kehendak mengumandangkan eksistensinya yang lebih perkasa, pada­hal siapapun tahu sejarah kemanusiaan hanya mengenang keluhuran budi dan mahakarya manusia. Yang belum berubah hanyalah rotasi bumi bersama benda angkasa.

Di Nusantara ini atau mungkin juga di seantero jagat ini, singgasana yang hanya berwujud sebuah kursi ternyata mampu mengubah karakter manusia membawanya ke dalam dunia tanpa gravitasi. Kursi yang memberikannya kekuasaan dan kepeng, tak perduli bahwa itu semua bukan hak miliknya. Berhadapan dengan manusia tanpa singgasana, manusia yang tidak perduli kekuasaan dan kepeng, para senopati cenderung merendah­kan, memperlakukannya bak hamba sahaya seolah ingin meng­hamba pada kepengnya. Lupa jikalau manusia tanpa singgasana lebih bijak dan waskita, tak silau dengan kemerlip kepeng dan cekaman kekuasaan juga tak pernah gentar pada senopati yang mengeksploitasi singgasananya. Kaum intelektual kampus sejati­nya adalah manusia tanpa singgasana. Mereka tidak memerlukannya, sebab me­rindukan singgasana berarti meracuni diri akan kegelapan kehidupan. Kemashurannya ditumbuh­­kan melalui karya-karya intelektualnya baik untuk sejawat maupun bangsa­nya, dengan atau tanpa restu para senopati negeri pemilik kekuasaan dan kepeng. Hanya para senopati visionerlah yang menaruh respek pada eksistensi para kaum intelektual yang bekerja bersama memandirikan dan memakmurkan bangsa. Senopati yang tidak terlalu perduli dan tidak terpasung kenyamanan hidup pada singgasananya. Meskipun senopati dengan karakter seperti ini tidak banyak di Nusantara, namun jumlah kaum intelektual kampus yang tidak pernah merindukan singgasana juga sedikit.

Tidak ada baiknya, juga tidak ada benarnya jika para senopati meremehkan atau bahkan merendahkan martabat dan kepakaran kaum intelektual. Melaksanakan darma Peng­abdian kepada Masyarakat memang benar harus menjauh dari makna PROFIT. Khususnya jika misi program adalah pembangunan Kawasan Berkehidupan. Meskipun demikian, kaum intelektual juga wajib dibuat nyaman siapapun saat me­nata­kelola karya-karya intelektualnya bagi masyarakat yang serba tidak berkecukupan. Dalam hal ini, jangan menuntut kaum intelektual berswadana saat para senopati me­minta kepakaran, dedikasi dan integritas mereka dikala mengimplementasikan misi institusi pemilik singgasana, memandirikan dan memakmurkan bangsanya. Sebab kepakaran terkait pada profesionalisme yang baru akan mewujud jika situasinya kondusif. Jadi, jika tidak berkehendak menyamankan kaum intelektual kampus saat berbaur dengan masyarakatnya, silakan para senopati melaksanakan misinya sendiri. Tetapi jika berkehendak meng­harapkan bantuan kepakaran dalam mencapai misi institusinya, sampaikanlah baik-baik dan jangan sekali-kali memposisikan kaum intelektual bak peminta-minta, sebab program Kawasan Berkehidupan bukanlah mata pencaharian kaum intelektual kampus. 

Meminta kaum intelektual kampus memandirikan dan memakmurkan bangsanya sama saja dengan memaksa mereka keluar dari surganya. Kampus yang tidak banyak mem­beri dan menuntut tantangan sosial, ekonomi, lingkungan dan peradaban masyarakat, membuat banyak tenaga pendidik lebih betah dan kerasan tinggal di kampus. Jadi kampus bak surga buat mereka. Padahal tantangan intelektual sesungguhnya sekaligus peluang menjumpai ilmu pengetahuan yang sudah teruji ada di tengah2 masyarakat tradisional. Masyarakat ini nyaris setiap detiknya berhadapan dengan tantangan sosial, budaya dan alam sehingga mereka secara empirik berpeluang menguasai ilmu pengetahuan. Kondisi semacam ini menjadikan banyak kaum intelektual tak berselera menceburkan diri ke tengah tantangan yang nyata dan hidup di masyarakat. Sebab itu, pekarangan eksternal kampus bak neraka bagi sebagian kaum intelektualnya.

Senopati pemilik singgasana umumnya tidak mahir memandirikan dan memakmurkan masyarakat. Tetapi mereka punya kehendak dan kepeng. Sebab itu, satu hal sudah bisa dipastikan, mereka tidak mempunyai skema perencanaan strategis. Jadi logislah jika komunitas yang sudah berdaya (UKM), kampus2 dan kegiatan pragmatis lainnya menjadi fokus atensi dan lebih diminati mereka. Semua itu adalah aspek hilir. Strategis­kah? Oh tidak. Tetapi mengapa itu yang menjadi primadona? Sebab, mudah dikerjakan tanpa perlu susah2 melibatkan kaum intelektual kampus yang berlabel NON PROFIT. Rugikah para senopati itu jika sekiranya mereka menjalin sinergitas bersama intelektual non profit? Oh tidak. Sebab (1) para senopati ber­kesempatan mem­peroleh ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mencapai misinya melalui aksi kaum intelektual di kawasan; (2) kaum intelektual memperoleh kesempatan menyerap ilmu pengetahuan yang sudah teruji sehingga sekaligus meningkatkan kualitasnya sebagai pendidik; (3) kebhinekatunggalikaan kepakaran kaum intelektual bisa mewujud dan (4) para senopati tidak perlu membayar profit, cukup membiayai operasional yang profesional. Dengan demikian, dua keuntungan sekaligus diterimakan institusi pemilik singgasana dalam kemitraan ini, yaitu (a) misi me­mandiri­kan dan memakmurkan bangsa serta (2) memintarkan, mematangkan dan menyinergikan keilmuan kaum intelektual, tercapai.

Mungkinkah pengaruh jaman milenium ini membuat banyak senopati muda kurang berempati baik kepada seluruh warga maupun kaum intelektualnya? Senopati yang tidak berkesempatan bertemu dengan kesulitan hidup? Kalau toh berempati, strategi yang dipilih tampaknya kurang jitu. Sebab tidak merefleksikan tantangan dan juga perjuangan. Ataukah topeng milenial penyebabnya? Topeng yang menyiratkan niat kemandirian dan kemakmuran, sekaligus menutupi ketidakmampuan menjalan­kan fungsi dan tuntutan singgasananya mewujudkan kawasan berkehidupan?

Cidamar Permai Kav. 3, Cimindi-Cimahi

21 Februari 2018

SNS