Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

KEM PERTAMINAFLip KOLOK BENGKALA

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 27-Sep-2017 | Dibaca : 143 Kali

Satu dari 32 KEM PERTAMINAFLip yang dibangun serempak di 20 propinsi NKRI adalah KEM KOLOK Bengkala. Diberi nama KEM PERTAMINAFLip dikarenakan Kawasan Ekonomi Masyarakat ini dibangun Pertamina bersama FLipMAS INDONESIA. Karena dibangun dan berkembang untuk warga KOLOK, kemudian disebut KEM KOLOK. Di Bali, KEM dibangun di belahan utara, di sebuah kawasan yang termasuk wilayah Desa Bengkala, Kecamatan Kubu Tambahan, Kabupaten Buleleng. Pertamina membiayainya melalui dana PKBL, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan sementara FLipMAS INDONESIA bertanggungjawab atas strategi pembangunan dan pemberdayaan warga KOLOK.

Pertanyaan klasiknya adalah mengapa memilih Desa Bengkala, mengapa warga KOLOK? Padahal sebenarnya Bali bukan target KEM karena dalam program sebelumnya yang dibiayai PKBL Pertamina yaitu MP3D, Mitra Pertamina Penggerak Pembangunan Desa, tahun 2012-2013, sudah memperoleh tanggungjawab membangun (1) Bale Subak Pulagan, Tampaksiring dan (2) desa Warnasari, Jembrana. Salah satu lokasi dengan aktivitas agak berbeda dari sekian banyak lokasi MP3D di seluruh Indonesia yang didominasi kegiatan fisik, yakni di desa Nunmafo, Kecamatan Insana, Kabu¬pa¬ten Timor Tengah Utara, lahan terlantar diubah menjadi kawasan produktif. Zainal Arifin, dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang, bersama-sama warga yang serba kekurangan di wilayah itu, sukses mengubah lahan kering dan terlantar menjadi kebun sayuran, buah naga, cendana, pisang, pepaya, peternakan sapi dan ayam potong. Keberhasilan inilah yang meng¬inspirasi Pimpinan PKBL Pertamina saat itu, Wahyu Suswinto dan Gatot Siswowijono untuk mereplikasinya ke seluruh wilayah NKRI. FLipMAS INDONESIA ditugasi menyusun pem¬berdayaan masyarakat model baru hasil pengembangan MP3D Nunmafo. Maka terbitlah program KEM PERTAMINAFLip disertai kegiatan yang bermuara pada IPM, Indeks Pem¬bangun¬an Manusia. Juga kendali pelaksanaan program melalui Key Performance Indicators, KPI.

Di saat program MP3D masih berlangsung, setelah usai menyampaikan materi dalam workshop program Pengabdian kepada Masyarakat di STIKES Singaraja Bali, tanggal 21 Desember 2012, Ida Bagus Mardana, dosen Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja mengajak berkunjung ke keluarga Kolok yang tinggal dan hidup di tegalan terpencil. Desa Bungkulan tempat STIKES Singaraja berada dan desa Bengkala hanya berjarak sekitar 4-5 km. Sepanjang perjalanan waktu itulah, pikiran dan perasaan ini terbentur pada kehampaan. Apa yang harus dilakukan saat dan setelah pertemuan nanti? Sebab pengalaman 20an tahun di lapangan mengajarkan, setiap awal pertemuan pasti akan muncul pertanyaan: apa maksud kedatangan bapak? Sudah banyak yang datang ke sini, selalu menjanjikan kesegaran dan kesejahteraan. Tetapi, janji ternyata tinggal janji. Lalu? Waktu itu hari sudah agak senja sekitar pukul 16.00 WITA. Tegalan yang dikunjungi menjadi salah satu warisan leluhur Kolok yang masih tersisa di Desa Bengkala. Di tegalan itulah suami istri Kolok Sandi-Kolok Gading, dan Kolok Ngarda-Made Sami, menetap. Kolok Ngarda adalah anak tertua pasangan Kolok Sandi-Kolok Gading yang menikah dengan Made Sami (perempuan normal). Ada 2 (dua) rumah tinggal berukuran sekitar 2,5x2,5 m. Hasil karya sendiri. Rumah yang satu terbuat dari tiga perempat batako dan seperempat bagian gedeg, yang lainnya berdinding setengah bata tanpa plester, setengahnya lagi anyaman bambu. Tidak ada jendela, tidak ada lampu (Gambar 3, 5 dan 6), tidak ada plesteran lantai, tidak ada mebel kecuali ranjang.


Gambar 1. IB Mardana bersama Kolok Gading (almh)


Gambar 2. Made Sami dan Wayan Tika

Saat itu, Made Sami yang menjadi penerjemah dan pahamlah bahwa sudah banyak dosen, mahasiswa, peneliti yang berkunjung termasuk aparat pemda. Nyatanya mereka harus me-nerima fakta, siapapun yang datang dan berbicara akan mengulurkan tangan, tidak pernah kembali. Bertemu dengan warga Kolok ini memberi kesan keluguan, kejujuran dan keramah¬an. Kemiskinan segera terekam dari kecompangcampingan kawasan, keterbatasan fasilitas hidup keseharian, keterlantaran lahan di kawasan, kurangnya air untuk keseharian. Kegelapan yang menelan pandangan di kawasan, menyudahi pertemuan yang tak terancang ini. Ter¬bersit dalam pikiran untuk membantu, tetapi tidak satupun program pengabdian kepada masyarakat, PPM yang ada di DIKTI bisa diterapkan dosen2 di Bali. Sebab program PPM fokus hanya pada komoditas (aspek hilir) sementara warga Kolok ini harus ditangani hulu-hilir. Hulu yang bertujuan mengubah paradigma tentang kehidupan, tantangan dan perilakunya sementara hilir mencakup ketersediaan fasilitas sosial keagamaan, berkesenian, dan berkomunikasi juga komoditas dan fasilitas penunjang perekonomian.


Gambar 3. Rumah lama Kolok


Gambar 4. Sumur tua

Menuntut biaya besar dan satu2nya peluang membantu hanya melalui empati Pimpinan PKBL Pertamina. Pada saat itu, PKBL Pertamina sudah banyak membantu warga disabilitas, akan tetapi warga yang tuna rungu, Kolok dengan kehidupannya yang serba memprihatin-kan, belum tersentuh. Di larut senja itu juga dan dari tegalan itu pulalah, kondisi dan situasi warga Kolok tersampaikan via telepon dan Pimpinan PKBL Pertamina langsung memutuskan siap membantu melalui program KEM. FLipMAS menyiapkan strategi dan program pemberdayaannya.


Gambar 5. Rumah tinggal, dapur pra KEM


Gambar 6. Bale2 di lahan pra KEM

Hampir satu tahun berselang, tepatnya pada bulan Agustus 2013, bertempat di Hotel Borobudur, Pertamina mengambil keputusan final untuk membiayai program KEM menjadi 2 (dua) tahapan, yakni KEM I dan KEM II. KEM II tidak serta merta dilaksanakan jika sekiranya kualitas kinerja KEM I tidak memuaskan pihak Pertamina. Menindaklanjuti keputusan itu, pada tanggal 21 November 2013, bersama Bagus Mardana dan Ketut Kanta (Guru Sekolah Inklusi SDN 2 Desa Bengkala, ahli science language, penerjemah bahasa gerak warga Kolok) mengunjungi keluarga Kolok Sandi dan Ngarda di lahan tegalan mereka yang ditetapkan menjadi cikal bakal KEM Kolok.

Secara kebetulan, saat itu ada Kolok Mamo adik Kolok Ngarda yang mampir ke tegalan usai memancing. Mamo menawari kelapa muda dan segera memanjat dengan kedua lengannya memegang batang pohon, sementara telapak kakinya menginjak batang seperti berjalan di batang kelapa. Tidak merangkul batang kelapa sebagaimana pemanjat kelapa umumnya kemudian naik menggunakan tolakan kedua kaki. Kolok Ngarda memberitahu bahwa begitu¬lah cara warga Kolok memanjat pohon kelapa. Gerakan tangan kidal Mamo saat mengupas kelapa muda dan kerapihan hasil sayatannya sangat mengesankan. Mengingatkan kepada perajin2 profesional, artinya merefleksikan tingkat intelegensi yang lumayan baik.

Gambar 7. Kolok Mamo mengupas kelapa muda

Gambar 8. Sosialisasi program KEM kepada warga Kolok

Tertariklah hati dan pikiran ini untuk mem¬pelajari pola interaksi sosial antar warga Kolok dan Kolok dengan warga normal, juga hubungan mereka dengan Tuhan YME dan alam semesta lingkungannya. Apakah mereka juga memahami hakekat Tri Hita Karana yang menjadi pedoman hidup umat Hindu Bali? Ternyata warga normal di desa Bengkala sudah sejak kecil terlatih belajar bahasa Kolok. Sebab intensitas pertemuan mereka dengan warga Kolok terbilang tinggi. Ada sekitar 48 warga Kolok dari 2.749 penduduk desa (Profil Desa Bengkala, 2012). Di tegalan ini seperti di tegalan lainnya ada sanggah untuk mebhakti. Jika ada upacara besar di desa, warga Kolok juga diajak turut bersembahyang di Pura Desa. Pepohonan baik berbuah maupun tidak, semua dijaga meskipun tidak dirawat. Artinya pemahaman Tri Hita Karana juga hidup dilingkungan warga Kolok.

Gambar 9. Wantilan KEM I


Gambar 10. Rumah Kolok KEM I

Situasi dan kondisi lahan yang terbatas, potensi dan karakter warga Kolok yang khas, ke-trampilan psikomotorik dan keterampilan berpikir yang cukup baik, berakumulasi dari pengalaman hidupnya, kesukaannya berkesenian, menjalani hidup dalam kemiskinan yang berkepanjangan, memunculkan gagasan untuk membangun dan mengembangkan KEM Kolok yang berkarakter manusia Kolok itu sendiri, berbasis Religi dan Budaya Hindu Bali sesuai agama yang dianut dan lokasi tinggal mereka. Jadi tidak harus 100% mengikuti pakem integrated farming seperti 31 KEM lainnya. Jadilah KEM Kolok satu2nya KEM yang unik dan sangat menantang karena tidak hanya berkaitan dengan upaya peningkatan level sosial-ekonomi, dan mempersiapkannya menjadi trainer bagi Kolok yang lain di Bali atau bahkan Indonesia semata, akan tetapi juga pembentukan paradigma baru tentang kewajaran berpikir dan belajar tentang semesta, tentang keimanan kepada Hyang Widhi. Kehadiran FLipMAS sekaligus mereduksi bahkan menghapus stigma kaum intelektual yang dinilai lebih banyak memanfaatkan disabilitas mereka untuk kepentingan diri sendiri daripada memberi manfaat untuk peningkatan harkat dan martabat kehidupan warga Kolok. Di samping itu, warga Kolok juga sebagian besar belum bisa baca tulis. Dalam hal inilah seharusnya kaum intelektual itu mengambil posisi.


Gambar 11. Wantilan KEM II


Gambar 12. Bale Bengong KEM II

Melalui program KEM PERTAMINAFLip, karakter warga Kolok dibentuk untuk tidak dibelas kasihani akan tetapi sebaliknya, menumbuhkan respek bagi siapapun yang menemuinya. Kuncinya hanya satu yaitu menemukan hasrat hidup dan potensi intelektual yang ter¬sembunyi di balik kebisuannya. Untuk mengenali kesiapan dan kesungguhan warga Kolok dalam menjalankan program KEM, tanggal 22 November 2013, bersama Bagus Mardana dan Ketut Kanta bertemu Kepala Desa dan seluruh warga Kolok mensosialisasikan program KEM I di Bale Desa Bengkala. Kepala Desa yang kemudian diganti sesaat setelah KEM dimulai, karena masa jabatannya sudah berakhir.

Kondisi rumah tinggal dan kawasan pada masa pra KEM, sangat memprihatinkan dan me-merlukan bantuan yang bersifat segera. Namun sosialisasi program yang sudah dilaksana-kan sejak November 2013 belum juga terealisasi. Untuk mempelajari lebih mendalam dan me¬rekam sebanyak mungkin potensi kawasan, kemahiran intelektual dan motorik termasuk hasrat warga Kolok, kunjungan dilakukan kembali pada tanggal 6 Februari 2014. Dikenalilah kawasan tegalan yang eksis hanya sekitar 2 ha, tidak ideal untuk pakem integrated farming. Jadi harus diupaya¬kan pengembangan KEM Kolok tidak bersandar pada aspek pertanian, peternakan dan perikanan semata, akan tetapi lebih pada keterampilan sosial, berkesenian dan budayanya. Aspek yang bersifat niskala dan menuntut kesungguhan.

Yang paling mendasar dari sebuah kemitraan adalah kepercayaan. Selagi kepercayaan itu belum terbit, maka gelaplah semua target rancangan kerja bersama. Tetapi tumbuhnya kepercayaan memerlukan aksi, fakta dan waktu. Faktanya, kepercayaan itu tidak bisa diestafetkan, tidak bisa hanya sekedar dibahasakan. Lalu bagaimana bisa Pertamina mempercayai FLipMAS INDONESIA? Pertama karena semua anggotanya adalah dosen perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Kedua, karena FLipMAS INDONESIA adalah sebuah organisasi profesi yang legal dari sisi hukum dan bersifat nirlaba. Begitu kepercayaan itu mulai tumbuh maka tumpahlah seluruh harapan pada keikhlasan dan kreativitas aksi FLipMAS INDONESIA. Tanggal bersejarah itu akhirnya hadir juga, Rabu, 3 Desember 2014. Persis 2 (dua) tahun terhitung sejak kunjungan pertama ke tegalan. Memang terbilang lama untuk durasi penantian sosial baik bagi warga KEM maupun FLipMAS sendiri. Jadi, FW Ngayah Bali memperoleh kesempatan emas untuk menunjukkan kinerjanya dalam program KEM I, di samping 19 FLipMAS WILAYAH lainnya. Untuk mengekspos kinerja setiap KEM di seluruh wilayah NKRI, ke khalayak luas, FLipMAS INDONESIA membuka situs web dengan alamat www.flipmas.org. Khusus untuk KEM Kolok Bengkala, Candra Ahmadi, Dosen STIKOM Denpasar mengkreasikan situs www.kem-kolokbengkala.net.


Gambar 13. Rumah Kolok KEM II


Gambar 14. Barisan pohon pisang

Lahan warisan leluhur Kolok tinggal satu-satunya setelah lahan milik Kolok Pindi terjual sesaat sebelum KEM dilaksanakan. FLipMAS INDONESIA kemudian menetapkan KEM dibangun di satu-satunya lahan tersisa warisan leluhur Kolok dan menjadi pusat kegiat¬an ekonomi, ritual dan interaksi sosial semua warga Kolok di Desa Bengkala. Beberapa hari sebelum KEM ditetapkan, Kolok Gading istri Kolok Sandi pewaris lahan, meninggal dunia.

Dengan segala keunikannya, tingginya tantangan yang dihadapi baik dalam segi disabilitas warga, potensi intelektual dan keterampilan motorik yang masih terpendam, keterbatasan lahan, peluang untuk menjadikannya salah satu destinasi wisata di Desa Bengkala, Kuswandi sebagai Pimpinan PKBL Pertamina menetapkan KEM Kolok Bengkala sebagai IKON PKBL Pertamina. Menjadi IKON berarti harus memiliki perbedaan signifikan dengan seluruh KEM lainnya di NKRI. Perbedaan itu sudah dicanangkan sejak awal program yakni peningkatan harkat dan martabat warga Kolok bersandar pada karakter warga, religi dan budaya Hindu Bali.

Hampir setahun kemudian, setelah dilakukan evaluasi bersama mengenai kinerja setiap KEM PERTAMINAFLip I, tepatnya Kamis, 3 September 2015 secara formal era KEM II dimulai. 20 FW berbenah melakukan introspeksi, juga FLipMAS INDONESIA. Hasilnya dua-tiga KEM melakukan pergantian penanggungjawab atau Ketua KEMnya. Termasuk KEM Kolok. Basis evaluasinya adalah (1) kewajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterimakan, (2) sinergisme kepakaran di lapangan, dan (3) kecintaan warga KEM. Sebab pergantian bisa dikarenakan salah satu komponen basis evaluasi, atau dua komponen atau bahkan ketiga komponen. Semisal saja, warga KEM sudah tidak berkenan atas perilaku Ketua KEM, bahkan sampai tidak mempercayai, maka tidak ada jalan lain kecuali mengalienasikannya. Dalam perjalanan pembangunan KEM Kolok, di era KEM II akan dimulai, tongkat komando diestafetkan dari Bagus Mardana kepada Putu Suwardike, dosen Universitas Panjisakti. Dimulailah aksi yang lebih humanis kepada semua pihak terutama Kepala Desa Dinas juga Bendesa Adat Desa Bengkala serta warga Kolok sendiri. Para koordinator diaktifkan untuk bersinergi di kawasan. Pasukan FW Ngayah terbilang lengkap kepakarannya dari hulu (sosial humaniora) sampai hilir (rekayasa dan pertanian). Kombinasi kepakaran semacam ini sangat diperlukan sebab keberhasilan pembangunan masyarakat tidak semata-mata terletak pada aspek konstruksi dan komoditas fisik yang terbilang hilir akan tetapi juga ditentukan kualitas interaksi sosial antara kawasan dengan FLipMAS dan kawasan dengan masyarakat eksternal. Pada periode ini pula hampir semua aset tidak bergerak (bangunan, kandang) mengalami penyempurnaan, melanjutkan pengeboran sumur sedalam 156 m, yang diprediksi sebelumnya hanya 80 m. Juga pengerasan jalan masuk dengan batu kerikil.


Gambar 15. Bale tenun selatan KEM I


Gambar 16. Kandang sapi KEM I

Membangun infrastruktur KEM, apalagi di kawasan yang terpencil seperti Bengkala, tetap saja wajib hukumnya memperhatikan keserasian konstruksi dengan semesta sekitarnya. Bahkan dengan karakter manusianya. Oleh karena itu, I Made Nada, dosen Universitas Mahasaraswati Denpasar, yang bertanggungjawab atas konstruksi fisik, menyempurnakan konstruksi KEM I setelah mendiskusikannya dengan warga Kolok dan merenungkannya. Sementara Pande Wayan Renawati, dosen IHDN Denpasar membantu I Made Nada dalam penyusunan tata letak bangunan dan desain Padmesana. Jadilah konstruksi KEM II Kolok Bengkala berwajah Hindu, damai, alami dan fungsional.

Membangun KEM bukan monopoli seseorang, one man show dan memerlukan koordinasi sistematis seluruh kepakaran. Meskipun masing-masing pakar memahami apa yang harus dikerjakan, akan tetapi konvergensi daya pikir dan intuisi tetap dituntut sehingga karya satu pakar dapat diterima pakar yang lain. Dengan begitu, karya monumental KEM merupakan konvergensi karya seluruh pakar yang berkontribusi. Untuk itu diperlukan koordinasi sistematis yang bersifat terbuka, dialog konstruktif obyektif saat mencari solusi. Tidak bisa dengan hanya bersandar pada fakta pakar adalah pakar. KEM merupakan karya bersama para pakar. Dengan cara ini inefisiensi akan terelakkan. Sebab komunikasi kepakaran bisa terbentuk, walhasil karya yang dihasilkan, maksimal. Jadi misalnya, pakar teknik sipil yang ditugasi membangun kandang sapi atau babi, harus berkonsultasi dengan pakar ternak sapi atau babi. Saat akan membangun bale tenun harus berdiskusi dengan pakar tenun. Menyulam dan menganyam kepakaran inilah harusnya dilakukan pimpinan tertinggi di wilayah. Disinilah letak kekompakan intelektual, meninggalkan ego keilmuannya masing-masing. Hal lain yang tidak kalah penting saat melakukan pemberdayaan masyarakat, pola serial belum tentu yang terbaik. Pola paralel juga demikian. Sebab bagaimana warga bisa belajar berternak ayam pedaging, kalau kandangnya belum dibangun. Akan tetapi, pembangunan fisik dapat dijadwalkan paralel dengan kegiatan pertanian atau lainnya tanpa harus menunggu selesainya seluruh kegiatan konstruksi. Tergantung pada misi dan jenis aktivitas di lapangan, sebenarnya bisa dipilih pola paralel dan/atau serial, yang penting tidak ada benturan jadwal dan kevakuman di lapangan. Pola serial akan menghasilkan jeda dan jeda aksi merefleksikan tidak adanya kegiatan di lapangan. Saat jeda inilah KEM Kolok tampak sepi dan terekam saat Pimpinan CSR SME Pertamina yang baru, pak Agus Mahfud Asngari datang berkunjung.

Salah satu faktor humanistik lain yang harus dihindari sebab bisa berakibat fatal saat bekerja bersama baik dikala membangun KEM maupun program lainnya adalah sikap suka menyalahkan, suka meremehkan potensi dan kemampuan teman-temannya. Kepemimpinan seperti ini sesungguhnya hanya memastikan ketidakmampuan seseorang dalam memimpin. Siapa sesungguhnya yang dirugi¬kan dengan sikap-sikap semacam ini? Yang pasti adalah warga KEM, juga FLipMAS sendiri. Kondisi ini ternyata terdeteksi pada beberapa KEM dimana Kebhinekaan Intelektual tidak terbentuk. Jadilah KEM Kolok yang menjadi IKON Pertamina terposisikan pada sorotan kritis Pertamina.

Solusi macetnya Kebhinekaan Intelektual adalah kerendahan hati dan keberanian mengakui eksistensi dan manfaat kepakaran yang berbeda. Di KEM Kolok realisasi Kebhinekaan Intelektual dimulai dengan acara penyucian bangunan dan kawasan juga pikiran semua PROdikMAS. Hari Minggu, 21 Mei 2017, diselenggarakan acara melaspas seluruh bangunan di KEM Kolok dengan dihadiri para pemangku adat Desa Bengkala, pak Edward Pertamina, FI dan FW Ngayah. Pak Kuswandi sudah melakukan inspeksi satu hari sebelumnya di KEM Kolok sampai turun ke gazebo 2 jalur treking 1 Telibulantang. Sejak saat itulah semua program yang sudah direncanakan sebelumnya, meliputi aktivitas peternakan, pertanian, kerajinan tenun, pelatihan tari, yoga dan jungle trecking, dilaksanakan secara serempak penuh antusiasme. Jadi, KEM Kolok Bengkala masih terbilang prematur dalam menghidupi semua kehidupan berkesenian, budaya yang berniai ekonomi dan rentan pada tekanan-tekanan sosial internal dan eksternal. Oleh karena itu, uluran tangan untuk mem¬bantu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial dan ekonomi masih diperlukan meskipun tidak ada lagi dana bantuan yang mendukung. Apapun yang baru tumbuh memang memerlu¬kan pemikiran dan aksi-aksi kemanusiaan sebelum pada saatnya nanti sayapnya mengepak karena mandiri. Dengan diresmikannya KEM Kolok Bengkala pada hari Sabtu, 8 Juli 2017, diresmikan pula 28 KEM lainnya secara simbolis. Menandai berakhirnya era KEM II dengan segala pernak-perniknya.

Cimahi Bandung, 12 September 2017