Kalender
Desember 2017
MSSR KJS
     12
3456789
101112131415 16
17181920212223
24252627282930
31      
Rekening
Rekening Nomer: 0285601541
Bank BNI Cabang UGM Yogyakarta
a,n : YAY. FLipMAS INDONESIA
Specimen : IR. GATOT MURJITO, MSc

EKSISTENSI KEM BENGKALA SINGARAJA - BALI DITINJAU DARI ASPEK KEBUDAYAAN

Berita Prodikmas Lainnya

Diupload oleh : Sundani Nurono Soewandhi | Tanggal : 18-Sep-2017 | Dibaca : 132 Kali

Oleh :
Pande Wayan Renawati
Dosen Fakultas Brahma Widya
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
panderena@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara yang indah, tanahnya subur beserta hasil kekayaan alam berlimpah sebagai karunia Tuhan bagi warganya yang tiada tara. Untuk memelihara keindahan beserta seluruh kekayaan wilayah Indonesia, bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan pemikiran yang kreatif dan inovatif. Namun, kebanyakan warga negaranya masih hidup dalam kemiskinan dan kawasan tinggalnya dibiarkan terlantar. Untuk itu, didirikanlah KEM (Kawasan Ekonomi Masyarakat) PERTAMINAFLip. KEM tercipta atas kreativitas dan dinamika intelektualitas dosen-dosen Profesional Pendidik Masyarakat (PROdikMAS), yang bergabung dalam FLipMAS INDONESIA bekerjasama dengan CSR SMEPP PT Pertamina (Persero). Tujuan dikreasikannya KEM adalah untuk meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan warganya melalui kegiatan zero waste integrated farming.

Salah satu KEM tersebut letaknya di Bali, adalah KEM Bengkala tepatnya di Desa Bengkala Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng dengan ibu kotanya Singaraja. Keunikan KEM ini membedakan dengan KEM di seluruh Indonesia, yaitu KEM yang dihuni dengan memberdayakan para warga tuli bisu atau disabel kurang lebih 48 orang yang sering dikenal dengan sebutan warga kolok Bengkala. Karena warganya menyandang ketunaan inderanya dan hidup dalam kemiskinan. KEM Bengkala ditata tidak hanya mengikuti model zero waste integrated farming akan tetapi juga dilengkapi aktivitas kebudayaan. Dengan demikian, keterampilan dan pengetahuannya tentang pertanian, peternakan dan seni budaya mampu membantu mengantarkannya menuju kehidupan yang lebih manusiawi.

Kata Kunci : Eksistensi KEM Bengkala, Warga Kolok serta Aspek Kebudayaan.

 

 

1. Pendahuluan

Indonesia kaya akan hasil bumi yang melimpah, dengan tanah yang subur, masyarakat yang makmur begitu juga hasil kebudayaannya yang tercipta dari masa nenek moyang hingga kini masih menjadi ciri khas setiap daerah. Begitu juga penduduknya yang sudah makin luas cakrawala berpikirnya sesuai dengan perkembangan zaman. Jika hal itu dipahami betapa anugerah dan karunia Tuhan tiada taranya bagi bangsa ini, yang terlihat makin maju dan makin bisa bersaing dengan negara lain, diikuti oleh semangat penduduknya untuk memperoleh ilmu pengetahuan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hingga makin bisa memajukan taraf hidup masyarakat dari yang kurang mampu menjadi lebih mampu dari biasanya. Begitu pula kehidupan yang penuh dengan kemiskinan dan serba kekurangan bisa meningkat kehidupannya menjadi makin berdaya sehingga semakin mampu dan berguna bagi keluarganya. Untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah dan tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Namun dibutuhkan adanya kesabaran, kesadaran untuk mewujudkannya. Sabar diperlukan karena segala sesuatu tidaklah bisa tiba-tiba ada dan semua harus sesuai dengan rencana yang matang dan terukur. Begitu pula sadar dinyatakan perlu, karena segala sesuatu disadari sebagai suatu kewajiban manusia untuk senantiasa dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebelum menuntut haknya. Jadi kekuatan bangsa Indonesia terletak pada semua komponen bangsa yang mestinya dipelihara, dijaga, dilestarikan keberadaannya.

Sehubungan dengan hal itu untuk membantu masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, bagi penduduk yang sedang menganggur di pedesaan yang nun jauh disana, namun memiliki tanah yang luas tak berdaya untuk mengolahnya. Maka berdirilah FlipMAS Indonesia yang beranggotakan dosen-dosen pengabdi yang cerdas dan penuh dedikasi tinggi yang tergabung dalam dosen PRODIKMAS (Profesional Pendidik Masyarakat), yang dengan semangat dan ketulusannya, untuk terjun di masyarakat dalam memberi semangat kerja kepada penduduk di wilayahnya masing-masing yang letaknya di daerah disebut dengan FlipMAS Wilayah. Disamping itu juga bertujuan untuk mengembangkan dan memajukan wilayah serta menjadikan penduduk sekitarnya menjadi sejahtera, pada kawasan yang cukup luas untuk segala kegiatan dan pantauannya digerakkan oleh dosen-dosen pejuang tangguh lapangan, yang merelakan waktunya untuk mengumpulkan para petani, dan orang-orang yang tidak berdaya dalam kehidupan, dari yang tidak berpotensi hingga diyakinkan untuk menjadi manusia berdaya guna dan berhasil guna. Gerakkannya tidak tanggung-tanggung untuk mengajaknya menggali tanah dengan ukuran yang dangkal hingga dalam dilanjutkan dengan mengangkut dari beban ringan hingga beban berat, untuk menghasilkan segala yang potensial baik aneka macam tanaman, aneka jenis ternak, juga beberapa jenis ikan dengan ukuran wilayahnya menggunakan ukuran hektar, di mulai dari 5 ha ke atas. Semua ini dilakukan dalam rangka untuk mengurangi beban pemerintah di bidang pengangguran, menjadi petani yang sejahtera dengan aset yang tersedia untuk mendapatkan omzet yang lebih besar. Sesungguhnya tidaklah mudah menggerakkan wilayah atau penduduk yang diam untuk berkembang, namun atas usaha dan kegigihan para dosen yang terlibat di dalamnya diyakini mampu minimal, untuk menghasilkan dan menjadikannya yang lebih baik dari sebelumnya. Karena FlipMAS Indonesia berada di masing-masing daerah, semangat kerja di daerah masing-masing, diberikan kepada penduduk yang wilayahnya tidak berdaya, terbengkalai sejak lama, namun penduduknya tetap semangat untuk bekerja. Maka didirikanlah KEM (Kawasan Ekonomi Masyarakat). KEM ini juga ada di masing-masing wilayah di Indonesia sebanyak 32 buah. Salah satunya adalah KEM yang ada di wilayah Bali berada dalam naungan FlipMAS Wilayah Bali dikenal dengan sebutan FlipMAS Ngayah Bali, dengan KEM yang bernama KEM Bengkala. KEM ini letaknya di Desa Bengkala Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng dengan ibukotanya Singaraja. Keunikan KEM ini sebagian dari penduduknya mengalami cacad sejak dilahirkan. Cacadnya adalah tidak mendengar dan tidak bisa bicara, hal itu disebut kolok. Salah satu program KEM adalah memberdayakan orang yang tidak mampu. Untuk itu dengan segala keterbatasannya warga kolok tersebut perlu diberdayakan melalui kehadiran KEM di wilayah Bengkala ini. Selanjutnya akan dibahas tentang target dan luaran, metode pelaksanaan, hasil kegiatan serta kesimpulannya dari aspek Kebudayaan khususnya.

2. Target dan Luaran

Untuk mewujudkan target dan luaran dari program KEM ini, hendaknya diketahui terlebih dahulu situasi penduduk Bengkala hingga disebut dengan warga kolok karena keberadaannya yang tertekan hingga tidak mampu bicara dari salah satu naskah lontar yang ditemukan. Menurut isi Naskah Lontar Prasasti Bengkala Kubutambahan, Buleleng (2004 : 1b.4-6) disebutkan bahwa.

Adapun isi perintah beliau paduka Sri Samajaya, hendak memberitahukan kepada kita sekalian, sebab baginda Sri Maharaja Aji Jayapangus Arkajacihna mendengar ketidakberdayaan masyarakat Bengkala, sangat susah serta bingung tersesak hatinya tidak berdaya dan sangat kecewa dalam bersengketa dan selalu ditekan paksa oleh sang admak akmitan apigajih (para petugas pemungut pajak) setiap bulan cetra (sasih kesanga). Hal itulah menyebabkan kekhawatiran hati masyarakat, kacau tidak merasa puas dan tidak dapat bicara, tidak dapat melaksanakan pekerjaannya masing-masing di desanya. Oleh sebab itu supaya tidak terbengkalai segala masalah diupayakan penyelesaiannya.

Dengan isi naskah lontar tersebut, diyakini bahwa warga kolok Bengkala terjadi disebabkan karena tekanan batin yang dirasakannya. Tekanan itu dirasakan cukup lama dimungkinkan hingga kini masih berbekas dihatinya masing-masing walau leluhurnya telah tiada, namun keturunannya yang sudah berumur saat ini kiranya masih merasakan derita orang tuanya dahulu yang berakibat trauma. Untuk itu dengan kehadiran KEM di wilayahnya diharapkan makin bisa memberdayakan warga kolok setempat.

Melalui pemahaman keberadaan warga kolok tersebut seperti yang telah dipaparkan di atas, ketika ingin melaksanakan pemberdayaan baginya, perlu diketahui lebih jauh terkait dengan jangkauan sikap atau prilaku warga kolok dengan kekuatan intelegensinya. Untuk itu dipahami pula sebuah persepsi dari setiap orang yang berkunjung ke wilayah KEM. Sebagaimana diketahui Persepsi menurut Heraty (1986 : 206) dalam Sedana (2015 : 19) dijelaskan bahwa.

Persepsi adalah penghayatan langsung oleh seorang pribadi atau proses-proses yang menghasilkan penghayatan langsung tersebut. Persepsi meliputi pengindraan (sensasi) melalui alat-alat indra seperti indra perasa, peraba, pencium, pengecap dan indra pendengar. Sehingga makna pesan yang dikirim ke otak harus dipelajari. Semua indra itu mempunyai andil bagi berlangsungnya komunikasi manusia. Semua indra menyampaikan pesan ke otak untuk ditafsirkan. Agama, ideologi, tingkat ekonomi, pekerjaan dan cita rasa sebagai faktor-faktor internal jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Dengan demikian persepsi terkait oleh budaya (culture – bound).

Sehubungan dengan hal itu setiap orang yang berkunjung ke KEM Bengkala selalu mempunyai sebuah persepsi atau pandangan terhadap warga kolok yang dihadapinya secara langsung begitu juga di saat pertama kali menginjakkan kaki di KEM Bengkala tepat pada saat sandekawon atau saat maghrib. Suasana di wilayah itu tenang. Ada beberapa warga kolok disana sedang duduk memandang kedatangan anggota FlipMAS. Terenyuh rasanya melihat semangatnya untuk mengungkapkan segala hal di hatinya, namun terhambat penyampaian karena sikon yang dialaminya. Sempat rasakan sedih saat itu tapi melihat gerakannya untuk mewujudkan sesuatu begitu bergelora, maka para anggota FlipMAS pun makin semangat untuk segera mewujudkan pandangan-pandangannya dalam rangka mengembangkan situasi KEM ke depan dengan membangun kembali semangat para warga kolok yang terlihat lesu, yang salah satunya disebabkan oleh situasi yang dirasakan sejak lahir. Warga Kolok telah cukup lama mendiami wilayah Bengkala. Kehidupan sehari-hari pada umumnya sebagai petani juga pencari kayu bakar. Namun ada saja kegiatan lain yang dikerjakan demi sesuap nasi untuk menjamin keluarganya kelak.

Dari segala hal yang ada pada warga kolok, bisa dilihat dari segi prilakunya. Untuk meluaskan pandangan, dalam wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_manusia
dijelaskan bahwa.

Prilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi dan atau genetika. Prilaku seseorang dikelompokkan ke dalam prilaku wajar, prilaku dapat diterima, perilaku aneh dan prilaku menyimpang. Dalam sosiologi, prilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar.

Tentunya dari penjelasan di atas prilaku warga kolok pun terkait dengan adat istiadat yang telah dilaksanakan secara turun temurun. Seperti halnya sebelum bangunan digunakan semestinya harus diupacarai dahulu disebut dengan upacara melaspas. Selanjutnya upacara bukan saja ditujukan kepada Tuhan dan para Dewa tetapi ditujukan juga kepada Bhuta Kala demi terwujudnya sebuah keseimbangan. Begitu juga dengan sikap warga kolok tersebut tenang, namun sensitif dalam bergaul, seperti halnya mudah tersinggung, mudah memprediksikan sesuatu yang belum tentu benar kebenarannya. Emosinya cukup kuat untuk berkegiatan maupun dalam keseharian. Sehubungan dengan nilai etika kelihatannya ada beberapa yang tahu sopan santun dalam berbicara (dengan kode), maupun sopan dalam bertindak masih dalam sikon yang terkadang ngawur. Mengenai kekuasaan pun sifatnya kuat dimiliki warga kolok yang pada umumnya terkait atas kepemilikan benda. Perlu dimaklumi karena keterbatasan yang dihadapi dan memang tidak mendapatkan pendidikan sejak kecil. Mengenai warga kolok dari segi genetikanya, bahwa bila ayah ibunya kolok anaknya juga kolok. Bila salah satu dari ayah ibunya kolok, anak-anaknya kondisinya normal semua tetapi ada juga ayah ibunya kolok namun anaknya nomor tiga dari 4 bersaudara normal kondisinya. Inilah sikon ketidakberdayaan prilaku warga kolok yang terlihat selama kunjungan berlangsung.

Perlu dipahami juga terkait dengan intelegensianya warga kolok. Intelejensia menurut wikipedia dalam http://idipamekasan.blogspot.co.id/2011/04/pembentukan-pusat-intelegensia.html dijelaskan tentang pemaknaan intelejensia sebagai berikut.

Intelegensia (kecerdasan) adalah kemampuan untuk adaptasi secara efektif terhadap lingkungan, dan membuat perubahan pada diri sendiri dan lingkungan atau mendapatkan sesuatu yang baru. Jadi intelegensia bukan hanya suatu proses mental tetapi kombinasi beberapa proses mental langsung melalui adaptasi di lingkungan (Encylopedia Britannica 2006).

Mengenai intelegensia warga kolok jika diselidiki selama ini kiranya cukup cerdas dalam menangkap suatu pendapat orang yang normal. Selain itu warga kolok juga mampu berpikir cerdas dalam melakukan kegiatan dengan menentukan hal mana yang didahulukan dan yang mana belakangan. Tidak ketinggalan pula dalam pengembangan ide gagasannya untuk mengungkap suatu hal yang tidak masuk akal namun dengan intelejensianya sikap warga kolok bisa dimengerti oleh banyak pihak.

Mengenai target dan luaran bagi KEM Bengkala ini adalah sebagai berikut. Untuk lebih mantap akan dijelaskan tentang target terlebih dahulu. Tentunya target dari KEM Bengkala ini adalah bahwa agar semua kegiatan dari berbagai aspek dapat berkembang sesuai dengan yang direncanakan. Seperti misalnya pada fisik bangunan, agar rumah warga kolok yang ditempati oleh warganya pada tanah warisan kolok yang masih ada tersebut bisa seluruhnya dibangun, beserta bangunan rumah warga kolok yang miring dari ukuran yang seharusnya, saat ini sudah dibuat lebih seimbang. Juga terkait dengan sarana prasarana untuk tenun, ruang tenun yang sempat digunakan untuk dijadikan rumah tinggal warga kolok sementara karena belum didirikannya rumah tinggal baginya, sekarang sudah dikembalikan ke asalnya semula. Balai pertemuan yang dahulunya kemasukan air hujan menjadi lebih nyaman tanpa masuknya air hujan kembali. Begitu pula balai bengong / gazebo di KEM yang tadinya cukup pendek sudah ditinggikan lagi sehingga bentuknya lebih sesuai dari ukuran sebelumnya. Sedangkan terkait dengan aspek peternakan sudah dibangun kandang ternak yang baru diperuntukkan pada ayam yang berwarna khusus atau ayam berumbun (warna bulunya campur baik hitam, merah, kuning maupun putih) yang merupakan ayam khusus digunakan untuk upacara, serta kandang ayam yang khusus untuk ayam yang sudah lebih dari 3 minggu. Untuk saat ini ayam tidak dipelihara sementara sampai kandang selesai dikerjakan juga karena harga bibit ayam juga cukup mahal sehingga ditunda sementara sampai harga bibit ayam menurun. Sapi maupun babi ditargetkan akan bertambah jumlahnya sehingga tentu akan menambah income KEM. Terkait dengan aspek kebudayaan, perlu dipahami ada 7 unsur kebudayaan menurut http://mbahkarno.blogspot.co.id/2013/09/unsur-unsur-kebudayaan-beserta.html disebutkan bahwa.

Ada 7 unsur – unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat seperti (1). Sistem bahasa. Menurut Koentjaraningrat, unsur bahasa atau sistem perlambangan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi adalah deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa tersebut dapat diuraikan dengan cara membandingkannya dalam klasifikasi bahasa-bahasa sedunia pada rumpun, sub rumpun, keluarga dan sub keluarga. Menurut Koentjaraningrat menentukan batas daerah penyebaran suatu bahasa tidak mudah karena daerah perbatasan tempat tinggal individu merupakan tempat yang sangat intensif dalam berinteraksi sehingga proses saling memengaruhi perkembangan bahasa sering terjadi. (2) Sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Masyarakat pedesaan yang hidup dari bertani akan memiliki sistem kalender pertanian tradisional yang disebut sistem pranatamangsa yang sejak dahulu telah digunakan oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. (3). Sistem kekerabatan / organisasi. Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi sosial merupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan dasar adalah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatan-tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosial dalam kehidupannya. Kekerabatan berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat karena perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial. (4). Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai suatu masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik. (5). Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup. Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi. Penelitian etnografi mengenai sistem mata pencaharian mengkaji cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomiannya untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain,

a. berburu dan meramu; b. beternak; c. bercocok tanam di ladang; d. menangkap ikan; e. bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi. Pada saat ini hanya sedikit sistem mata pencaharian atau ekonomi suatu masyarakat yang berbasiskan pada sektor pertanian. Artinya, pengelolaan sumber daya alam secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam sektor pertanian hanya bisa ditemukan di daerah pedesaan yang relatif belum terpengaruh oleh arus modernisasi. (6). Sistem Religi. Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya manusia yang percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaannya masih primitif. (7). Kesenian. Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknik-teknik dan proses pembuatan benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat. Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.

Mengenai bahasa yang digunakan warga Desa Bengkala, selama ini selalu menggunakan Bahasa Bali dengan logat yang sesuai dengan wilayah atau kabupaten Buleleng. Sebab walau pun bahasanya sama untuk daerah Bali tetapi mempunyai perbedaan logat untuk masing-masing kabupaten sehingga cukup dan sangat berbeda. Namun khususnya warga kolok Bengkala menggunakan Bahasa Isyarat. Bahasa Isyaratnya pun membedakan dengan warga kolok di daerah atau di negara lain di muka bumi ini.

Pengetahuan warga kolok Bengkala sudah sedemikian adanya memiliki ide atau gagasan untuk membuat atau mengkreasikan suatu atau pun mendapat pengetahuan dari pihak lain sangat diterima bagi nya sebagai pengetahuan baru yang membuatnya semakin maju. Begitu pula kekerabatan atau organisasi. Warga kolok dihadapkan dengan adanya kelompok yang membangkitkan semangat hidupnya salah satunya adalah FlipMAS hadir ditengah-tengah kehidupannya yang memberi angin segar bagi gairah hidup warga kolok selama ini. Dan terlihat tidak ada sistem kasta di wilayah itu. Namun segala aturan adat diatur dengan menggunakan aturan adat yang disebut dengan awig-awig desa atau pararem yang diperoleh dari hasil rapat antar warga kolok dengan pemerintahan setempat. Mengenai sistem peralatan hidup dan teknologi, bahwa masyarakat warga kolok telah mengenal peralatan hidup dari nenek moyang seperti untuk memasak, untuk bertani dengan menggunakan alat-alat pertanian serta teknologi bertani pun sudah diketahuinya. Hal itu terbukti bahwa untuk menanam atau bertani dilakukan sesuai dengan waktu-atau masa yang pantas untuk bercocok tanam. Jadi tidak sembarangan karena hasilnya pun akan tidak sesuai harapan. Sistem ekonomi atau mata pencaharian hidupnya ada dengan berdagang, sebagai tukang pijat, sebagai tukang bangunan, sebagai pembuat sesajen, dan sebagainya sesungguhnya sudah bisa mengambangkan dirinya tetapi masih perlu arahan maupun tuntunan sehingga makin berdaya guna dan berhasil guna. Agama yang dianut adalah agama Hindu. Dan tetap menggunakan cara sembahyang seperti orang Bali pada umumnya sesuai dengan tradisi setempat. Kesenian warga kolok Bengkala cukup terkenal dengan tari Janger Koloknya. Tarian itu telah dipentaskan di wilayah Bali ini dan sudah ada di youtube. Namun semangat untuk seni itu pun tak pernah surut dengan dilatihnya untuk menari dengan tarian baru yang bernama Bebek Bingar. Tarian warga kolok ini sudah ditarikan di kabupaten maupun di hotel-hotel berbintang di Bali.

Selain itu target yang utama adalah yoga. Yoga menjadi ikon utama pada aspek kebudayaan karena diyakini betapa dengan gerakan yoga bukan hanya mampu untuk menyegarkan dan membugarkan tubuh, tetapi juga mampu untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual para warga kolok, untuk ketenangan pikiran, merilekskan jiwa yang sehari-harinya merasa tertekan dengan keterbatasannya dalam berkomunikasi, juga kehidupan yang penuh liku-liku yang susah untuk diterjemahkannya. Untuk itu yoga dipandang sangat penting untuk dijadikan semangat untuk berkonsentrasi dalam mewujudkan masa depannya. Oleh karena itu diharapkan makin banyak warga kolok Bengkala yang mengikutinya karena sementara telah dilakukan di KEM hanya beberapa orang yang cukup konsen mengikuti pelajaran yoga tersebut. Dan khususnya melatih calon pelatih yoga untuk regenerasi berikutnya. Selanjutnya jika diperkenankan untuk mengajarkan pijat urut yang lebih baik bagi warga kolok yang berminat. Mengingat akses KEM Bengkala akan dijadikan wilayah yang diminati wisatawan dengan kesejukan lokasi di tengah hutan yang rindang serta kehidupan yang damai, sehingga bagi tamu yang berkunjung nantinya akan merasakan pijatan warga kolok tersebut setibanya di KEM dengan biaya yang terjangkau. Untuk lebih berkembang lagi kemungkinan dibuatkan spa khusus bagi pria dan khusus bagi wanita. Spa itu digunakan warga bagi warga kolok untuk berinteraksi dalam meraup sejumlah rupiah yang bisa membantu berkembangnya KEM dan Desa Bengkala pada umumnya. Selain yoga dan spa, saat ini sedang proses pembuatan kamus kolok dengan harapan agar setiap orang yang datang bisa bercakap-cakap dengan warga kolok di Bengkala. Pembuatan kamus percakapan kolok itu cukup rumit dari pembuatan kamus pada umumnya, ada beberapa sub yang harus divideokan namun selanjutnya akan menjadi kamus.

Pada aspek pemberdayaan wanita selama ini diajarkan membuat kue- kue yang berasal dari singkong, ubi, serta tepung terigu, Terkait dengan pemberdayaan wanita target luarannya agar diajarkan pembuatan kue atau jajanan khas Bengkala yang bisa dijual masyarakat KEM untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, serta bisa dijual pada masyarakat umumnya. serta diajarkan membuat jamu karena Bengkala terkenal penghasil kunyit terbanyak. Sehingga layak untuk membuat jamu yang rasanya juga lebih nikmat dengan kunyit asli Bengkala. Terkait dengan tenunan dari Bengkala selama ini telah dilakukan latihan pembuatan kain tenun terkendala bangunan fisik dalam perbaikan, maka ditunda sementara pengerjaannya. Kiranya dalam waktu dekat akan segera beroperasi karena menurut ajaran dan adat di Bali, bahwa segala bangunan yang akan digunakan untuk menjadi rumah tinggal atau berkarya, mesti diupacarakan terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal itu dimaksudkan untuk mensucikan bangunan dengan menghindari mala (hal yang membuat cemer / kotor/ leteh/ ternodanya bangunan secara alam nyata (sekala maupun alam tidak nyata niskala) baik dari prilaku maupun pemikiran orang-orangnya.

Luaran yang diharapkan dari pencapaian target tersebut adalah berupa pembagian tugas dari masing-masing warga kolok sesuai dengan hobi atau talentanya masing-masing untuk memelihara segala sesuatu yang telah dibangun untuk lebih dilestarikan dengan baik serta jumlah pemeliharaannya bertambah seperti halnya ternak ayam diharapkan akan terpelihara sebanyak 2000 ekor. Ternak sapi sampai 10 ekor, begitu pula ternak babi akan terpelihara sampai 20 ekor. Dari aspek kebudayaan dengan berharap banyak kepada warga kolok agar mampu meningkatkan imajinasinya dalam berpikir yang lebih maju seiiring dengan perkembangan zaman. Disamping itu warga kolok mampu meningkatkan spiritualnya dengan jati dirinya melalui ajaran yoga dan sembahyang yang telah diajarkan. Serta adanya pelatih yoga yang berbakat. Dengan jalan mengajarkan kepada 1 atau 2 warga kolok yang dinyatakan mampu menjadi pionir bagi pengembangan yoga selanjutnya dengan menjadikannya guru yoga bagi warga kolok nantinya. Terkait dengan kamus kolok, sebagai luarannya adalah agar bisa menjadi pusat belajar untuk percakapan warga kolok atau central training bagi pembelajaran bahasa kolok Bengkala di dunia. Jadi orang dari negera – negera di dunia ini bisa belajar bahasa kolok Bengkala dengan mempelajari kamus percakapan antar kolok untuk memudahkan berkomunikasi antar warga kolok maupun bagi yang berkunjung ke KEM di desa Bengkala tersebut. Melalui kegiatan KEM Bengkala ini, agar kemudian hari dapat diketahui trik-trik untuk memberdayakan warga kolok dengan prilaku dan intelejensianya sebagai fokus bagian dari kegiatan KEM ini serta aspek kebudayaan yang cocok untuk menambah wawasan warga kolok tersebut.

METODE PELAKSANAAN

Selama ini sesuai dengan kegiatan KEM Bengkala yang telah dilaksanakan, maka segala kegiatan didasarkan atas model zero waste integrated farming. Sehubungan dengan hal itu, maka dapat disampaikan hal yang terkait dengan zero waste, menurut https://en.wikipedia.org/wiki/Zero_waste dapat dipahami bahwa.

Zero Waste berarti merancang dan mengelola produk dan proses secara sistematis menghindari dan menghilangkan volume dan toksisitas limbah dan bahan, melestarikan dan memulihkan semua sumber daya, dan tidak membakar atau menguburnya.

Dengan menerapkan Zero Waste akan menghilangkan semua pembuangan tanah, air atau udara yang merupakan ancaman bagi planet, manusia, hewan atau kesehatan tanaman.

Zero Waste mengacu pembuangan melalui pendekatan manajemen dan perencanaan yang menekankan pencegahan limbah sebagai lawan untuk mengakhiri pengelolaan limbah. Ini adalah pendekatan seluruh sistem yang bertujuan untuk perubahan besar dalam cara bahan mengalir melalui masyarakat, sehingga tidak ada limbah. Zero waste meliputi lebih dari menghilangkan limbah melalui daur ulang dan penggunaan kembali, berfokus pada restrukturisasi sistem produksi dan distribusi untuk mengurangi limbah.

Sehubungan dengan hal itu zero waste bagi Kem Bengkala terletak pada pengolahan limbah baik ternak sapi, babi maupun ayam yang ditampung pada septik tank selanjutnya melalui bio reactor dicairkan lalu menjadi gas untuk digunakan memasak. Selanjutnya sisa kotoran cair tadi yang telah menjadi padatan digunakan sebagai pupuk tanaman. Dalam hal ini semua terjadi seperti sebuah siklus sehingga berguna untuk tanaman dan menguntungkan bagi peternakan dan pertanian menjadi siklus yang bermanfaat.


Terkait dengan pemaknaan integrated farming secara luas, pada umumnya sangat terkait dengan pertanian. Menurut https://en.wikipedia.org/wiki/Integrated_farming disebutkan bahwa.

Farming dimaknai terpadu, sebagai standar baru pertanian Eropa organik (IF) atau produksi terintegrasi adalah sistem manajemen pertanian organik seluruh yang bertujuan untuk memberikan pertanian yang lebih berkelanjutan. Ini adalah pendekatan yang dinamis yang dapat diterapkan untuk setiap sistem pertanian di seluruh dunia. Ini melibatkan perhatian terhadap detail dan perbaikan terus-menerus dalam semua bidang usaha pertanian melalui proses manajemen informasi. Pertanian terpadu menggabungkan yang terbaik dari alat-alat modern dan teknologi dengan praktek-praktek tradisional menurut sebuah situs dan situasi tertentu. Dalam kata-kata sederhana, itu berarti menggunakan banyak cara budidaya dalam ruang kecil atau lahan.

Dengan menggunakan sistem integrated farming pada pertanian dapat pula digunakan pada bidang selain pertanian seperti halnya pada aspek kebudayaan yang terdapat pada KEM Bengkala. Dalam hal ini, pada aspek kebudayaan, selama ini telah memperhatikan gerak langkah ataupun prilaku warga kolok secara mendalam terkait dengan intelejensianya pula maka diputuskan untuk mengajarkan yoga, mengajarkan sembahyang. Dengan demikian terasa dekat untuknya untuk semakin memberikan kekuatan jasmani maupun rohani untuk mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan. Untuk menjadikan ajaran yoga tersebut sebagai pedoman dalam melaksanakan ajaran yoga itu, maka pada saat ini sedang dalam penggarapan dan pengembangan ide serta gagasan dalam bentuk Kamus Percakapan Warga Kolok Bengkala yang saat ini masih dalam proses penyusunan. Sebagaimana diketahui bahwa yoga menurut Adiputra,dkk (1984 : 67) dimaknai bahwa.

”Yoga berarti penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Keadaan pikiran itu ditentukan oleh intensitas satwam, rajas dan tamas.”

Dalam hal ini dipahami bahwa, setiap orang mengalami kegoncangan pikiran, khususnya bagi warga kolok melalui kegiatan yoga yang telah diajarkan akan bisa dikendalikan sikap-sikap emosi yang dimilikinya sehubungan dengan sikon yang dihadapinya sejak kecil hingga dewasa. Selain itu dipahami juga eksistensi manusia menurut Kamajaya, (1998 : 26-27) dijelaskan bahwa.

Hanya manusia yang dapat berpikir, membayangkan dan menggunakan pertimbangan. Hanya manusia saja yang dapat membandingkan dan membedakan, dan hanya manusia saja yang dapat menarik kesimpulan. Dengan demikian manusia yang dapat mencapai tingkat kesadaran Tuhan.”

Sehubungan dengan hanya manusia yang mempunyai pikiran, maka walau sikon warga kolok Bengkala sedemikian adanya, namun masih memiliki pikiran untuk membedakan hal yang dapat dijadikan panutan dan hal yang patut dihindarinya. Karena sesungguhnya hanya manusia yang mempunyai kelengkapan pikiran dibandingkan dengan dua makhluk lainnya di dunia ini baik hewan maupun tumbuhan. Oleh karena itu selayaknya, sudah sepatutnya untuk berbagi pemikiran kepada yang menderita seperti yang dialami oleh warga kolok. Untuk itu sebagai manusia yang lebih lengkap dan lebih berpengetahuan dari yang memiliki keterbatasan, hendaknya sudah menjadi kewajiban untuk memberi perhatian khusus bagi kesejahteraan hidupnya, sudah selayaknya memberi arahan atau petunjuk yang sederhana untuk selanjutnya bisa dimengerti, bisa dipahami akan keberadaan manusia di dunia ini sehingga warga kolok terinspirasi dan mempunyai dedikasi tinggi minimal dalam berpikir, melangkah dan berharap bagi kemajuannya di masa depan. Untuk itu dua dari sekian banyak gerakan senam yoga ditampilkan seperti nampak dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1. Latihan Yoga

Gambar 2. Latihan Yoga

Mengenai kehidupan warga kolok sejak dahulu penuh dengan derita. Deritanya dalam sikon fisik maupun mental. Sikon fisiknya dengan situasi yang disabel sebagai orang kolok. Sedangkan sikon mentalnya mudah tersinggung, acuh dengan sekelilingnya dan cukup tegang dalam berpikir. Situasi rumahnya pun cukup sederhana seperti tambak pada gambar di bawah.


Gambar 3. Rumah Warga Kolok Lama

Hasil Kegiatan

Bengkala merupakan nama sebuah desa yang dikenal penghuninya sebanyak 48 orang adalah warga tuli bisu namun sisanya adalah warga normal biasa. Tempat KEM didirikan juga adalah suatu tempat yang merupakan satu-satunya tanah warisan nenek moyang warga kolok yang ada di Bengkala. Sehingga sangatlah tepat tempat itu dipilihnya menjadi kawasan untuk memberdayakan warga kolok dalam meningkatkan perekonomiannya kelak. Sejak didirikannya KEM dengan kegiatan yang ada di dalamnya, wilayah ini makin dikenal masyarakat sekitarnya. Kunjungan ada beberapa kali dari berbagai lembaga datang untuk melihat dan ingin mengetahui keadaan dan kegiatan warga kolok disana.

Setiap saat bagi anggota maupun masyarakat yang sengaja melintas maupun yang ingin berkunjung, cukup dengan menyebut akan pergi ke KEM. Itu maknanya betapa wilayah atau lingkungan KEM yang tadinya termarjinal menjadi bagian hidupnya yang sangat vital dan menjanjikan di masa depan. Kehadiran KEM sangat disyukuri masyarakat sekitarnya. Untuk itu sangat pantas berterima kasih yang sedalam-dalamnya pada Pertamina dan FlipMAS yang sudah mencurahkan segala material, tenaga dan daya untuk kemajuan seluruh masyarakat yang menikmatinya. KEM yang begitu pesat perkembangannya diikuti oleh semangat kerja para dosen dengan disiplin bidang ilmu masing-masing dengan seluruh daya upaya menyirami rohani para petani sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para petani yang sangat memerlukan uluran tangan orang-orang mampu dihadapannya. Adapun kegiatan dari KEM Bengkala selama ini masih fokus pada pembangunan phisik dalam memenuhi kebutuhan papan. Berupa balai pertemuan nampak pada gambar berikut. Balai pertemuan ini berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan pertemuan atau rapat dan untuk melaksanakan kegiatan yoga.

Gambar 1. Balai Pertemuan

Gambar 2. Embung

Gambar 3. Gazebo

Di depan balai pertemuan itu diapit oleh 2 gazebo, yang fungsinya untuk tempat samtai dan juga sebagai tempat percakapan ataupun rapat kecil dalam kapasitas minim sekitar 6 orang.
Selain itu, pembuatan rumah warga kolok. Selama ini sebelum warga kolok itu tinggal di KEM, sekeluarga tinggal di rumah keluarga besarnya di ujung desa. Setelah KEM berdiri maka ditempatinya tanah wilayah KEM itu sembari menjaga keamanannya.

Gambar 2
Bentuk rumah tradisional

Gambar 3
Bentuk Rumah Modern

Selain pembuatan rumah kolok untuk keluarganya, dibuatkan juga toilet serta dapur umum. Karena bisa digunakan bagi tamu-tamu yang datang. Tempatnya pun tidak jadi satu dengan rumah tinggal warga kolok tersebut. Warga kolok dimaksud, ada 7 orang yang terdiri atas 1 anak, 1 menantu, 2 cucu, ibu dan bapak, serta kakeknya. Mereka hidup sederhana. Kakeknya kolok, bapaknya juga kolok sedangkan ibunya normal beserta anak, menantu dan cucu-cucunya.

Gambar 4. Toilet

Gambar 5. Dapur

Untuk meningkatkan kesejahteraan warga kolok di kemudian hari, telah dibangun juga balai tenun. Balai tenun itu dibangun untuk difungsikan kembali pertenunan yang telah ada di masa silam, dengan melatih masyarakat kolok untuk menghasilkan kain tenunan khas Bengkala Buleleng. Balai tenun ada 2 buah sebelah kanan dan kiri di wilayah KEM.

Gambar 6.
Balai Tenun

Selain balai tenun, warga kolok disiapkan tower untuk menyimpan air, baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk keperluan pemeliharaan hewan baik sapi, babi maupun ayam. Tentu dalam pemeliharaan itu memerlukan banyak air untuk pembersihan maupun menyiram lingkungan KEM.



Gambar 7.
Tower air

Gambar 8.
Mesin air dan Tower

Kandang ayam dibangun juga dengan kapasitas 2000 ekor dengan membangun 2 jenis kandang. Kandang ayam yang menampung ayam berupa bibit atau yang masih kecil-kecil dengan menutup seluruh dinding dengan terpal sehingga ayam terasa seperti dierami. Selain itu, dibuatkan pula kandang yang lebih besar untuk menampung ayam yang telah tumbuh lebih dari 3 minggu.


Gambar 9.
Kandang ayam kecil

Gambar 10.
Kandang Ayam Besar

Selain kandang ayam di atas, ada pula kandang ayam berumbun / jenis ayam kampung dengan bulu yang berwarna untuk digunakan upacara yang menggunakan jenis ayam yang berwarna khusus. Begitu pula pada kandang sapi dipelihara 4 sapi jantan yang sekiranya 2 tahun lagi akan dijual selanjutnya disiapkan jenis bibit baru. Seperti gambar berikut.

Gambar 11.
Kandang ayam berumbun

Gambar 12
Kandang Sapi Lama

Selanjutnya dibuatkan pula kandang sapi yang baru. Begitu pula dibuatkan kandang babi sekitar 10 buah dengan menampung 15 ekor babi yang sedang tumbuh. Kalau babi dewasa yang laki namanya kaung, yang perempuan namanya bangkung, sedangkan anaknya yang besar bernama celeng dan yang kecil bernama kucit, jadi masing-masing mempunyai nama sesuai ukurannya. Berikut gambarnya.

Gambar 13 
Kandang sapi baru

Gambar 14
Kandang Babi

Gambar 15 
Kandang Anak

?Gambar 16 
Babi Bio Reaktor 

Gambar 16 merupakan alat untuk memproses bio gas, segala kotoran hewan ditampung dalam bak penampungan guna produksi bio gas sehingga bisa membantu warga untuk mengurangi anggaran terutama dalam hal memasak. Selain itu, di sekitar KEM ditanami juga pohon buah-buahan sebagai berikut.

Gambar 17 
Pohon Pisang

 

Gambar 18
Pohon Durian Bangkok

Gambar 18 
Pohon Jambu

Gambar 19
Mete Pohon Pepaya



Gambar 20 
Pohon Mangga Brazil

Gambar 21
Pohon Mangga Arum Manis

Gambar 22
Pohon Mangga Madu

Gambar 23
Pohon Mangga Golek



Gambar 24 
Pohon Nangka

Gambar 25
Pohon Keladi

Gambar 26 
Pohon Singkong

Gambar 27
Pohon Sereh

Untuk keperluan upacara sehari-hari, warga kolok juga menanam beberapa jenis bunga yang cocok untuk wilayah KEM. Bunga tersebut untuk bahan upacara persembahyangan, diantaranya kamboja (jepun) ada jepun Bali yang warnanya putih tapi bungannya tebal, bunga jepun cendana yang berisi warna kuning pada ujungnya. Serta kamboja jepang yang berwarna merah, namun tidak dibolehkan menghaturkan sesajen dari bunga yang tumbuh di kuburan seperti kamboja kuburan yang bentuknya agar lebar. Juga ditanami bunga gumitir, bunga ini tumbuh di daerah yang kering juga sejuk, menamannya pun mudah sekali hanya menyemai benih dari bunga yang sudah kering di tanah. Tidak lama akan tumbuh segera pohonnya. Berikut tanaman bunga yang digunakan untuk persembahyangan.

Gambar 28 
Bunga Jepun Jepang

 

Gambar 29
Bunga Jepun Cendana

Gambar 30 
Pohon Bunga Nusa Indah

Gambar 31
Bunga Gumitir

Sehubungan dengan itu ditanam juga pohon sirih juga bunga anggrek seperti nampak pada gambar di bawah. Daun sirih sangat berguna bagi keperluan upacara dalam agama Hindu. Daun sirih sebagai lambangnya Dewa Wisnu yang memelihara dunia ini. Segala upacara apapun di Bali mesti menggunakan daun sirih di dalamnya, karena jika tidak digunakan maka sesajen atau upacara itu hanya hiasan saja.

Gambar 32 
Pohon Sirih

Gambar 33
Pohon Anggrek

Demikianlah berbagai kegiatan dan tanaman serta kegunaannya bagi warga kolok di Bengkala. FlipMAS sudah membantu mengurangi bebannya dengan pendirian beberapa bangunan yang sesuai dengan situasi adat istiadat wilayah KEM Bengkala.
Intinya dari pembicaraan pada tulisan ini adalah sesuai dengan pendapat dari Krishna (2013 :92) disebutkan bahwa.

”Perubahan sejati berasal dari ’dalam diri’. Jangan menunggu masyarakat berubah dulu. Masyarakat adalah bagian dari ’luar diri’ dan anda bisa berubah tanpa bantuan dari ’luar diri’. ”

Hal yang diharapkan untuk terwujud sesuai dengan pendapat dari Krishna (2013 :87) dijelaskan bahwa.
Kedamaian dalam diri adalah hasil dari kepuasan diri, kepuasan dalam diri. Ia menandakan bahwa berakhirnya nafsu keinginan yang membara.”

Kedua hal tersebut dimaknai bahwa untuk merubah suatu tatanan kehidupan masyarakat kolok Bengkala dengan keterbatasan yang ada padanya, maka yang diberikan kelengkapan dengan segala kemampuan yang lebih diharapkan mampu untuk membuat hati nya lebih damai. Damai bukan hanya untuk diri sendiri tetapi diwujudkan melalui kasih sayang pada segala makhluk yang membutuhkan bantuan yang lebih sesuai kemampuan yang dapat dilimpahkan kepadanya. Dengan terwujudnya kedamaian itu maka segala bentuk harapan sudah terpenuhi dengan kenyataan yang sudah terwujud.

Kesimpulan

Dengan adanya KEM di Desa Bengkala itu, segala program kegiatan yang berlangsung kiranya akan menambah wawasan bagi warga kolok dari yang sebelumnya hanya merenungi nasibnya dengan mengandalkan kerja di sawah, namun dengan kehadiran KEM akan semakin membuka wawasannya dalam mengembangkan ide maupun gagasannya untuk semakin berdaya. Apabila masing-masing warga kolok baik individu maupun berkelompok untuk ditugaskan dalam mengerjakan segala kebutuhan KEM sehingga semakin ada usaha maka semakin ada kesempatan atau peluang untuk mendapatkan keuntungan dalam menjamin kehidupannya di masa yang akan datang. Dengan keberadaan KEM saat ini terlihat sudah sejalan dengan kebutuhan warga kolok. Namun tidak berhenti sebatas itu saja dibutuhkan penguasaan lapangan yang lebih mantap yang berpotensial menghasilkan bagi kesejahteraan warga kolok. Untuk itu perlu dikembangkan aspek kebudayaan melalui :

  • Yoga : Segala hal yang dikonsentrasikan dengan yoga menghasilkan kebugaran tubuh bagi pelakunya, setelah itu para kolok yang dilatih yoga itu dicari orang yang paling berkonsetrasi di bidang yoga itu untuk dijadikan gurunya sehingga itu dilakukan berulang-ulang untuk keturunan yang berkelanjutan.
  • Tentu gerakannya didasarkan atas buku ataupun modul yoga yang sedang tersusun untuk digunakan sebagai bahan ajar ketika salah satu warga kolok mengajarkan yoga selanjutnya.
  • Kamus kolok pun dibuat agar memudahkan para pengunjung untuk berkomunikasi dengan warga kolok sehingga mudah dalam penyampaian pembicaraan ataupun maksudnya. Serta bisa menjadi training central pembelajaran percakapan bagi warga kolok di dunia. Sehubungan dengan datangnya orang asing yang selalu berkunjung ke desa Bengkala dan ikuti program yoga di KEM Bengkala.
  • Cara sembahyang penting juga diajarkan guna meningkatkan intelejensianya dan spiritualitasnya, sehingga makin dipahaminya makna hidup dan kehidupan.
  • Demikianlah kesimpulannya diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh warga kolok Bengkala pada umumnya kelak, dan pembaca yang budiman, semoga ............

 

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, I Gede Rudia, dkk. 1984. Tattwa Darsana. Jakarta : Proyek Pembinaan Mutu
Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama RI.

Kamajaya, I Gede. 1998. Yoga Kundalini Cara Untuk Mencapai Siddhi dan Moksa.
Surabaya : Paramita.

Krishna, Anand. 2013. 108 Power Pills of Wisdom, 108 Pil Kuat Kebijaksanaan.
Indonesia : Anand Ashram Foundation.

Sedana, I Kadek Dwiputra. 2015. Skripsi. ”Interaksi Sosial, Masyarakat Multiculture Di
Desa Ekasari Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana. (Perspektif Pendidikan
Sradha dan Bhakti).” Denpasar : Fakultas Dharma Acarya, Institut Hindu Dharma
Negeri .

PUSTAKA LONTAR

Suarbhawa, I Gusti Made & I Nyoman Sunarya. 2004. Naskah Lontar Prasasti Bengkala
Kubutambahan, Buleleng. Denpasar : Salinan / Transliterasi Naskah.
Prasasti Bengkala ditemukan oleh Kaki Sawit tahun 1971 di tebing Sungai Aya.
Berupa 5 Lempeng tembaga dengan ukuran panjang 40 cm, lebar 9 cm dan tebal
2 mm. Terdiri atas 56 baris aksara Bali.

PUSTAKA INTERNET

https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_manusia
http://idipamekasan.blogspot.co.id/2011/04/pembentukan-pusat-intelegensia.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Zero_waste
https://en.wikipedia.org/wiki/Integrated_farming
http://mbahkarno.blogspot.co.id/2013/09/unsur-unsur-kebudayaan-beserta.html