Kalender
Agustus 2018
MSSR KJS
   1234
567891011
121314151617 18
19202122232425
262728293031 
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

Sinatrya vs Narada

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 30-Jan-2018 | Dibaca : 818 Kali

SINATRYA VS NARADA

Takdir telah tergurat menjadi kehidupan yang harus dijalani Sinatrya tanpa pernah mampu mengubah sesuai kemauan dan kesombongannya. Dia menjalani kehidupan bermesraan dengan semesta, manusia-manusia yang tak berselera memiliki rumah DP-NOL, mobil Karimun apalagi Ferari. Manusia-manusia bersahaja, yang memenuhi keinginannya menyambung nyawa cukup dengan mendaur nabati dan hewani sekitarnya. Kegigihannya hidup hanya untuk mensyukuri nikmat PENCIPTAnya, hidup dari hari ke hari menabung kebaikan untuk bekal dunia-akhirat, bukan untuk menimbun harta karun menebar gratifikasi bersedekah. Takdirnya menuntun Sinatrya berkeliling Nusantara, bertemu banyak keindahan semesta, keheningan dan kesentosaan manusia bersahaja.  Kesahajaan yang tersaput kabut singgasana. Kabut yang juga menyamarkan singgasana leluhur para punggawa, adipati, senopati, mahapatih bahkan Raja. Kabut yang tak teraba itu ternyata dingin merasuk sumsum tulang, siapapun. Kabut dingin itu bergerak perlahan ke langit menunggangi pusaran semesta menghangatkan kehidupan manusia bersahaja tanpa singgasana, juga tak berkehendak mengungkit kesinggasanaan leluhurnya. Membekulah kehidupan manusia-manusia di singgasana majemuk dan puncak kebekuan melingkupi singgasana tunggal. Manusia-manusia ini butuh kehangatan, oleh karena itu harus beraktivitas. Tidak semata aktivitas fisikal, intelektual dan spiritual semata, akan tetapi juga melampiaskan nafsu kesinggasanaan. Hemmm, sungguh merisaukan sebab ambisi kesinggasanaan ini mampu membangkitkan atmosfer magnetik membetot kepeng. Semakin kuat nafsu kesinggasanaan, semakin masif pusaran kepeng mengitarinya. Manusia-manusia ini tidak lagi merasakan kebekuan kabut, mereka menikmati kehangatan yang memabukkan.

Suasana hati dan pikiran Sinatrya yang risau mengingatkannya pada kehadiran Narada. Pemimpin para dewa ini akan selalu mendadak hadir saat kerisauan hati Sinatrya meninggi, sebab kabut dingin itupun ternyata sanggup menembus atmosfer Jonggringsalaka. Narada terusik saat kerisauan Sinatrya meninggi. Eeeladhalah, apa yang mengganggumu ngger? Mengapa Batarapun terusik karena kabut dingin itu? Hahaha, Sinatrya, aku tidak punya singgasana, juga tak kepincut, lalu mengapa aku harus terperangkap dalam kabut dingin itu? Aku menemani untuk memberimu pencerahan! Ahh maaf Batara, iya aku perlu pencerahan! Aku tak juga punya jawaban, mengapa kabut dingin mampu menerbitkan pusaran angin yang menerbangkan kepeng ke seantero jagad? Jawab dulu pertanyaanku ini Sinatrya. Siapa manusia yang nyaris tidak merasakan kehadiran kabut dingin itu? Manusia bersahaja tanpa singgasana dan tidak tergoda untuk memilikinya. Benar. Lalu bagaimana jika takdirmu menuntunmu menuju singgasana? Aku akan mensyukurinya dan bercermin, adakah nafsu kesinggasanaan telah membentuk karakterku? Jika iya, aku segera meninggalkan singgasana dan kembali berkelana. Sinatrya celingukan mencari Narada, tetapi yang dicari tidak lagi bersamanya. Waaa padahal Sinatrya masih menyimpan satu pertanyaan lagi. Bagaimana caranya supaya kepeng tidak anti gravitasi seperti selama ini? Fenomena kepeng di Nusantara seperti halnya remahan kertas yang berloncatan dan menempel di benda bermuatan elektrostatik. Tidak ada yang membumi!

Cidamar Permai Kav. 3

29 JANUARI 2018

SNS

 Gambar