Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

X-Makmur-Y

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 09-Jul-2016 | Dibaca : 629 Kali

Entah bagaimana caranya, makhluk ultra-terresterial sampai tahu nomor ponsel FLipMAS INDONESIA. Bahasanya pun mengagumkan, Bahasa Sunda. Mereka menilpun minta komentar tentang kemanfaatan dana desa. Luar biasa. Makhluk angkasa luar kok penuh perhatian dengan bangsa Indonesia. Padahal sejak lama mereka hanya kontak dengan wilayah benua Amerika, Afrika dan Eropa. Meskipun ada juga situs2 yang menghubungkannya dengan bangsa Cina. Dengan bangsa Indonesia? Belum pernah mendengarnya.

Desa sejatinya memiliki kekayaan berupa (1) lahan dan  sumber daya alam, (2) sumber daya manusia, (3) fasilitas umum dan (4) komoditas. Jika saja keempatnya dioptimalkan, disinergikan dan dikelola dengan baik dan benar, maka tidak akan ada desa yang sengsara. Alien itu merekomendasikan komposisi (1) 60, (2) 10, (3) 10 dan (4) 20%. Jadi kalau dana itu sebesar Rp 1M,- maka untuk keperluan (1) 600 (2) 100, (3) 100 dan (4) 200 juta,-. Sementara komposisi dana desa diserahkan kepada pimpinan desa. Maka rata2 komposisi potensi desa hanya (2) dan (3) yang terdanai dengan komposisi prediktif (20-30%) dan (70-80%). Si alien terbahak, matanya terbeliak tidak percaya. Lalu yang wajib melaksanakannya? Ada porsinya? NOL BESAR. Si Alien langsung saja menghakimi, KARYA GAGAL! Alien ngeblas entah ke planet mana. FlipMAS yang akan meguru hanya bisa geleng2 kepala.


 

FLipMAS yang pernah mendesain strategi sinergistik keempat potensi desa agar mampu mensejahterakan warganya memperoleh ancar2 besarnya anggaran senilai Rp 3-7 milyar,- tergantung mutu eksisting keempat potensi dan letak geografis desa. Adakah perusahaan di NKRI yang memiliki dana CSR SME antusias membiayainya? Jika toh ada, maka pelaksanaan karyanya harus selesai dalam setahun tanpa ada jeda pembiayaan! Adanya jeda seringkali menyebabkan kehilangan momentum perjuangan. Sebab warga yang hidup di bawah kewajaran, tidak punya keterampilan dan wawasan kehidupan yang cukup untuk bertemu proses diskontinyu. Rantai pendapatan segera melambat karena pekerjaan mandeg. Akan tetapi yang paling berbahaya adalah tumbuhnya kecurigaan warga bahwa dana bantuan sedang dilipatgandakan. Kalau saja jeda pencairan dana bisa dihilangkan, maka selesainya semua rantai fasilitas fisik dan non fisik memberi peluang besar untuk pekerjaan optimasi atau bahkan maksimalisasi. Ada pemilik dana CSR SME yang bahkan tidak mengalokasikan dana operasional untuk membiayai pergerakan pihak profesional penyampai dana bantuan. Perjanjian kerjasama dilakukan sendiri bersama warga atau institusi perwakilannya tanpa sepengetahuan pihak profesional. Kegagalan yang akhirnya dihadapi ditujukan pada pihak profesional yang menghubungkan perusahaan dengan warga. Dana desa ternyata juga meniru model pembiayaan tanpa biaya operasional yang diperlukan pihak profesional untuk membangun sinergisme empat potensi desa. Lalu kepala desa manakah yang siap melaksanakannya tanpa biaya operasional dengan tanggungjawab begitu besar?

Mengapa harus selesai dalam setahun? Keempat potensi desa harus ditumbuhkan dan dimaksimalkan secara serentak juga kontinyu. Tidak bisa menganut gaya serial dan diskontinyu. Gaya serentak dan kontinyu menjadi tantangan pemilik dana CSR SME. Mestinya mudah saja asal perusahaan menyadari betul artinya keterlambatan pembiayaan bagi misi kemasyarakatannya. Dengan begitu, warga secara cepat menyadari kemanfaatan kerja keras mereka sekaligus menumbuhkan kemampuannya menjaga, memelihara dan mengembangkan karya2 kawasannya. Keterlambatan penyampaian dana bantuan bisa sangat berpotensi  mementahkan karya kemasyarakatan yang sudah eksis bahkan bukan tidak mungkin, menyebabkan kegagalan misi secara total.

Kegagalan pekerjaan besar kemasyarakatan umumnya juga disebabkan faktor pasar. Warga desa akan segera menyerap keterampilan yang dibutuhkan, apalagi hanya untuk suatu proses produksi. Tetapi, pemilik dana CSR SME ataupun dana desa tidak pernah secara sistematis merancang kehadiran pasar desa atau pasar antar desa. Kampuspun bila perlu dapat difungsikan sebagai pasar untuk menjual produk segar desa. Warga yang baru saja masuk ke dalam fase kehidupan produktif biasanya belum punya akses ke pasar. Keberhasilan memasuki pasar akan memberi keuntungan lebih bagi warga produktif baru dari desa yang selama ini tertidur daripada sekedar menunggu tengkulak datang membeli produknya di lokasi. Apakah karena pekerjaan ini yang paling krusial dan rumit pelaksanaannya sehingga ditinggalkan banyak aktor lapangan?

 

 

Saat desa sudah mensinergikan keempat potensi, komoditas yang dihasilkan diserasikan dengan produk2 dari lahan sebagai sumber bahan baku. Begitu juga bahan baku yang masih didatangkan dari luar desa untuk memenuhi kebutuhan usaha mikro atau UKM desa, berpotensi untuk disediakan di lahan desa. Dengan demikian, akan terbentuk siklus atraktif dan berdaya saing mulai dari lahan dan komoditasnya sampai kepada produk2 UKM. Nantinya tidak sekedar muncul teori2 integrated farming akan tetapi sudah berwujud Desa Harmoni. Kalau saja yang terakhir ini benar2 terwujud, si alien pasti masih memprovokasi dengan mengatakan: peradaban dan kemakmuranmu masih jauh tertinggal dari kekuatan intelektual nenek moyangmu. Kamu masih perlu DI-MAKMUR-KAN belum mampu ME-MAKMUR-KAN bangsamu sendiri hehehe. Si alien pamit dan menyeringai.