Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

SUBAK, Sistem Irigasi Petani Bali, Masalalu - Sekarang - dan yang akan Datang

Berita Prodikmas Lainnya

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 07-Jul-2015 | Dibaca : 2026 Kali

Pengertian Subak

Secara filosofis, keberadaan subak merupakan salah satu bentuk implementasi dari konsep TRI HITA KARANA, dalam bidang pertanian yang bila diartikan secara harfiah adalah tiga penyebab kebahagiaan dalam kehidupan manusia yang bersumber dari bidang pertanian. Tri Hita Karana merupakan konsep mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitarnya. Jadi, kegiatan di dalam subak bukan saja mengenai pertanian, tapi juga mencakup interaksi social masyarakat tani dan ritual keagamaan yang bermuara pada kesuksesan dalam mengelola usaha tani.

Bagan 1. Hamparan sawah dengan system teras dalam pengelolaan Subak yang menampilkan keindahan yang tiada tara (sumber: http://komunikasi-kritis.blogspot.com/ 2012_08_01_ archive. html

Subak merupakan suatu warisan budaya Bali yang berupa suatu system irigasi yang mengatur pembagian pengelolaan air yang berdasarkan pada pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama. Menurut Windia (2006), Subak merupakan organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian , yang berdasarkan atas seni dan budaya yang diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat di Pulau Dewata. Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur system pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali. Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para pemilik lahan dan petani yang diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan yaitu Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali yang disebut dengan “Pekaseh”

Subak adalah suatu masyarakat hokum adat yang memiliki karakteristik sosioagraris- religius, yang merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Pengertian subak seperti itu dinyatakan dalam peraturan-daerah pemerintah daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972. Arif (l999) memperluas pengertian karakteristik sosio-agraris-religius dalam system irigasi subak, dengan menyatakan lebih tepat subak itu disebut berkarakteristik sosio-teknis-religius, karena pengertian teknis cakupannya menjadi lebih luas, termasuk diantaranya teknis pertanian, dan teknis irigasi.

Pengertian Konsep Trihita Karana

Dalam pengelolaan subak sebagai system irigasi sawah, petani Bali mengusung konsep Tri Hita Karana yang merupakan konsep bermakna keselarasan, keserasian dan harmonisasi. Konsep tersebut terdiri dari (1) Parahyangan yang mengandung makna hubungan yang harmonis antara warga (krama) subak dengan Tuhan Yang MahaEsa, (2) Pawongan yang mengandung makna hubungan yang harmonis di antara wargasubak, dan (3) Palemahan yang mengandung makna hubungan yang harmonis antara warga subak dengan alam lingkungan disekitarnya atau wilayah irigasi subaknya.

Bagan 2. Pura Ulun Danu Bedugul sebagai pusat pemujaan bagi masyarakat Hindu Bali untu kmemohon air sebagai sumber kehidupan. Sumber http://www.warnawisata.com/bali/ulun-danu.html

Pemahaman warga subak atas konsep THK merupakan hal yang bersifat prinsip dalam pengelolaan subak sebagai organisasi yang mengelola system pengairan dalam pertanian di Bali. Aktualisasi dari konsep THK ini adalah setiap warga subak akan berupaya menjauhkan organisasi subak dari berbagai konflik yang terjadi, menjaga rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam mengelola pengairan, mengelola usaha tani, menjaga lingkungan menuju suatu system pertanian serasi, selaras, harmoni dan berkelanjutan menuju kemandirian pangan sesuai dengan program nasional.

Sistem subak mampu melakukan pengelolaan irigasi dengan dasar-dasar harmonidan kebersamaan sesuai dengan prinsip konsep THK, dan dengan dasar itu system subak mampu mengantisipasi kemungkinan kekurangan air (khususnya pada musim kemarau), dengan mengelola pelaksanaan pola tanam sesuai dengan peluang keberhasilannya. Selanjutnya, system subak sebagai teknologi sepadan, pada dasarnya memiliki peluang untuk ditransformasi, sejauh nilai-nilai kesepadanan teknologinya dipenuhi.

Peranan Subak dalam Pengelolaan Air Irigasi

Subak, merupakan sistem irigasi yang berbasis petani (farmer-based irrigation sistem) dan lembaga yang mandiri (self governmet irrigation institution). Keberadaan subak yang sudah hampir satu millenium sampai sekarang ini mengisyaratkan bahwa subak merupakan sebuah lembaga irigasi tardisional yang tangguh dan lestari (sustainable), walaupun eksistansinya kini mulai terancamakibat adanya perubahan-perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat Bali terutama pembangunan pariwisata Bali. Perlu upaya untuk menjaga eksistensi subak sebagai warisan budaya yang sangat unik dan dikagumi oleh banyak pemerhati irigasi di mancanegara. Sebab, jika subak yang dipandang sebagai salah satu pilar penopang kebudayaan Bali sampai sirna maka dikhawatirkan stabilitas sosial akan terganggu dan kelestarian kebudayaan Bali bisa terancam.

Bagan 3. Terpadu dan serasi dengan alam maka burung pun tidak ragu untuk datang
(sumber :http://www. republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/21

Sistem Subak memberikan contoh dalam pengelolaan sumberdaya, distribusi, dan penggunaan air irigasi yang berwawasan lingkungan dan kesejahteraan yang paripurna bagi masyarakat dan mahluk hidup lainnya dalam kawasan DAS (daerah aliran sungai). Subak memenuhi kaidah sebagai system irigasi sesuai dengan “Standar Perencanaan Irigasi” karena berdasarkan fakta di lapangan subak dengan jaringan irigasinya telah memiliki ke-empat fungsi pokok irigasi teknis seperti yang disyaratkan yaitu :

  1. Bangunan utama disebut empelan (bendung) atau buka (intake)
  2. Saluran disebut telabah (bila berupa saluranterbuka) atau aungan (bila berupa saluran tertutup).
  3. Hamparan petak-petak yang merupakan bagian dari subak yang disebut Tempek atau Munduk dilengkapi pula dengan bangunan dan saluran untuk membagi-bagikan air keseluruh areal dengan saluran pembuangan yang disebut Kekalen
  4.  Sistem pembuangan kolektif yang disebut pengutangan juga dimiliki subak, yang umumnya berupa saluran alam (pangkung).

Bangunan-bangunan dan bagian-bagian yang ada dalam system Subak di Bali menunjukkan jaringan yang hamper sama dengan jaringan teknis. Seperti contoh adalah seperti berikut :

  1. Bendungan pada subak disebut empelan
  2. Pemasukan (intake) disebut bungas
  3. Saluran primer disebut telabah gede
  4. Bangunan bagi sekunder disebut tembuku
  5. Saluran sekunder disebut Telabah
  6. Bangunan bagi tersier disebut tembuku pemaron
  7. Saluran tersier disebut telabah pemaron
  8. Bangunan bagi kuarter disebut tembuku cerik
  9. Saluran kuarter disebut telabah cerik

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa system sudak yang berumur ribuan tahun yang lalu merupakan kearifan lokal masyarakat Bali yang bernilai universal dan telah sangat bermanfaat bukan saja bagi masyarakat Bali, tetapi menjadi salah satu sumber ilmu pengetahuan dalam pengembangan system irigasi nasional dan nilai-nilai yang terkandung dalam konsep Tri Hita Karana dalam pengelolaan subak mengandung makna puji syukur kepada Tuhan, kebersamaan dalam mengelola pengairan, mengelola usaha tani, menjaga lingkungan menuju suatu sistem pertanian serasi, selaras, harmoni dan berkelanjutan menuju kemandirian pangan sesuai dengan program nasional.

Daftar Pustaka

  1. Arif,S.S. 1999. Applying philosophy of tri hita karana in design and management of subak irrigation system, dalam a study of subak as indigenous cultural, social, and technological system to establish a culturally based integrated water resources management vol.III (ed : S.Susanto), Fac.of Agricultural Technology, Gadjah Mada University, Yogya.
  2. Peraturan Daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972 tentang Irigasi daerah Provinsi Bali
  3. Windia, Wayan. (2006). Transformasi Sistem Irigasi Subak yang Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana, Pustaka Bali Post, Denpasar

 

 

Oleh I.K.Widnyana
Ketua FLipMas Ngayah Bali