Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

EBOLA APBN

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 26-Mar-2017 | Dibaca : 238 Kali

Nyaris seluruh kegiatan yang dananya bersumber baik dari maupun non APBN, dapat dipastikan akan adanya program monitoring dan evaluasi. Khususnya, kegiatan dengan durasi satu tahun atau lebih. Entah itu program pendidikan/pengajaran, riset ataukah pengabdian kepada masyarakat. Melaksanakan program dengan durasi yang sudah dipastikan, satu, dua atau tiga tahun di Indonesia, bukan hal mudah. Sebab, antara jadwal kegiatan dan jadwal anggaran hanya harmoni dalam proposal tetapi tidak tertib saat implementasi program. Konsekuensinya adalah hasil kegiatan yang tidak maksimal. Kegiatan monitoring dan evaluasi, MONEV, pada hakekatnya ditujukan untuk mengidentifikasi distorsi antara perencanaan dengan pelaksanaan lapangan. Juga antara RAB proposal dengan nilai nominal dan keabsahan pembiayaan. Akan tetapi, entah apa penyebabnya, tidak banyak pemonev yang tertarik pada kebenaran materi pekerjaan apalagi distorsi penggunaan dana. Apakah disebabkan karena keterbatasan waktu dan anggaran monev? Ataukah ketidakmampuan untuk memahami, mengidentifikasi dan menghitung secara cepat antara volume kegiatan yang sudah dikerjakan dengan nilai nominalnya?

Kelemahan utama dosen dalam hal melaksanakan kegiatan dengan dana pihak lain adalah pencatatan uang masuk dan keluar. Tidak diketahui jelas berapa prosen dosen pelaksana program mampu melakukannya dengan benar. Kegiatan mencatat semacam ini memang tidak diajarkan kepada dosen2 kecuali yang prodinya erat terkait dengan accounting dan bookkeeping. Belum lagi harus memungut, mencatat dan menyetorkan pajak penghasilan berkenaan dengan kegiatan tersebut. Siapapun tahu, semakin mendekati jadwal monev, pelaksana kegiatan kian khusuk menyiapkan pertemuan singkat itu. Dan juga mahfum bahwa saking singkatnya pertemuan nyaris tidak terjadi dialog intelektual apalagi menyentuh tanggungjawab besar lainnya, yakni keabsahan penggunaan anggaran negara yang kita pahami semua berasal dari uang rakyat. Abai pada yang satu ini menyebabkan dosen2 tidak mendidik dirinya menjadi pengguna uang yang bertanggungjawab. Begitu pula yang terjadi saat menggunakan dana pihak lain, kelemahan ini sangat2 menonjol.

Hasil monev umumnya menjadi acuan institusi penyandang dana untuk pengambilan keputusan dengan porsi cukup besar. Sebab itu, tidak perlu heran jika saat monev dilakukan, apakah di institusi PT ataukah di tengah belantara sunyi, suasana yang biasanya sepi menjadi hiruk pikuk. Suasananya dibentuk sedemikian rupa sehingga pemonev terkesan akan keberhasilan pekerjaan dan menilainya layak untuk dibiayai pada tahun berikutnya. Pelaksana kegiatan yang sangat mengandalkan hasil monev, biasanya akan segera kehilangan selera untuk menjaga semangatnya terus membara sehingga kualitas kinerjanya akan menurun. Andai saja, para pemonev menyadari akan hal ini maka kelumpuhan syaraf yang menyerang pelaksana kegiatan untuk berbuat maksimal, mungkin dapat dihindari. Karena tidak ada lagi yang membuat para pelaksana kegiatan, tereksitasi, meningkatkan produksi adrenalinnya, maka setelah monev, konsentrasi secara umum akan merosot. Gairah kembali membara saat menjelang monev mendatang, lalu melempem lagi setelahnya. Begitu berulang sehingga beberapa masa kemudian membentuk siklus yang harmoni. Kalau sudah demikian adanya, maka hasil kerja menjadi seadanya, penggunaan danapun layaknya membelanjakan uang pribadi. Tak peduli lagi pada keserasian antara kualitas karya dan uang yang dibelanjakan.

Dialogi sesaat tanpa menyentuh akar materi kegiatan dan keabsahan pertanggungjawaban dana, telah menyebabkan APBN yang seharusnya mampu mengatasi persoalan bangsa, malah berubah menjadi virus ebola yang mematikan rasa tanggungjawab bangsanya. APBN mestinya tidak perlu dipersoalkan, sebab hanya merupakan gumpalan angka2. Akan tetapi para penikmat angka2 itu yang justru harus membangun integritas dirinya, ya intelektualnya ya ahlaknya. Tengoklah kinerja D1, D2 dan D3 dosen, apakah telah mampu mengubah nasib bangsanya atau baru mengubah nasibnya sendiri?


Cidamar Permai Kav. 3, Cimindi
SNS
22 Maret 2017