Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

Perpaduan Kebudayaan Hindu - Islam dalam Babad Pura Langgar di Desa Bunutin, Kab Bangli, Bali (Perspektif Estetika dan Teologi)

Berita Prodikmas Lainnya

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 13-Aug-2015 | Dibaca : 3725 Kali

Dr. Pande Wayan Renawati, S.H., M.Si.

(Artikel ini telah disajikan pada Konferensi Islam Internasional Tanggal 24 September 2014 di UIN Jakarta)

Pendahuluan

Setiap umat di manapun berada selalu ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Keberadaan Tuhan memberi kedamaian bagi setiap umat yang selalu dekat dan memohon petunjuk dalam menjalani hidup dan anugerah-Nya. Beliau ada dimana-mana. Menurut kepercayaan Hindu disebut wyapi-wyapaka. Namun menurut Punyatmadja (1993 : 35) 1)orang suci menyebut-Nya dengan banyak nama. Menurut Rg Weda Samhita disebutkan ekam satvipra bahuda wadanti Agnim Yamam, Matriswanam yang maknanya, hanya ada satu kebenaran mutlak. Orang bijaksana menyebut dengan berbagai-bagai nama: Agni, Yama, Matriswan. Begitu pula dalam Hammad (2012 : 47) disebutkan bahwa tiap-tiap sesuatu yang ada di dalam bumi ini mempunyai nama. Dan nama dari sesuatu itulah yang pertama-tama diajarkan Allah kepada Adam, sesudah Allah menciptakannya. Tuhan Allah menciptakan seluruh alam ini pun mempunyai nama bukan hanya satu, tetapi banyak nama. Nama-nama Tuhan yang banyak itu di dalam Al-Qur’an disebut Al-Asma’ul Husna.

Inti dalam setiap ajaran agama mempunyai sebutan terhadap Tuhan dengan berbagai nama dan digunakan pada tempat yang sesuai dengan keperluannya. Pada Upanishad disebutkan bahwa sesungguhnya hanya ada satu Tuhan (Brahma), tidak ada yang kedua, sehingga disebut ekam eva adwityam brahma. Keberadaan Tuhan seperti itu sangat indah untuk diwujudkan dalam sebuah tempat suci untuk memudahkan umat memuja-Nya sebagai perantara baik yang dipuja maupun yang memuja. Pada umumnya tempat untuk memuja Tuhan / pura berada dalam kawasan yang suci dikelilingi oleh pohon yang rindang dan tempatnya cukup menyerap atmosfer alam secara natural dengan aura para dewata disekitarnya. Pemujaan terhadap Tuhan dan para leluhur menurut kepercayaan umat Hindu dilakukan dengan meditasi, yoga maupun astangga yoga. Sebab dengan melakukan suatu kegiatan yang penuh konsentrasi tersebut niscaya getaran/vibrasi alam akan dapat dideteksi oleh jiwa yang penuh kesucian. Menurut Bharati (2002 : 72) disebutkan, untuk memulai meditasi yang perlu disadari oleh semua pihak adalah mampu mengolah jalannya pernafasan dengan sirkulasi yang baik. Hal itu bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja dan bisa dilakukan oleh anak kecil sekalipun. Untuk mendalami hal itu tidak ada istilah terlambat melakukannya dalam kehidupan. Semakin muda semakin baik untuk belajar berpikir yang fokus melalui meditasi. Bahkan hal itu akan membantu orang yang sakit menjadi sehat, hingga memperpanjang usianya. Begitu hebatnya suatu meditasi yang baik bisa membuat hidup orang menjadi lebih bermakna. Hal itu bisa dilakukan di pura atau tempat suci lainnya sehingga kekuatan para dewa atau Tuhan akan terserap melalui energi positif yang terpancar melalui sinar – sinar Tuhan.

Terkait dengan hal itu, pura yang menjadi fokus pembicaraan pada tulisan ini adalah Pura Langgar atau sering disebut dengan Pura Dalem Jawa. Pura ini terletak di pingggir jalan raya Bangli, tepatnya di desa Bunutin Kabupaten Bangli. Untuk mencapai lokasi pura ini, dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit atau sekitar 32 km dari Kota Denpasar Bali. Pura tersebut mempunyai areal yang cukup luas dengan beberapa bangunan suci atau pelinggih beserta langgar yang ada di areal Pura tersebut. Pura ini sudah ada sejak lama bahkan puluhan tahun yang silam pada masa kerajaan – kerajaan yang jaya di nusantara. Pura ini memiliki gaya arsitektur yang berbeda dengan pura yang lainnya. Sehingga dipandang unik dan menjadi menarik untuk dikunjungi baik untuk memuja yang berstana di sana maupun digunakan sebagai obyek wisata oleh para turis yang sudah mendengar ciri khas pura tersebut. Untuk memahami lebih jauh tentang pura tersebut, ada beberapa pertanyaan yang terkait untuk dibahas lebih lanjut, yaitu: (1) bagaimanakah sejarah Pura Langgar ?, (2) apa keunikan pura itu? (3) apa makna pura Langar? Untuk menjawab pertanyaan itu diperlukan adanya informasi yang bersumber dari buku ataupun media lainnya.

Sejarah Pura Langgar

Bali terkenal dengan adanya hubungan yang harmonis antar agama yang meliputi rasa solidaritas dan toleransi serta sudah ada sejak masa yang silam hingga kini. Hubungan yang terjalin erat itu dirasakan sungguh membuat daerah ini menjadi fokus kunjungan tamu dari manca negara yang ingin melihat keunikan pulau ini hingga ke pelosok – pelosok. Keunikan yang menjadi ikon budaya yang kuat terletak pada arsitektur bangunan pura dengan jenis kebudayaan yang tersimpan di dalamnya. Suatu tempat suci atau pura dimana pun tempatnya merupakan areal yang sangat suci dan sakral, sehingga umat Hindu benar-benar menjaga keberadaannya untuk tidak sembarang orang masuk ke wilayah tersebut.

Menurut Soeka (2004 : 32), 2)pada umumnya di Bali, setiap orang yang akan memasuki wilayah pura diharapkan mematuhi ketentuan seperti berikut:

  1. Tidak boleh dalam keadaan menstruasi baik yang baru mulai atau pun mau selesai.
  2. Harus menggunakan kain dan selendang.
  3. Tidak dalam keadaan berduka atau sebel (tidak suci) karena kematian salah seorang keluarga besarnya dan belum dilakukan upacara pemutus.
  4. Tidak menggunakan alas kaki (pada pura tertentu).

Jika semua ketentuan itu telah dipenuhi, maka orang dipersilakan memasuki areal pura
dengan hati yang tenang, tulus dan siap untuk memuja para dewa di wilayah itu. Ketentuan tersebut, diberlakukan untuk semua pura di Bali, termasuk Pura Langgar. Untuk mengetahuinya lebih jauh maka dipandang perlu adanya pemaparan sejarah Pura Langgar tersebut.

Sejarah Pura Langgar, berkaitan dengan sebuah nama ”Langgar” yang mempunyai kemiripan dengan sebuah ”langgar” atau tempat sembahyang umat muslim. 3)Hal ini menjadi tonggak keterkaitan kebudayaan Islam yang masuk ke wilayah Bali sehingga sedikit banyak mampu mempengaruhi gaya arsitektur dan pernak-pernik pura ini, yang dibangun di atas kolam yang dipenuhi bunga teratai.

Menurut http://www.wisatadewata.com/article/wisata/pura-langgar, disebutkan bahwa menurut cerita, Pura Langgar berdiri karena adanya keterkaitan sejarah antara Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur dimana Raja Bunutin Ida I Dewa Mas Blambangan masih merupakan keturunan Raja Blambangan yang jatuh sakit setelah dinobatkan menjadi raja. Beliau menderita sakit yang tak kunjung sembuh selama lima tahun, melihat hal ini adik sang raja berinisiatif melakukan “dewasraya” di Merajan Agung yaitu melakukan yoga semadhi melalui seorang perantara (balian), yang mana pada akhirnya setelah melakukan ritual khusus dia kerasukan dan berucap sebagai sabda Ida Bhatara: “Wahai Mas Blambangan, Mas Bunutin, dan semua yang ada disini. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah minta dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu bersembahyang kepadaKu. Jika tidak menuruti permintaanKu ini maka anak keturunanmu akan terus menerus menderita sakit berat tapi tidak akan mati”. Jika ada yang menolak permintaan ini, dia tidak akan bertahan menghadapi penderitaan lahir batin malah akan mendapat musibah. Ucapan Ida Bathara tersebut menjadi suatu alasan dibuatnya pura ini.

Terkait dengan sejarah Pura Langgar, juga dipaparkan oleh Sagung Widya melalui http://sagungwidya.blogspot.com/2012/09/harmonisasi-agama-hindu-dan-islam-dalam.html, dikutip sebagai berikut. Sekitar abad ke 16 terjadi perselisihan dan kesalah pahaman antara Dalem Waturenggong di Gelgel Bali dengan Kerajaan Blambangan Jawa Timur akibat penolakan Raja Blambangan (Dalem Sri Juru) untuk memberikan putrinya Ayi Ayu Mas yang akan dipersunting sebagai istri oleh Dalem Waturenggong. Kemudian terjadilah pertempuran yang dipimpin oleh patih dari kerajaan Gelgel yang bernama Ki Patih Ularan. Setelah pertempuran berakhir, Ki Patih Ularan membawa penggalan kepala Raja Blambangan kehadapan Raja Gelgel. Karena perbuatan tersebut dianggap tidak berprikemanusiaan maka Ki Patih Ularan diusir oleh Raja Gelgel. Setelah pertempuran tersebut daerah kerajaan Blambangan dikuasai kerajaan Gelgel (1489 M). Namun tidak berlangsung lama Raja Mataram berusaha merebut kekuasaan kerajaan Blambangan dan akhirnya Raja Mataram mampu menduduki Kerajaan Blambangan. Peristiwa ini tidak berlangsung lama dan dapat direbut kembali oleh Panji Sakti Raja Buleleng. Meskipun Blambangan sudah menjadi daerah kekuasaan kerajaan Bali, namun pimpinan pemerintahan tetap dijabat oleh keturunan Raja Blambangan yaitu Pangeran Mas Sepuh dan dibantu oleh saudaranya yang bernama Wong Agung Willis (Pangeran Willis) dengan jabatan Patih Agung. Pemerintahan dua orang bersaudara ini mengalami persengketaan akibat selisih persoalan penganutan agama yang menyebabkan dipecatnya Wong Agung Willis sebagai Patih Agung.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya Wong Agung Willis meninggalkan Blambangan dan menghadap Raja Mengwi Bali. Selama tinggal di Kerajaan Mengwi beliau banyak mendapatkan bimbingan nasehat dari seorang Pendeta Lingsir Geria Denkayu. Mengenai kepergian Wong Agung Willis bersama keluarganya menimbulkan kegelisahan Pangeran Mas Sepuh karena dapat membahayakan kedudukannya sebagai penguasa Blambangan. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh berangkat ke Bali menuju Kerajaan Mengwi bersama 80 pasukan dan beberapa orang yang sudah masuk Islam. Setelah keduanya bertemu, Wong Agung Willis dan Pangeran Mas sepuh saling memaafkan dan berniat berangkat bersama bertemu dengan raja Gelgel untuk bersilahturahmi dan memohon maaf atas kejadian masa lalu. Keinginan tersebut pun disambut baik oleh Raja Gelgel. Kemudian kedua bersaudara ini singgah ke Kerajaan Mengwi dan pada sore harinya menuju ke Blambangan, namun dalam perjalanan pulang perahu yang ditumpangi oleh Pangeran Mas Sepuh dan Wong Agung Willis tidak kunjung datang akhirnya beliau bermalam dirumah penduduk. Dikelarutan malam kedua pangeran diserang oleh Laskar Mengwi atas perintah Raja Mengwi yang berakibat wafatnya Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya beliau di makamkan di desa Seseh yang belakangan ini dikenal dengan sebutan Pura Keramat Ratu Mas Sepuh.

Selanjutnya Wong Agung Willis berhasil menyelamatkan diri dan berniat pergi ke Kerajaan Gelgel. Ketika dalam perjalanan menuju Puri Gelgel tiba-tiba beliau sampai di pelemahan Blahbatuh. Kemudian kembali melakukan perjalanan dan akhirnya tiba di pelemahan Desa Bunutin dan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya, sehingga penduduk Bunutin merasa iba dan terpesona kemudian memohon agar Wong Agung Willis tetap tinggal di Bunutin. Pada tahun 1580 M oleh Raja Gelgel yang masih memilih trah keluarga Kerajaan Blambangan ini menghadiahkan tanah lungguh di Bunutin diiringi 300 pengiring. Wong Agung Willis lalu dinobatkan Raja Gelgel sebagai penguasa Puri Bunutin dengan gelar I Dewa Mas Willis dan membangun pemerajan Agung menurut cara-cara dresta. Diceritakan dari istri permaisuri yang merupakan anak Raja Mengwi beliau berputrakan Ida I Dewa Mas Blambangan dan Ida I Dewa Mas Bunutin. Sedangkan dari istri penawing I Dewa Mas Willis memiliki tiga putra yaitu I Dewa Wayan Mas, I Dewa Made Mas, I Dewa Nyoman Mas.

Dikisahkan kemudian Ida I Dewa Mas Blambangan jatuh sakit sangat berat dan lama serta tidak mempan dengan segala pengobatan apapun. Kemudian Ida I Dewa Mas Bunutin melakukan yoga semadhi dan diberikan pewisik sebagai berikut :‘’Wahai Mas Blambangan, mas Bunutin dan semua yang ada disini. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah. Aku minta supaya dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu sembahyang kepadaKu. Jikalau tidak membuat sebagaimana permintaanku, maka terus menerus secara turun temurun akan menderita sakit parah tapi tidak mati (Gele-gele). Penyakitnya tidak akan sembuh oleh macam-macam obat apapun. Sebaliknya kalau mau membuat pelinggih Langgar sudah pasti sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan dan terus berbahagia serta penuh kebahagian serta penuh kewibawaan. Bila ada yang menolak sudah pasti tidak akan mampu bertahan menghadapi penderitaan lahir dan batin malahan akan sampai jatuh ke wangsan keluar dari Puri atau Jaba’’.

Akibat dari pewisik tersebut Ida I Dewa Mas Blambangan memanggil adik dan ibunya untuk berunding. Akhirnya beliau memutuskan untuk membuat Pura Langgar. Namun adik tiri beliau menolak dengan tegas pembangunan Pura Langgar karena dianggap berbau Islam. Sehingga ketiga saudara tiri beliau meninggalkan Puri Agung Bunutin dan pergi menghadap Raja Dalem Segening di Puri Gelgel untuk menceritakan kejadian di Puri Bunutin dan diperkenankan tinggal di Puri Gelgel. Setelah Pura Langgar selesai didirikan akhirnya Ida I Dewa Mas Blambangan sehat kembali seperti sediakala tanpa pengobatan apapun.

Cerita tersebut mengajarkan agar umat percaya akan hal-hal gaib yang kelihatannya tidak ada tetapi sesungguhnya ada di sekitar kita. Hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pengobatan tanpa menggunakan sarana apapun kelihatannya mustahil namun dalam hal ini memang benar-benar terbukti kemutahirannya hanya dengan membuat bangunan suci dari sebuah pewisik / bisikan secara gaib yang diyakini mampu mewujudkan hal yang di luar ambang batas kemampuan manusia biasa untuk bisa diterima dengan baik. Sesungguhnya pewisik yang diterimanya memberikan inspirasi yang luar biasa sehingga meyakinkan setiap orang akan kenyataan yang ada. Pada umumnya sangat sulit diterima akal sehat, namun karena telah dilaksanakan dengan baik dan hasilnya pun berakibat pada kesembuhan maka sebuah pewisik yang merupakan sebuah wahyu tersebut bisa diterima dengan senang hati. Hal ini merupakan kepercayaan akan adanya Tuhan secara penuh sebagai penguasa alam semesta dan Tuhan pun memberikan anugerah kepada umat yang bersungguh- sungguh atau tekun menjalankan kesucian di dunia ini. Hingga yang menjadi dasar pemikiran adalah sebuah kepercayaan. Umat Hindu mempunyai lima jenis kepercayaan, dalam Panca Sradha salah satunya yaitu keyakinan adanya Tuhan (Widhi Sraddha). Hal itu terungkap pada pendapat Punyatmadja (1993 : 33-34) sebagai berikut.

Perihal keanehan – keanehan alam, seolah-olah ada kekuatan yang bijaksana dan cerdas, yang mengadakan dan mengatur alam semesta. Kekuatan itu disebut hukum kebijaksanaan Tuhan. Dengan anumana pramana atau menarik kesimpulan berdasar gejala-gejala keanehan alam yang makin banyak ditemuinya yang didasarkan atas pengalaman biasa maupun penyelidikan ilmu pengetahuan maka makin kuat keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu mengenal Tuhan dengan pratyaksa pramana, yaitu langsung dirasakan dan dialami ada-Nya bagaikan menjumpai manusia gaib yang tiada berbadan, tetapi dirasakan ada-Nya dengan pengalaman – pengalaman gaib yang mengherankan. Pada dasarnya Tuhan melimpahkan ajaran suci untuk membimbing umat manusia mencapai kesempurnaan hidup lahir batin. Hanya orang yang beriman yang alat wahyu atau intuisinya tajam karena amal kebajikan dan kesucian rohaninya dapat bermuka-muka dengan Tuhan melalui pengalaman gaib. Demikianlah bisikan gaib bisa diterima oleh orang yang benar-benar suci rohaninya dan selalu mengikuti dan menjalani segala peraturan alam sehingga dianugrahkan kecerdasan dan akal budhi yang sehat untuk bisa menangkap situasi dan kondisi alam sekitarnya.

Sesungguhnya adanya tempat suci seperti di Pura Langgar tersebut, didasarkan pada Tri Hita Karana, menurut Wiana (2007 : 23), yang diwujudkan melalui keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam itu, akan menimbulkan tiga lingkungan hidup yaitu.

  1. Lingkungan Rohani di Parahyangan
  2. Lingkungan Sosial di Pawongan
  3. Lingkungan Alam di Palemahan

Yang dikatakan lingkungan rohani adalah bangunan suci / Pura yang terletak di halaman paling dalam / utama, dilanjutkan dengan lingkungan sosial letaknya di halaman Pura atau bagian tengah Pura (jaba tengah), dan lingkungan alam letaknya di halaman paling luar sehingga disebut jaba sisi (halaman luar) pura.

Berikut bentuk Pura Langgar yang dibuat sehingga mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Ida I Dewa Mas Blambangan.

 

Energi positif yang ada di wilayah pura membuat setiap orang yang berkunjung merasa tenang dan seoleh-olah mendapat anugerah yang bisa menjadikan siapapun yang berada atau berkunjung di pura tersebut setelah pulang ingin kembali lagi untuk mendapatkan wahyu secara sempurna. Oleh karena itu pada umumnya setiap orang yang berkunjung ke tempat sembahyang sepatutnya bersemadi atau meditasi guna mendapat wahyu dan ketenangan dalam menjalani kehidupan di dunia ini sehingga kebahagiaan akan tercapai hingga dunia akhirat. Untuk lebih jelasnya dari cerita itu ada beberapa hal yang unik terungkap dari pendapat dari para peneliti Pura Langgar tersebut.

Keunikan Pura Langgar

Setiap pura mempunyai keunikan tersendiri yang membedakan dengan pura yang lainnya. Begitu pula Pura Langgar ini, mempunyai keunikan lain, karena menganut kebudayaan yang berbeda utamanya kebudayaan Islam yang mengharamkan penggunaan hewan terutama babi. Hal ini memberikan ciri khas yang spesifik yang membedakan dengan pura lainnya di Bali.

Menurut bali.panduanwisata.com/files/2011/10/Pura Langgar2.jpg terkait dengan pemujaan di Pura Langgar ini, dalam pelaksanaannya tidak sama dengan pemujaan pada pura yang lainnya. Yang membedakan bahwa di Pura Langgar pelaksanaan pemujaan terhadap hewan yang digunakan untuk sesajen tidak menggunakan daging babi namun diganti dengan daging ayam dan itik. Selain itu, pura ini pun melaksanakan pemotongan hewan kurban layaknya seperti pada Hari Raya Idul Adha yang dilakukan umat Islam hanya saja pelaksanaannya dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau sekitar bulan Februari. Pura Langgar memang menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu namun banyak juga umat Islam yang datang kesini untuk berziarah dan melihat secara langsung keunikan pura ini.

Gambar di atas merupakan Pura Langgar yang terletak di Desa Bunutin Bangli lengkap dengan fasilitas seperti tempat wudhu dan sholat bagi umat Islam, toilet dan area parkir. Terkait dengan Pura Langgar tersebut berikut penjelasan terkait dengan bentuk bangunan dan keunikan yang ada di dalamnya.

Menurut http://www.wisatadewata.com/article/wisata/pura-langgar, disebutkan bahwa adapun bentuk bangunan pura ini juga memiliki keunikan yakni pada halaman utama terdapat bangunan segi empat yang memiliki empat pintu, dua undakan serta atapnya bertingkat dua yang konon katanya melambangkan syariat dan tarikat Islam.

Untuk dipahami lebih lanjut tentang keunikan Pura Langgar diungkap dalam http://sagungwidya.blogspot.com/2012/09/harmonisasi-agama-hindu-dan-islam-dalam.html sebagai berikut. Keunikan Pura Langgar terletak pada bangunan utama (utamaning mandala) yang berbentuk segi empat. Ada dua undakan dan empat pintu di bangunan yang dikenal sebagai Bale Agung. Atapnya bertingkat dua. Dua tingkat atap dan undakan ini melambangkan syariat dan tarekat Islam. Namun dalam Bale Agung ini ditempatkan Pelinggih Pendeta Sakti Bawu Rauh. Sementara sisi utara Pura Langgar ini dikenal dengan bangunan kaler (kaja) yang berfungsi sama dengan Bale Agung. Namun jika ada warga yang meninggal di desa Pakraman ini biasanya umat Hindu tidak boleh memasuki areal suci ini kecuali Pemangku Pura tersebut. Sisi timur pada pura ini ada bangunan Pura Pajenengan. Bangunan suci ini diyakini menjadi tempat leluhur yang sudah diupacarai secara Hindu. Upacara khusus di bangunan ini dilakukan saat tiba Pagerwesi.

Menariknya tiga bangunan tempat suci di Pura Langgar ini dipercaya memiliki kedekatan sejarah dengan leluhur pengempon Pura Langgar dari Blambangan yang beragama Islam. Jika ada upacara biasanya sesajen di tiga bangunan suci ini tidak memakai daging babi karena diharamkan oleh umat Islam. Karena itu diganti dengan daging ayam maupun itik. Sesajen yang menggunakan daging babi hanya boleh dipersembahkan pada bangunan suci yang berada di sisi selatan Pura langgar. Bangunan suci ini disebut Pura Dalem yang fungsinya sama dengan Pura Pajenengan di sisi timurnya. Umat Hindu di pura ini juga mengenal kurban, seperti kurban yang dilakukan oleh umat Muslim di Hari Raya Idul Adha. Namun kurban yang dilakukan umat Hindu ini dilakukan sekali pada bulan Februari / maret, sebelum Hari Raya Nyepi. Upacara ini dikenal dengan titi mamah atau pakelem. Kurbannya berupa seekor sapi yang ditenggelamkan di kolam Taman Pura Langgar.

Inilah gambar Pura Langgar yang dikelilingi kolam dengan bunga teratainya. Hal yang menarik yaitu kurban sapi yang ditenggelamkan di kolam tersebut biasanya hilang tak berbekas. Begitu pula dengan persembahan berupa sesajen canang. Padahal kolam tersebut tak bermuara. Namun warga di Pantai Lebih Gianyar, memastikan ada upacara ini dalam waktu tertentu. Sesajen upacara justru ditemukan warga muncul di pantai tersebut. Kolam di Taman Pura Langgar ini pun menyimpan cerita unik yaitu air kolam tak pernah habis terkuras jika dilakukan aksi bersih-bersih. Justru ada mata air yang ada di tengah kolam itu yang mengitari bangunan Pura Langgar itu.

 

Gambar di atas menunjukkan betapa indahnya kolam yang mengitari pura tersebut yang menjadi tempat persembahyangan umat Hindu. Namun banyak pula umat Muslim yang datang ke sana dari berbagai daerah dengan kepercayaan tertentu yang dirasakan oleh para pengunjung. Oleh karena itu disediakan tempat khusus bagi umat Muslim yang berkunjung untuk berwudhu dan sholat. Jika dipahami secara mendalam, bahwa para leluhur di masa lalu sesungguhnya telah menanamkan simbol – simbol perdamaian di hati penerusnya. Dengan harapan agar tidak ada sengketa diantara para generasi berikutnya namun kebahagiaan dan perdamaian yang menyelimuti jiwa sanubari antar pemeluk agama yang berbeda. Hingga terciptanya kerukunan antar umat Hindu – Islam maupun agama lainnya di muka bumi ini.

Wawancara dengan Kompas dapat disimak melalui http://oase.kompas.com/ read/2010/08/12/19111358/Pura.Dalem.Jawa.Simbol.Kerukunan dipaparkan oleh salah satu Penglingsir Pura yang menyebutkan bahwa Pura Dalem Jawa atau Pura Dalem Langgar di Desa Bunutin, Bangli merupakan simbol kerukunan umat Muslim dengan Hindu di Bali. "Pura Langgar menjadi jejak bagaimana antara Hindu dan Islam di Bali tidak memiliki jarak. Sepintas, pura seluas sekitar satu hektar yang dikelilingi kolam itu tidak berbeda dengan pura di Bali," kata Penglingsir Pura Dalem Jawa, Ida I Dewa Ketut Raka kepada ANTARA. Penglingsir adalah orang yang dituakan, yang bertanggung jawab atas puri, sebutan untuk keraton atau istana raja di Bali. Namun, lanjut Ida I Dewa Ketut Raka, kalau diamati lebih teliti, di pura itu terdapat bangunan bersegi empat, yang berada di tempat utama atau tertinggi di pura tersebut, yang disebut "utamaning mandala. Ciri khas lainnya yang menunjukkan kerukunan umat Muslim dan Hindu di Pura Dalem Jawa, katanya terdapat pada bangunan itu berundak dua, berpintu empat, serta atapnya bertingkat dua. "Konon, dua tingkat atap dan dua undak itu melambangkan syariat dan tarekat Islam. Syariat adalah hukum yang mengatur tata kehidupan dan peribadatan umat, sedangkan tarekat adalah jalan menuju Tuhan," ucapnya. Ia menambahkan, meskipun bernama langgar, namun pura ini tidak digunakan umat Islam untuk shalat atau kegiatan ke Islaman lainnya. Saat ini, Langgar itu masih tetap digunakan umat Hindu yang melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur, jelasnya.

Bukti sejarah kerukunan, sambung Ketut Raka tak hanya di wujudkan dalam bangunan Pura. Pada prosesi upacara juga terlihat kental untuk menghormati kerukunan ke dua umat beragama itu. "Salah satu isi sesajen atau banten tidak diperkenankan menggunakan daging babi. Daging babi, yang terbiasa dimakan warga Hindu tapi haram bagi Muslim, pada kegiatan itu diganti dengan daging itik atau ayam," ucapnya. Selain sesajen itu, umat Hindu di pura ini juga mengenal istilah kurban. Kalau di Islam, kurban disembelih saat Hari Raya Idul Adha. "Kalau di Pura Langgar upacara kurban itu dilaksanakan sekitar Februari (Tilem sasih Kawulu. Yang disebut dengan upacara titimamah dengan menggunakan pakelem berupa godel bang (merah)," ujarnya. Ia menjelaskan, saat ini, banyak warga Muslim yang datang ke pura tersebut menuturkan bahwa mereka mendapatkan cerita dari leluhurnya bahwa ada pura yang menunjukkan adanya toleransi umat beragama di daerah itu. "Pernah ada juga tamu dari Madura yang datang ke pura ini mengatakan, ia diberi tahu oleh kakeknya yang sudah berusia di atas 100 tahun. Dia bercerita bahwa kakeknya berpesan, kalau ke Bali, dia harus mengunjungi Pura Langgar," katanya.

Pura ini, kata Ketut Raka adalah tempat yang memberi pencerahan mengenai toleransi umat beragama yang lahir secara murni. Kalau sekarang orang bicara toleransi, mungkin karena memang menjadi keharusan dalam kerangka NKRI. Tapi di sini memang murni, katanya. Dia mengakui, kemungkinan ada umat Hindu dan mungkin umat Islam yang tidak setuju dengan keberadaan langgar di pura itu. "Namun kami tidak menganggap beban. Kami menganggap itu sebagai berkah karena pura ini telah menjadi simbol perdamaian. Ini realitas yang tidak bisa dipungkiri," jelasnya. Selain itu dari segi posisi, Pura ini dikelilingi kolam, mirip dengan yang ada di Pura Taman Ayun, Mengwi Badung. Bangunan, lokasi dan apa yang ada di dalam pura ini semuanya memiliki dasar yang kuat. Semuanya itu didasari pada sebuah prasasti yang ada di Pura ini. "Dengan didapatkannya Prasasti ini di Puri Gelgel pada tahun 1970 lalu rasa sreg untuk tetap melestarikannya," katanya. Selain itu ada juga bukti-bukti otentik mengenai sejarah perkembangan pura ini yang dibuat sekitar abad 16 silam.

Makna Pura Langgar

Setelah diketahui keunikan yang terdapat pada Pura langgar tersebut, maka akan diungkap maknanya sebagai berikut.

  1. Makna estetika, bahwa setiap bangunan yang ada di Pura Langgar tersebut memiliki nilai kesenian dan budaya yang tinggi. Hal itu terbukti dengan adanya bangunan suci yang penuh ornamen yang mengitarinya dan mempunyai nilai keindahan, sehingga berakibat ketertarikan yang lain untuk memahaminya lebih jauh.
  2. Makna keselamatan, dengan menghaturkan segala upacara yang digunakan pada umumnya. Untuk melakukan upacara baik untuk 6 bulan sekali atau setiap tahun , maka para dewa akan senantiasa merasa senang dan puas melihat dan selalu menanti kehadiran kemudian, sehingga dengan demikian maka terwujudlah keselamatan bagi pemuja-Nya.
  3. Makna Kesucian, bahwa melalui pemeliharaan dan menjaga lingkungan pura tetap aman dan lestari maka diperlukan nilai-nilai kesucian dan melarang untuk memasuki areal pura dengan situasi yang tidak suci atau sebel yang berakibat tercemarnya kesucian pura.

Penutup

Pendapat semua di atas dapat disimpulkan bahwa segala hal yang terkait dengan sejarah dari Pura Langgar tersebut seyogyanya agar diterima dengan baik oleh semua kalangan yang ingin berkunjung ke wilayah itu dan menghindari larangannya yang telah disepakati bersama. Terkait dengan kesejarahannya, pura itu mempunyai vibrasi dan kekuatan yang tersembunyi di dalamnya sehingga situasi Pura tampak sangat tenang dan damai. Keunikan pura tersebut menunjukkan bahwa Pura Langgar mempunyai larangan untuk tidak menggunakan daging babi pada bangunan pelinggih tertentu karena hal tersebut diharamkan oleh umat Islam. Ketika mapekelem atau menghaturkan sapi merah ke dalam kolam, sapi itu langsung hilang dan tidak pernah muncul ke permukaan kolam. Begitu juga sesajen berupa canang yang dihaturkan, tidak terdapat pada kolam tempat dihaturkannya canang itu. Konon di Pantai Lebih Gianyar ditemukan sesajen yang cukup banyak diperkirakan berasal dari muara perut bumi hingga keluar di lepas pantai tersebut. Sedangkan makna Pura Langgar tersebut berupa makna estetika, makna keselamatan dan makna kesucian. Dengan demikian, perpaduan Hindu – Islam sangat menarik untuk disimak dan dipertahankan keasriannya sehingga terwujudlah perdamaian, baik lahir maupun batin dan semuanya berbahagia....... amien, asungkara.

 

Daftar Pustaka
Bharati, Swami Veda. 2002. Mantra, Inisiasi, Meditasi dan Yoga. Surabaya : Paramita.
Hammad, Ibnu. 2012. Sinopsis Buku - Buku Keagamaan Kontemporer
Maryam, Siti. 2012. Damai Dalam Budaya. Jakarta : Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI.
Punyatmadja, I.B. Oka. 1993. Panca Sradha. Denpasar : Upada Sastra.
Soeka, Gde. 2004. Tri Murthi Tattwa. Denpasar : CV. Kayumas Agung
Wiana, I Ketut. 2007. Tri Hita Karana menurut Konsep Hindu. Surabaya : Paramita.
http://www.wisatadewata.com/article/wisata/pura-langgar
http://sagungwidya.blogspot.com/2012/09/harmonisasi-agama-hindu-dan-islam-dalam.html
http://www.wisatadewata.com/article/wisata/pura-langgar
bali.panduanwisata.com/files/2011/10/Pura Langgar2.jpg