Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

EGOIS

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 24-Mar-2017 | Dibaca : 227 Kali

= D1 + D2 - D3?
Kapan ya peraturan yang diberlakukan bagi dosen, atraktif? Dituntut untuk produktif, kreatif, bahkan inovatif , tetapi peraturan yang dianut, intimidatif. Kalau Tridarma masih menjadi kewajiban dosen, mengapa sampai saat ini masih kurang dari 5% dosen yang melaksanakan darma PPM, D3. Sekitar 20-25%, riset, D2, dan 100% mengajar, D1. Angka2 itu merujuk pada fakta jumlah pelaku di lapangan sekarang. Situasi semacam ini jelas tidak akan jauh berbeda dari porsi komponen masing2 darma dalam skor kenaikan pangkat/ jabatan dosen.

Manakah yang lebih tepat untuk memaknai kewajiban dosen dalam melaksanakan Tridarmanya. Apakah yang penting itu porsi jumlah pelaksana masing2 darma di seluruh NKRI ataukah mendarahdagingnya semua darma dalam karakter dosen? Mestinya yang terakhir ini! Akan tetapi, peraturan yang mengatur skor promosi jenjang karir dosen yang berlaku, tampaknya tidak perduli. Sebab, porsi D1:D2:D3 sekarang ini adalah 40:40:10% (kenaikan jabatan ke Lektor Kepala) atau 45:35:10 (untuk kenaikan jabatan ke Lektor)? 10% sisanya untuk unsur Penunjang Tugas Dosen. Jika D1 dan D2 hitungannya minimum, maka D3, maksimum 10%. Sudah tepatkah? Sebab, dengan rasio porsi semacam itu, dosen dipaksa untuk mengutamakan pendidikan/pengajaran kemudian riset dan sesuka hatinya melaksanakan PPM. Akhir2 ini malah riset yang menjadi biang keributan di PT. Dosen yang sudah memiliki jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar diwajibkan selama kurun waktu 3 tahun untuk mempublikasikan artikel ilmiah dalam jurnal terindeks SCOPUS. Benchmarknya selalu jumlah publikasi internasional bangsa ini yang masih jauh di bawah Malaysia. Pertanyaannya adalah sudah ditelisikkah berapa banyak publikasi di Malaysia yang justru ditulis peneliti asli Indonesia di sana? Bagaimana seriusnya perhatian pemerintah mereka dalam menyediakan fasilitas mutakhir riset? Lalu, adakah kewajiban dosen di Malaysia untuk Memajukan Kesejahteraan Masyarakat dan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa seperti yang dituntut UU Pendidikan Tinggi No. 12 Tahun 2012 dalam melaksanakan D3? Jadi, jika harus memilih, kebanggaan dengan kinerja publikasi yang jauh mengungguli Malaysia, sementara bangsanya sendiri masih banyak yang kelaparan? Hidup dalam kemiskinan? Ataukah sebaliknya?

Dengan rasio porsi D1:D2:D3 yang diberlakukan selama ini, pemerintah mungkin tidak menyadari bahwa peraturan yang mereka terbitkan, justru akan memandu terbentuknya karakter dosen2 yang bukan PENDIDIK? Seorang PENDIDIK pasti akan berkeberatan diterapkannya indikator kinerja Drop Out mahasiswa harus NOL. Juga akan menolak indikator kinerja yang mewajibkan jumlah populasi mahasiswa ber IPK 3 (misalnya) naik dari masa ke masa. Sebab untuk mencapainya, hal yang paling lazim terjadi adalah hilangnya korelasi antara nilai dan kepintaran. Oleh karena itu, tidak prihatinkah kita bahwa dosen2 PT kini cenderung semakin menjadi manusia yang baik, tetapi bukan pendidik yang baik?

Kualitas D1 ditentukan tingkat kematangan keilmuan. Artinya mengajarkan apa yang dipahami, bukan apa yang dibaca. Karena pelaksanaan D1 sifatnya individual, maka dosenpun akan menampakkan egonya saat mengajar, bahkan seringkali memunculkan sikap egoistis. Demikian pula riset yang bersifat individual atau kumpulan kecil dosen, cenderung akan memandu dosen untuk juga egois. Hal ini direfleksikan pada topik yang fokus pada keinginan pribadi dan belum banyak terinspirasi kebutuhan eksternal, apalagi masyarakat. Juga tercermin pada upaya mati2an membiayai publikasi internasional yang mahal. Padahal sampai kapanpun, jika tidak ada gerakan revolusioner intelektual, bangsa ini tidak akan pernah mengimbangi level negara pemilik SCOPUS dan sebangsanya itu. Di lain pihak, D3 yang sama sekali tidak diperhitungkan dalam pembentukan karakter dosen sebagai pendidik yang baik justru bersifat sebaliknya. Dosen yang sudah mampu melaksanakan D3 itu secara kontinyu dan konsisten, berpeluang besar untuk mematangkan ilmu dan kedewasaannya dalam dunia pergaulan multi disiplin ilmu bahkan antar PT. Selain melalui pembuktian teori yang dipelajarinya di lapangan, juga berpeluang menemukan sains dibalik ketradisionalan bangsanya. Kehadirannya ditengah masyarakatpun akan turut membantu mencerahkan akal pikiran (mendorong pembentukan technology skill) sekaligus menambah keyakinan masyarakat akan kebenaran pengetahuan tradisional yang diperoleh dari nenek moyangnya (intuitive skill). Bangsa yang tercerahkan seperti inilah yang siap untuk diajak maju. D3 inilah sejatinya yang membentuk pribadi atau karakter dosen yang tidak egoistik. Jadi, kemungkinan dosen berkembang menjadi manusia egois sangat besar jika hanya mau dan suka melaksanakan D1+D2, tetapi menampik D3. Lalu mengapa pemerintah masih saja memasung dosen dengan peraturan yang mengutamakan D1+D2-D3?

Cidamar Permai Kav. 3 Cimindi
SNS
22 Maret 2017