Kalender
Agustus 2018
MSSR KJS
   1234
567891011
121314151617 18
19202122232425
262728293031 
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

HALIMUN

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 15-Jan-2018 | Dibaca : 183 Kali

Nusantara adalah NKRI, juga sebaliknya. Berdiam durja entah karena takdir ataukah ketidakpedulian, keelokan Nusantara tidak akan pernah meresap ke hati dan pikiran. Kaya akan misteri, pesona alam dan budaya juga karakter manusianya yang beragam, menjadikan Nusantara surga katulistiwa namun bernasib malang.

Dampak psikososial ekonomi budaya akibat hadirnya kolonial di Nusantara yang berkepanjangan, sampai detik ini, terasa dimana-mana. Nalar yang terpasung, memaksa penduduknya memaksimalkan anugerah Allah SWT yang lain, naluri. Terlambat menyadarinya membuat kekayaan Nusantara terhisap para kolonial, akal pikiran manusianya lumpuh dan hanya mengandalkan nalurinya untuk bertahan hidup. Manusia semacam ini mudah diakali, tidak waskita pada muslihat dan menjadi korban politik kolonial yang terkenal, devide et impera. Lontar, lontara atau apapun namanya yang memuat mahakarya intelektual para leluhur, disingkirkan jauh-jauh dari jangkauan intelektual cucu moyangnya. Bahkan jika perlu, dibakar dan yang masih berani mempelajarinya, disiksa. Masih membangkang juga, seluruh mahakarya tulisan nenek moyang Nusantara, digondol pergi.


Gambar 1. Di Pantai Meleura


Gambar 2. Bersiap menaiki Ngkuru2

Jeda intelektual berkepanjangan memusnahkan kekayaan intelektual para leluhur Nusantara berubah menjelma menjadi legenda-legenda, mitos-mitos yang menyuburkan naluri tetapi memandulkan nalar. Inikah pemicu abainya cucu moyang Nusantara pada kekuatan intelektual leluhurnya? Disusul lagi taktik sosial kolonial, hasil menelusuri sisik melik karakter sosial budaya penduduk berupa catatan rapi, yang kemudian menjelma menjadi taktik cerdik menghumbalangkan keserasian nalar dan naluri semakin membenamkan kemanusiaan cucu moyang Nusantara. Di Munapun terjadi bencana kemanusiaan semacam itu dengan kuatnya pemahaman penduduknya akan BOKHA. Semakin tinggi BOKHA seseorang, semakin tinggi derajat sosialnya. Dampaknya? Seperti halnya di Bali dengan KASTA, maka BOKHA juga cenderung menjerat dan memasung penduduk dalam lingkaran budaya yang dipenuhi suara batin. Burukkah? Tidak sepenuhnya seperti itu. Sebab, penduduknya survive meski dalam derita kehidupan. Tamatkah Nusantara?

Zainal Arifin, dosen Politeknik Pertanian Kupang, sejatinya berhak menuliskan kata LAODE di depan namanya, berasal dari Muna. Leluhurnya sendiri kaum penyiar agama Islam di Buton yang kemudian bermukim, berbaur dengan masyarakat setempat dan menjadi Imam Masjid di Loghiya, Muna Timur. Mengapresiasi karya sosioekonomi intelektualnya yang fenomenal di jasirah Timor dalam wujud Kawasan Ekonomi Masyarakat, KEM PertaminaFLip dan yang sejenis dengannya, Taman Eden, mewujudkan kunjungan spontan ke Loghiya di pulau Muna. Kala itu, Jumat- Sabtu, 15-16 Desember 2017, Zainal memperkenalkan manusia, semesta dan peradaban Loghiya.

Cermin abainya cucu moyang Muna akan karya intelektual leluhurnya adalah kondisi Mesjid Agung Kuba di Desa Loghiya. Mesjid yang dibangun pada tahun 1437 ini mengadopsi semua ritual islami di Masjidil Haram, termasuk tawaf. Bahkan shalat Ied Fitri dan Ied Adha, selalu dilaksanakan bertepatan dengan waktu shalat di Saudi. Sebelum direnovasi ke 4 kalinya, mesjid tua ini masih menjadi sentral kawasan dan umat Muslimin Muna bisa melakukan ritual tawaf mengelilingi mesjid. Sejak renovasi ke 4, titik sentral kawasan, arsitektur mesjid dengan 4 pilar kayu jati, jendela setengah bundaran bulan purnama, dua kubah dan halaman tawaf, sirna. Nilai arsitektur, kesejarahan dan karakter mesjid tua, tak terlacak. Ironisnya, arsitektur mesjid tua ini kini merana dengan morat maritnya balok2 beton yang ekspos , motif jendela dan pintunya yang compang camping, hasil kerja yang asal-asalan, plafon yang tidak kunjung terpasang dari kerangka mesjid model masa kini. Kondisi semacam ini jelas membuat kecewa siapapun yang datang berkunjung, kecuali sang arsitek dan pemborongnya tentu hehehe. Adakah jalan kembali?

Mungkinkah karena adanya paham BOKHA yang menjadi penyebab penduduk Muna mudah terasuki hal-hal terkait delta kekuasaan? Delta ini menimbulkan benturan-benturan sosial dalam arena struktur kekuasaan dan terhanyut ke dalam pusarannya. Sebagai dampaknya, IPM penduduk rendah, terlalu banyak lahan2 terlantar, moko (danau, telaga) asin tanpa terumbu karang dan ikan2, ketertarikan penduduknya lebih kepada silsilah daripada sejarah. Lebih mumpuni dalam hal mistik, menyingkir dari kenikmatan ilmu pengetahuan. Terasalah semesta Muna bak bunga bangkai. Indah tetapi tidak menyamankan. Yang memimpikan kehidupan lebih nyaman jauh dari cengkaman alam metafisik memilih pergi meninggalkan Muna. Bahkan ada yang lebih ekstrem, di rantau tidak ingin teridentifikasi sebagai orang Muna.


Gambar 3. Bupati di Goa I Liang Kobori


Gambar 4. Lukisan purba di Goa I

Tenggelam dalam alam pertentangan keistimewaan sosial dan tradisi menimbulkan dampak lain yang tidak kurang memprihatinkan. Para Tetua Adat yang selalu mengingatkan kelestarian alam dengan berbagai aturannya tanpa memperhatikan tuntutan hidup manusia sederhana yang harus dipenuhi, yaitu sejengkal ke bawah dan ke atas pusar, harus menerima kenyataan terumbu karang dan ikan2 di pantai Napabale, musnah. Juga di Meleura. Jadi, ibaratnya penjaga yang kelaparan akan menelan tuan dan lingkungannya sendiri. Alam semesta menjadi tidak berimbang tanpa adanya fauna. Siklus kehidupan menjadi tidak harmoni.

Perjalanan kedua, 4-7 Januari 2018 mengungkap fakta sejarah yang luar biasa. Berkunjung bersama pak Rustam, Bupati Muna yang belia, progresif dan penuh atensi ke Liang KOBORI menguak kekuatan dan karya intelektual manusia prasejarah Muna yang mengagumkan. Tampaknya di sinilah dahulu Kerajaan Muna Tertua jaman prasejarah terletak. Goa yang menjadi tempat tinggal, menyiratkan ukuran manusia yang setidaknya mempunyai tinggi badan sekitar 2 m. Undakan yang berukuran 40 cm tidak menyamankan manusia seukuran kita untuk mendakinya. Dinding goa yang letaknya paling depan, dipenuhi gambar2 atau simbol2 dengan warna merah dan hitam. Ada gambar hewan, manusia berburu, matahari, binatang berukuran jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan manusianya. Dinosauruskah? hehehe. Yang tidak ditemukan adalah gambar telapak tangan dan orang menari seperti halnya lukisan dinding di tebing Tual Maluku Tenggara. Tidak ada gambar tanaman.


Gambar 5. Goa II Pusat Liang Kobori


Gambar 6. Lanskap di depan Goa II

Sudah umum dikenali bahwa manusia-manusia yang berasal dari wilayah yang dahulunya adalah Kerajaan, tergolong cerdik pandai. Jadi, selayaknyalah jika manusia-manusia yang berasal dari Muna, pandai-pandai. Lalu mengapa mereka sepertinya tidak menyadari akan hal ini? Apakah karena sejarah manusia dan peradaban Muna belum sepenuhnya terungkap dan dipahami alam nalar mereka, bak halimun tebal yang menyaput puncak gunung tinggi? Jika demikian halnya, maka menguak sejarah kemanusiaan dan peradaban di Muna menjadi salah satu kunci kegemilangannya kini dan nanti.

Cidamar Permai Kav. 3, Cimahi
10 Januari 2018
SNS