Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

PETARUNG

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 13-Jul-2017 | Dibaca : 145 Kali

Kata bertuah BERBEDA SATU ITU atau BHINNEKA TUNGGAL IKA mahakarya hasil kontemplasi Mpu Tantular itu entah terinspirasi kondisi atom ataukah SUMPAH PALAPAnya Mahapatih Gadjahmada? Atau fenomena semesta lainnya? Darimanapun datangnya asal usul inspirasinya, kata itu membangkitkan tantangan yang luar biasa berat di kala dosen menyanggupi untuk membangun kawasan berkehidupan. Sebab di kawasan ternyata tidak mudah menemukan tokoh sekaligus pemimpin yang mampu menunggalkan bhinnekanya hasrat kelompok masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Pemimpin yang secara cepat memahami dan beradaptasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengkomunikasikannya secara sederhana dan jitu kepada warganya. Pemimpin yang secara spiritual juga berkemampuan menentramkan hati dan pikiran rakyatnya atas kedatangan tawaran perubahan. Langkanya sosok pemimpin di kawasan mewajibkan dosen harus bertindak sebagai pemimpin sekaligus pendidik alumni PT menjadi representatif dosen yang sejalan dengan waktu dimatangkan di kawasan. Atau menemukan salah seorang di antara warga yang berpotensi menjadi tokoh disegani kelak.

Dosen memang tidak serta merta mampu menjadi pemimpin di kawasan. Sebab di kampus, tanpa harus mempunyai karakter pemimpin, dosen sudah mampu menunggalkan perilaku dan pikiran mahasiswa. Kalender akademik, kurikulum disertai proses belajar mengajar, aktivitas non kurikuler sudah cukup memasung mahasiswa terhadap liarnya beragam keinginan. Di kawasan kesemua itu tidak ditemukan. Jika mahasiswa fokus pada kualitas kelulusan maka masyarakat lebih perduli akan kualitas kehidupannya. Dengan begitu, tingkat keliaran akan hasrat yang terbit, berbeda signifikan. Hasrat kawasan yang paling mudah dimanunggalkan adalah mewujudkan benda berdimensi, seperti Candi, Wantilan, kandang, Gapura dan lain-lainnya. Jadi, tidak sukar jika kegiatan para dosen di kawasan adalah membangun fasilitas-fasilitas fisik. Dalam hal ini hasrat masyarakat bisa dikunci dengan aktivitas terukur, berdimensi, sebab tujuan akhirnya mudah dipahami. Akan tetapi, justru pada periode ini, dosen biasanya terpukau dan puas dengan kontribusi masyarakat yang tampak luar biasa aktif. Memasuki fase pasca konstruksi fisik, dosen terlambat menyadari kehadiran pengunci hasrat sosial di kawasan. Terkejut pada kenyataan munculnya hasrat liar yang sukar dikendalikan, dosen lebih memilih sikap kompromistis. Lupa pada misinya membangun kawasan berkehidupan. Pada titik ini, kegagalan sudah hadir di pelupuk mata. Pemicunya ternyata hal yang sepele. Kekuatan interaksi sosial kawasan dalam mensinergikan hasrat, tidak terdeteksi saat dosen melakukan social mapping. Dosen seperti terkunci intuitive skillnya saking asyik bermain dengan technology skillnya mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data untuk ditransformasikan menjadi program dan kegiatan. Lengah pada kekuatan interaksi Tuhan-manusia, manusia-manusia dan semesta-manusia di kawasan.

Membangun kawasan berkehidupan menuntut dosen mencermati dan memahami kehidupan kawasan itu sendiri, khususnya interaksi sosial budaya masyarakatnya. Tidak mungkin memahami jika tidak pernah menyatu dengan kawasan dan komponennya seperti manusia, semesta dan komoditasnya. Jadi, hasrat kawasan harus teridentifikasi, terintegrasi, terumuskan, tersampaikan dan merefleksikan kewajaran. Akan tetapi, bagaimana hasrat ini bisa dikenali dan teridentifikasi kalau dosen hanya singgah sejenak bercengkerama? Layaknya kupu-kupu mandi?

Seorang grandmaster pasti mempunyai sekondan, lawan latih tandingnya sekaligus penasehat dalam mematangkan strategi dan taktik bertanding. Mereka akan berusaha mencuri tahu hasrat lawan dan cara mencairkan lalu memusnahkannya. Bak grandmaster itulah dosen sebaiknya beraksi saat membangun kawasan berkehidupan. Sebab, untuk apa melakukan social mapping jika hal kunci semacam itu tidak ditemukan? Sekondan diperankan dosen-dosen dalam tim dengan berbagai kepakaran hulu-titian-hilir dalam istilah paradigma baru PPM. Sedangkan bidak catur sebagai taktik dan strategi di lapangan. Sedangkan lawan direpresentasikan sebagai hasrat kawasan. Dengan demikian, di kawasan yang berbeda, hasrat yang teridentifikasi juga lain. Konsekuensinya, taktik dan strategi yang diterapkan, berlainan.

Oleh karena itu, tim dosen yang tidak pernah atau hanya secara sporadis bertemu untuk mengevaluasi taktik dan strateginya di lapangan, harus bersiap menghadapi kegagalan. Apalagi dibebani dengan perilaku seperti kupu-kupu mandi. Dosen dengan perilaku semacam ini tidak akan siap menghadapi keliaran hasrat kawasan. Cenderung KINTIR terbawa perbawa kawasan. Grandmaster adalah petarung intelektual yang wajib hukumnya memahami, dan setiap detik siap mengatasi kerlap kerlipnya hasrat lawan. Bersama para sekondannya, seorang grandmaster memahami betul misi yang mesti dilaksanakan dan siap mengatasi hasrat tak terduga lawannya. Dengan begitu, kecepatan dan kematangan berpikir, keberanian bersikap dan mengambil keputusan harus dimiliki petarung. Durasi pertarungan taktik dan strategi seperti itu, bisa memakan waktu panjang dan melelahkan baik psikologis maupun kemampuan berpikir. Belum lagi jika pertarungan harus ditunda. Begitu jugalah kiranya yang mendera dosen di kawasan. Sebab sejatinya dosen tidak mengalami kelelahan fisik akan tetapi lebih pada pikiran dan perasaannya. Karena itulah, banyak dosen saat kewalahan mengatasi kerlap kerlipnya hasrat kawasan, lebih memilih menyelesaikan pekerjaan dan menghabiskan dana pembangunan kawasan selekasnya. Karena mereka ingin sekali segera menikmati kelegaan terbebas dari keliaran hasrat yang tidak dipahaminya.

Hanya dosen yang mampu secara konsisten menjinakkan keliaran hasrat kawasan lalu menyerasikannya dengan misi pembangunan kawasan berkehidupan yang dipahaminya, cenderung memperoleh respon positif dan dipercaya. Dosen seperti ini biasanya suka bermalam-malam bersama masyarakatnya di kawasan, ikut merasakan derita dan ketidaktahuan akan jejak yang sebaiknya dinapaktilasi. Menyatu dalam dinamika hasrat kawasan.

Cidamar Permai KAV 3
Selasa, 27 Juni 2017
SNS