Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

KINTIR

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 06-Apr-2017 | Dibaca : 286 Kali

Pertanyaan siapapun pemilik dana CSR dan/atau PKBL kepada mitra kerjanya dalam upaya memberdayakan masyarakat adalah mandirikah warga penerima bantuan setelah semua perhelatan selesai? Berapa lama waktu yang diperlukan sampai warga benar2 mandiri? Pertanyaan semacam ini umumnya terlontar kalau pekerjaannya membangun kawasan berkehidupan. Kalau membantu permodalan, peralatan proses atau segala sesuatu yang bersifat hilir/komoditas bagi UMKM, pertanyaan serupa nyaris tidak pernah terdengar. Sebab sebelumnya, semua hal sudah berfungsi. Kegiatan bantuan hanya tertuju pada peningkatan fungsi dan fasilitas yang ada.

Pengalaman dengan program pembangunan kawasan berkehidupan (KBH), KEM PERTAMINAFLip, diperlukan waktu 2 plus 1. Artinya, 2 tahun untuk operasional pembangunan kawasan, plus 1 tahun supervisi dan pematangan manajerial. Meskipun faktanya FLipMAS dan Pertamina memaksakan 2 plus ½. Hasilnya? Masih harus dinantikan!

Membangun KBH artinya mengubah kawasan yang tidak memberi kehidupan layak kepada penghuninya menjadi area produktif kreatif, inovatif, ekonomis dan berbudaya. Jadi menuntut jenis pekerjaan yang mampu membalut seluruh unsur kawasan yang bernafas, bergerak dan tidak bergerak serta produk alam pikir. Oleh sebab eksistensi semua unsur penuh dinamika, maka pekerjaan ini juga menuntut manusia2 dinamis, baik alam pikir, instink maupun geraknya. Ambil saja 3 unsur utama sebuah kawasan, yaitu (1) manusia, (2) kawasan (lahan-flora-fauna) dan (3) komoditas. Di kawasan yang dihuni warga berkekurangan umumnya yang ada hanya unsur (1). Unsur (2) umumnya berupa lahan kering (tidak pernah diolah apalagi ditanami) atau tadah hujan (diolah dan ditanami setahun sekali). Unsur (3) memberi tambahan pendapatan, hanya saat panen. Tetapi jika iklim tidak sesuai kalender empirik, padi di ladangpun puso, gagal panen. Begitu juga nelayan, saat panen ikan teri, pendapatan melimpah. Begitu barisan panjang ikan teri menempuh lintasan baru, jauh dari bagan penyergapnya, maka nelayanpun kelimpungan.

Adanya tiga unsur utama memaksa siapapun yang berkehendak membangun KBH untuk bekerja multi disiplin bahkan multi PT. Unsur (1) memiliki keinginan, unsur (2) mengekspos keterbatasan dan unsur (3) menuntut manfaat (1) dan (2). Jadi, di dalam mengantisipasi hal ini, FLipMAS menggabungkan dosen2 berbagai kepakaran ilmu sesuai dengan tuntutan perubahan di setiap unsur. Unsur (1), disimak, didalami kepandaiannya, karakter, budaya dan keterampilannya berpikir. Unsur ini dikerjakan dosen sosiologi-antropologi, hukum, pendidikan, kesehatan dan budaya. Unsur (2) diproduktifkan dosen2 pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan. Sedangkan unsur (3) menjadi bagian dosen2 sains-teknologi untuk berkontribusi mengkreasikan produk2 kawasan. Juga dosen di bidang ekonomi.
Tetapi, ada 3 (tiga) pola pikir dan cara kerja nyeleneh yang bisa jadi dilakukan dosen2 dalam konteks KBH ini, antara lain

1. POLA PIKIR OKD
Berasumsi bahwa warga yang masih serba berkekurangan itu disebabkan tidak paham dan belum mahir menggunakan teknologi, maka dosen membelanjakan dana bantuan untuk pengadaan labtop plus infocus, pengering tabir UV, water treatment, vacuum-frying, freezer. Pikiran semacam ini seringkali muncul pada kelompok Orang Kaya Dadakan, memborong barang2 mewah tanpa mengerti fungsinya. Berharap warga dengan segera mampu mengoperasikan semua peralatan itu, ternyata kecelik. Peralatan dibiarkan tidak tersentuh dan terbengkalai sejalan dengan perjalanan waktu, mangkrak. Sang dosen lupa kalau warga bukan mahasiswa dan peralatan serba canggih masih menjadi hantu buat mereka. Jadilah kawasan itu TPA-T, tempat pembuangan akhir-teknologi. Sang dosen terlena dengan angan2nya yang tidak membumi, untuk menjawab persoalan warga dan kawasannya. Jadilah kawasan itu lungkrah (tak berdaya) dengan kehadiran teknologi.

2. POLA PIKIR KASIR
Biasanya pola pikir semacam ini terbentuk dalam diri dosen yang introvert, mabuk kepayang dengan kemampuan ilmunya, tidak bisa berteman juga tidak suka ditemani. Ketiga unsur kawasan dikelola berbasis ilmunya sendiri, yang mungkin hanya pas untuk solusi persoalan unsur (3). Unsur (1) dan (2) diurus dengan jurus feeling, personal approach dan gambling. Program tampak berjalan sebagaimana mestinya, sebab kegiatan dilakukan warga sekehendak dan sebisa mereka. Tidak ada revolusi tidak ada pencerahan intelektual di kawasan, karena sang dosen hanya memilih peran sebagai penyalur dana. Tidak ada desain KBH idaman, kalau toh ada, pembangunannya diserahkan sepenuhnya ke warga juga Lurah. Sang dosen tidak menyadari kalau dia memfungsikan dirinya hanya sebagai juru bayar, bukan pencerah. Konsekuensinya adalah wajah dan rejeki kawasan tidak beranjak kemana-mana.

3. POLA PIKIR BLANTIK
Blantik adalah pialang ternak, di Jawa khususnya sapi. Mereka inilah yang bertindak sebagai penentu harga seekor sapi. Beroperasi di pasar2 hewan, menolong pembeli yang mencari sapi bakalan dan membantu peternak yang akan menjual sapinya. Prinsipnya sebagaimana pialang umumnya, mencari untung. Pola pikir blantik yang ditiru sang dosen dalam membangun KBH, tertuju hanya pada nominal keuntungan semata. Tidak perduli pada wajah kawasan yang tampak tertib tetapi tidak fungsional. Tidak perduli warga yang prihatin pasrah, sebab itu memang bukan tujuannya. Kehidupan warga tetap terpasung kemiskinan. Haknya dicuri. Sang dosen terbius aroma kertas bergambar Proklamator bangsa.
Ketiga pola pikir nyeleneh ini nyata terjadi di lapangan dan sejatinya merefleksikan ketidakberdayaan sang dosen dalam memimpin dan membangun KBH. Semuanya KINTIR (bahasa Jawa: hanyut) terbawa kharisma kawasan, terseret keserakahan. Ironisnya, sang dosen sadar dan puas melakukannya!

CIDAMAR PERMAI, KAV. 3
31 MARET 2017
SNS