Kalender
Juli 2020
MSSR KJS
   1234
567 891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

MODEL EKOBIS 3-2 : PROGRAM SOSIAL BISNIS KELOMPOK PETERNAK DOMBA UNTUK PENGUATAN EKONOMI PERDESAAN

Berita Prodikmas Lainnya

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 25-Apr-2020 | Dibaca : 78 Kali

MODEL EKOBIS 3-2 :  PROGRAM SOSIAL BISNIS KELOMPOK PETERNAK DOMBA UNTUK PENGUATAN EKONOMI PERDESAAN

 

Oleh :

Sondi Kuswaryan

Laboratorium Ekonomi dan Bisnis Peternakan

Fakultas Peternakan UNPAD

 

Diberbagai negara berkembang di dunia, ternak mempunyai peran vital dalam perekonomian masyarakat, ternak merupakan sumber pangan protein hewani, sumber pendapatan, sumber lapangan kerja serta sumber devisa (Maltsoglou dan Rapsomanikis, 2005; Ciamarra, et. al., 2011). Pada masyarakat berpendapatan rendah, ternak merupakan sarana penyimpan kekayaan, sumber tenaga kerja, sumber pupuk organik tanaman dan sarana transportasi (Ciamarra, 2005; Swanepoel, et. al., 2010; Bettencourt, et. al., 2015).   Ternak merupakan komoditas bernilai tinggi (daging, telur, susu dan lain lain), dan berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi, melalui keterkaitan ke depan (produk ternak dan pasar) dan ke belakang (permintaan input dan layanan ternak), penanggulangan urbanisasi, serta  berperan penting dalam kelestarian lingkungan meskipun ada beberapa efek negatif dari eksistensi ternak (Swanepoel, et. al., 2010).

Dalam sistem penghidupan masyarakat miskin di perdesaan, peternakan mengambil peranan penting, karena ternak bersifat multi fungsi, yaitu  sebagai sumber pangan dan nutrisi, fungsi sosial (status sosial dan kesetaraan gender melalui pemilikan ternak), penyangga risiko dari kegagalan panen,  sumber pupuk dan tenaga kerja pertanian, sumber pendapatan dan akumulasi harta (tabungan, sumber keamanan finansial, memungkinkan rumahtangga miskin melakukan akumulasi aset, menanggulangi pengeluaran yang tidak terencana, serta sebagai perangkat asuransi dan akun bank (Swanepoel, et. al., 2010 dan Benttencourt, et. al., 2015). Ternak berperan penting sebagai buffer terhadap risiko investasi, tabungan yang dapat diuangkan serta penyediaan daging dan aset untuk pengembangan usaha (Sarwono, 1992; Sandford dan Ashley, 2008).

Dari berbagai identifikasi potensi usaha di perdesaan Indonesia, komoditas domba memenuhi persyaratan untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan, dengan pertimbangan : Domba merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi, cepat menjadi uang (liquid cash), dagingnya sangat kompetitif di pasar perkotaan, serta masih sangat terbuka mengisi peluang eksport. Dalam proses produksinya, hanya menerapkan teknis produksi sederhana, sesuai untuk masyarakat kurang terdidik, menggunakan pakan rumput sebagai input berasal dari sumberdaya lokal  yang bernilai ekonomi rendah (tuna nilai) namun dapat diakses oleh masyarakat miskin secara bebas dari lahan umum, perkebunan/kehutanan atau limbah pertanian.  Domba dapat berkembang biak dengan cepat, beranak lebih dari satu, dipanen dalam waktu relatif singkat. Usahaternak domba dapat berkembang menjadi bisnis komersial, karena daging domba mempunyai nilai pasar tinggi, harganya naik terus dari tahun ke tahun. Manfaat lainnya adalah kulit domba untuk mendukung industri kulit (leather industry), serta limbah kandang sebagai sumber pupuk organik yang sangat bermakna bagi pertanian. Komoditas bernilai seperti ini, pada umumnya sangat menarik investasi, untuk mendukung pembiayaan bagi berjalannya usaha. Namun saat ini rumusan yang memperjelas kesempatan investasi ini belum banyak dikaji, serta sistemnya belum dirumuskan dengan jelas. Sehingga belum dapat menjadi program kegiatan yang siap dilaksanakan.

Dari serangkaian potensi, peluang dan keunggulan domba, faktanya budidaya di masyarakat tetap masih seperti kondisi 75 tahun yang lalu, peternak memelihara dalam skala kecil 5-6 ekor per rumah tangga, sebagai usaha sambilan untuk mengisi waktu luang yang tersedia. Usahaternak domba saat ini belum menjadi usaha pokok yang komersial,  dalam bangunan bisnis indutri peternakan. Kelemahannya adalah belum ada sistem dan kelembagaan lokal yang mampu mengkoordinasikan seluruh potensi, peluang dan keunggulan yang tersedia. Oleh karena itu rancangan sistem dan rancangan kelembagaan yang dapat diwujudkan menjadi aktivitas bisnis komersial masyarakat, dinilai akan mampu membawa peternak gurem menjadi peternak komersial dalam bangunan bisnis dan industri peternakan rakyat yang maju dan modern. 

Tujuan,  Manfaat dan Dampak

Program ini bertujuan untuk penguatan ekonomi masyarakat miskin perdesaan, melalui penyediaan lapangan kerja dan usaha. Melalui program ini masyarakat miskin peserta program mempunyai tambahan aset produktif untuk meningkatkan ketahanan dan kesinmbungan ekonominya. Benefit lain dari program ini antara lain : mengkonversi asset sumberdaya alam inferior dan tuna nilai (rumput) menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi (daging domba), meningkatkan suplai bahan baku kulit mentah untuk industri kulit, pemanfaatan lahan kurang produktif menjadi kebun rumput dan berkontribusi terhadap peningkatan suplai daging nasional, sebagai substitusi impor daging.   

Model dan Implementasi Program Sosial Bisnis Kelompok Peternak Domba

Inovasi rekayasa sosial dan kelembagaan ini seperti pada ilustrasi 1,  dilaksanakan dengan melibatkan investor sebagai penyedia modal, koperasi sebagai pengelola program dan peternak sebagai pelaksana budidaya  domba, dijalankan dalam dua pola :

(1). Pola pembibitan (induk) dirancang untuk meningkatkan aset produktif peternak miskin, (2). Pola penggemukkan (jantan muda) difungsikan untuk pembiayaan pengelolaan program, tabungan peternak, dana sosial, penanggulangan risiko dan imbalan bagi investor.

Keunggulan rancangan program ini adalah peternak miskin dapat meningkat pemilikan aset produktifnya, tanpa mengeluarkan modal finansial sama sekali, dan tanpa hibah, sepenuhnya atas kinerja usahanya. Di pihak lain, investor mendapatkan imbalan yang lebih tinggi dari bunga deposito (10% per 6 bulan), serta program dapat bergulir dengan dukungan biaya pengelolaan secara mandiri. 

Secara ringkas mekanisme program kegiatan awal (6 bulan ke -1) dipaparkan sebagai berikut :
a.    Investasi diharapkan berasal dari investor atau pinjaman berbunga rendah.
b.    Uang dari investor dikelola oleh koperasi, pembelian domba harus dilakukan koperasi.
c.     Besaran nilai per paket/satuan investasi harus cukup untuk membeli 3 ekor domba bunting muda (1 bulan) dan 2 ekor domba muda untuk digemukkan.
d.    Masyarakat miskin peserta program harus mendapat dukungan jaminan atas kesungguhan sebagai peserta dari 3 orang (1 dari tokoh/RT/RW/kepala desa, 2 dari peternak lain).
e.    Paket investasi domba (3 ekor bunting dan 2 ekor muda) wajib dipelihara oleh peternak dengan sebaik – baiknya. Dalam jangka waktu 6 bulan, domba sudah melahirkan dan anak sudah bisa disapih. Domba bakalan penggemukkan sudah masuk layak jual.
f.     Anak-anak Domba pasca penyapihan (sebanyak 3 s.d. 6 ekor per paket) menjadi hak milik peternak miskin. Bila ikut serta dalam 2 kali program (setahun) atau 2 paket, maka tambahan aset produktif bisa mencapai 6 - 12 ekor.
g.    Induk pasca sapih (tidak bunting) dan jantan hasil penggemukkan dikembalikan ke koperasi, untuk modal perguliran periode berikutnya.
h.    Koperasi menjual 2 ekor domba jantan hasil penggemukan.
Nilai tambah penggemukkan dibagi - hasilkan dengan proporsi :
     (1).Dana pengelolaan (50%), terbesar digunakan untuk biaya pemeliharaan pembuntingan domba, operasional pengelolaan, penanggungan risiko, administrasi, dan upah pengelola.
             (2). Imbalan kepada investor (30%).
             (3). Tabungan Peternak (10%).
             (4). Dana sosial, pendidikan dan kesehatan (10%).
i.        Domba induk pengembalian dipelihara koperasi sampai dengan bunting 1 bulan.

 

j.       Masuk periode selanjutnya (6 bulan ke - 2) Koperasi membeli 2 ekor domba jantan muda dan beserta 3 ekor induk bunting, domba diserahkan ke peternak baru.
 
 
Penutup                                            
       Kemiskinan erat kaitannya dengan pemilikan dan kemampuan untuk mengakses aset penghidupan. Oleh karena itu, untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas kehidupan, masyarakat miskin perdesaan harus mempunyai kesempatan untuk menambah pemilikan aset penghidupannya. Berbagai upaya pemerintah untuk pengentasan kemiskinan, banyak mengalami kegagalan karena bantuan banyak diberikan dalam bentuk hibah, bukan dasar kinerja upaya masyarakat. Program ini dijalankan dengan tujuan untuk meningkatkan pemilikan dan akses yang lebih baik terhadap aset produktif : SDA, SDM, Finansial, Fisik dan modal sosial (kepercayaan, norma dan net working bisnis). Diharapkan masyarakat miskin secara mandiri dapat membangun dirinya, lebih jauh dampaknya mampu memberikan kontribusi bagi penguatan ekonomi perdesaan.